Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Kebijakan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Petani Dan Nelayan

Posted by sugiartoagribisnis pada 1 Desember 2012

BAB I
PENDAHULUAN

 1.1. Latar Belakang

Menyongsong era globalisasi dan perdagangan bebas dunia yang tidak akan lama lagi diberlakukan untuk tingkat negara-negara di kawasan Asia Tenggara (AFTA) pada tahun 2003 dan untuk negara-negara di kawasan Asia Pasifik (APEC) pada tahun 2010, serta dunia (WTO) pada tahun 2020, Indonesia sebagai salah satu negara yang berdaulat harus memiliki kemampuan bersaing dan berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.

Globalisasi dalam arti liberalisasi perdagangan internasional menjanjikan berbagai dampak positif dalam mengatasi kesenjangan antara produksi dan konsumsi dunia, meningkatkan efisiensi ekonomi berdasarkan keunggulan komparatif, meredam variabilitas pasokan pangan, dan produksi global lebih ekonomis. Namun kenyataannya tidak selalu seperti yang diharapkan karena struktur pasar dunia yang tidak kompetitif dan proteksi justru dilakukan oleh negara-negara yang kuat (Widodo, 2001).

Pada era perdagangan bebas konsumen yang memiliki beragam kesukaan dan keingginan terhadap karasteristik produk yang harus selalu ditepati oleh produsen. Dengan demikian, maka komoditas yang akan dikembangkan diupayakan selalu mempertimbangkan aspek permintaannya. Indonesia tentunya diharapkan dapat mempertimbangkan perimintaan yang ersifat pasar lokal atau domestik (termasuk berkaitan dengan pengembangan subtitusi impor) dan pasar regional serta internasional. Sebagai negara yang membangun perekonomiannya bertumpu pada sektor pertanian, maka usaha yang dapat dilakukan dalam situasi perdagangan bebas tersebut adalah meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif bagi hasil-hasil pertanian dalam arti luas.

Sebagaimana telah menjadi kesepakatan global, bahwa salah satu persyaratan yang harus dipenuhi bagi komoditi tertentu dalam perdagangan saat ini dan masa mendatang adalah kecenderungan untuk mengkonsumsi barang yang ramah lingkungan dengan kewajiban mencantumkan dalam label produk (eco-labeling). Pencantuman label ramah lingkungan pada produk-produk yang diperdagangkan sebenarnya merupakan pengejawantahan dari etika bisnis karena pola interaksi binsnis akan mempengaruhi lingkungan hidup (Keraf, 1998 :31-53).

 

Selengkapnya dapat diunduh di sini.

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Pola Strategi dan Kebijakan dalam Membangun Keunggulan Kompetitif Agribisnis Jawa Timur

Posted by sugiartoagribisnis pada 1 Desember 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Era globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan oleh hampir seluruh negara di dunia. Dalam era ini, batas antar negara dalam ekonomi menjadi semakin nisbi sehingga dikotomi antara pasar domestik dan pasar dunia menjadi semakin tidak relevan. Globalisasi ekonomi ini mau tidak mau mendorong persaingan usaha yang semakin ketat. Ketatnya persaingan usaha ini menuntut setiap negara untuk dapat meningkatkan daya saing sebagai modal dasar dalam menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Salah satu pendekatan utama dalam mengatasi tantangan era globalisasi yang semakin dinamis adalah peningkatan daya saing di tingkat daerah sebagai dasar pertumbuhan nasional.

Daya saing daerah mempunyai arti yang sama dengan daya saing nasional. Suatu daerah yang mampu bersaing dengan daerah lain dalam memproduksi dan memasarkan barang dan jasanya disebut mempunyai daya saing tinggi. Sayangnya, peningkatan daya saing lebih mudah dikatakan daripada diwujudkan. Kebijakan domestik seringkali menjadi pisau bermata dua yang jika dimanfaatkan secara benar dapat meningkatkan daya saing. Sebaliknya, jika disalahgunakan akan dapat menghasilkan akibat yang bertolakbelakang.

Kebijakan otonomi daerah termasuk salah satu contoh jenis kebijakan domestik yang pelaksanaan seringkali masih dipandang dan dikelola dengan cara yang salah. Wewenang besar yang diperoleh daerah tidak jarang menyebabkan arogansi yang menghambat terjadinya koordinasi antar daerah, baik secara vertikal maupun horizontal, dalam rangka efisiensi penyediaan sarana publik. Padahal, implementasi kebijakan otonomi daerah berangkat dari suatu keyakinan bahwa kebijakan tersebut dapat memberikan ruang kebebasan kepada daerah untuk menyusun sendiri program-program kerja dan anggarannya sesuai dengan potensi, kebutuhan, dan kemampuan daerah. Dengan kewenangan yang dimiliki akan mendorong daerah untuk dapat memanfaatkan potensi masing-masing daerah yang tersedia secara optimal

Pembangunan sektor agribisnis tidak terlepas dari masalah dilematis di atas. Hal ini dikarenakan sektor agribisnis merupakan salah satu potensi besar yang dimiliki setiap daerah sehingga pengembangan sektor ini dijadikan sebagai upaya dalam pengembangan perekonomian daerah yang paling efektif. Namun, dampak negatif otonomi daerah dapat menghambat pengembangan sektor agribisnis bahkan dengan tingkat komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lain.

Dengan posisi sektor agribisnis yang dijadikan sebagai sektor unggulan (leading sector) dalam pertumbuhan daerah maka setiap daerah ditantang untuk dapat berbenah diri menghadapi era persaingan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi juga bersifat global dengan memberi lingkungan paling kondusif bagi pengembangan agribisnis. Oleh karena itu, setiap daerah memiliki strategi-strategi untuk membangun keunggulan kompetitif di sektor agribisnis untuk unggul di tingkat regional maupun internasional guna menunjukkan usaha yang paling kompetitif, yang dikenal dengan istilah dayasaing daerah.

Dalam membangun keunggulan kompetitif pada sektor agribisnis tentunya tidak terlepas dari kondisi ekonomi baik di level domestik, regional maupun global. Saat ini kondisi ekonomi global dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit yaitu krisis finansial yang melanda sektor perbankan kemudian menjalar pada capital market dan pada akhirnya berdampak pada sektor riil. Adanya krisis finansial yang melanda perekonomian dunia sudah tentu menuntut suatu negara menyusun kembali pemikiran, strategi dan implementasi. Krisis finansial global ini mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara-negara berada pada zona negatif. Baca entri selengkapnya »

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Kendala Pemasaran Produk Agribisnis

Posted by sugiartoagribisnis pada 30 Oktober 2011

Pemasaran dalam kegiatan pertanian dianggap memainkan peran ganda. Peran pertama merupakan peralihan harga antara produsen dengan konsumen. Peran kedua adalah transmisi fisik dari titik produksi (petani atau produsen) ke tempat pembelian (konsumen). Namun untuk memainkan kedua peran tersebut petani menghadapi berbagai kendala untuk memasarkan produk pertanian, khususnya bagi petani berskala kecil. Masalah utama yang dihadapi pada pemasaran produk pertanian meliputi, antara lain:

1. Kesinambungan produksi

Salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah pemasaran hasil petanian berhubungan dengan sifat dan ciri khas produk pertanian, yaitu: Pertama, volume produksi yang kecil karena diusahakan dengan skala usaha kecil (small scale farming). Pada umumnya petani melakukan kegiatan usaha tani dengan luas lahan yang sempit, yaitu kurang dari 0,5 ha. Di samping itu, teknologi yang digunakan masih sederhana dan belum dikelola secara intensif, sehingga produksinya belum optimal; Kedua, produksi bersifat musiman sehingga hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu. Kondisi tersebut mengakibatkan pada saat musim produksi yang dihasilkan melimpah sehingga harga jual produk tersebut cenderung menurun. Sebaliknya pada saat tidak musim produk yang tersedia terbatas dan harga jual melambung tinggi, sehingga pedagang-pedagang pengumpul harus menyediakan modal yang cukup besar untuk membeli produk tersebut. Bahkan pada saat-saat tertentu produk tersebut tidak tersedia sehingga perlu didatangkan dari daerah lain; Ketiga, lokasi usaha tani yang terpencar-pencar sehingga menyulitkan dalam proses pengumpulan produksi. Hal ini disebabkan karena letak lokasi usaha tani antara satu petani dengan petani lain berjauhan dan mereka selalu berusaha untuk mencari lokasi penanaman yang sesuai dengan keadaan tanah dan iklim yang cocok untuk tanaman yang diusahakan. Kondisi tersebut menyulitkan pedagang pengumpul dalam hal pengumpulan dan pengangkutan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan produk yang dihasilkan petani. Kondisi tersebut akan memperbesar biaya pemasaran; Keempat, sifat produk pertanian yang mudah rusak, berat dan memerlukan banyak tempat. Hal ini menyebabkan ada pedagang-pedagang tertentu yang tidak mampu menjual produk pertanian, karena secara ekonomis lebih menguntungkan menjual produk industri (agroindustri).

2. Kurang memadainya pasar

Kurang memadainya pasar yang dimaksud berhubungan dengan cara penetapan harga dan pembayaran. Ada tiga cara penetapan harga jual produk pertanian yaitu: sesuai dengan harga yang berlaku; tawar-menawar; dan borongan. Pemasaran sesuai dengan harga yang berlaku tergantung pada penawaran dan permintaan yang mengikuti mekanisme pasar. Penetapan harga melalui tawar-menawar lebih bersifat kekeluargaan, apabila tercapai kesepakatan antara penjual dan pembeli maka transaksi terlaksana. Praktek pemasaran dengan cara borongan terjadi karena keadaan keuangan petani yang masih lemah. Cara ini terjadi melalui pedagang perantara. Pedagang perantara ini membeli produk dengan jalan memberikan uang muka kepada petani. Hal ini dilakukan sebagai jaminan terhadap produk yang diingini pedagang bersangkutan, sehingga petani tidak berkesempatan untuk menjualnya kepada pedagang lain.

3. Panjangnya saluran pemasaran

Panjangnya saluran pemasaran menyebabkan besarnya biaya yang dikeluarkan (marjin pemasaran yang tinggi) serta ada bagian yang dikeluarkan sebagai keuntungan pedagang. Hal tersebut cenderung memperkecil bagian yang diterima petani dan memperbesar biaya yang dibayarkan konsumen. Panjang pendeknya saluran pemasaran ditandai dengan jumlah pedagang perantara yang harus dilalui mulai dari petani sampai ke konsumen akhir. Baca entri selengkapnya »

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Problem Ketahanan Pangan dan Nasib Petani

Posted by sugiartoagribisnis pada 24 April 2011

Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia sering dikejutkan dengan berita banyaknya anakanak yang menderita gizi buruk atau bahkan busung lapar di beberapa wilayah. Sebagai contoh, 66.685 anak di Nusa Tenggara Timur (Kompas, 7/6/2005), sekitar 49.000 anak di Nusa Tenggara Barat (Kompas, 4/6/2005), 425 anak di Boyolali (Kompas, 7/6/2005), 11.368 anak di Sumba Barat (Kompas, 16/6/2005), dan masih banyak lagi, menderita gizi buruk yang sangat memprihatinkan, dan sebagian dari mereka meninggal dunia karena orangtuanya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Dan berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh Food and Agricultural Organization (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan. Kenapa hal ini sampai terjadi? Padahal, Indonesia dikenal dengan negeri yang subur dan makmur.

Sebelum melihat persoalan dibalik gizi buruk dan busung lapar, ada baiknya dilihat dulu definisi dari “ketahanan pangan”. Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Dalam UU ini, ketahanan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia.

Bandingkan definisi ini dengan pengertian food security (ketahanan pangan) yang tertera dalam Rome Declaration and World Food Summit Plan of Action, yaitu “food security exists when all people, at all times, have access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary needs for an active and healthy life”. Dalam definisi ini, sangat jelas bahwa ketahanan pangan harus dimiliki oleh setiap individu (all people), tidak saja yang berada dalam kesatuan rumah tangga (seperti yang disebutkan dalam UU no. 7 th 1996). Untuk konteks Indonesia, definisi ini bisa mencakup para gelandangan, anak jalanan, orang miskin kota yang hidup dibawah jembatan, di perkampungan kumuh, dan orang yang hidup menyendiri. Jadi, definisi yang diberikan oleh Rome Declaration adalah lebih sesuai untuk menjamin hak asasi rakyat untuk mendapatkan pangan yang layak, daripada definisi yang diberikan UU no.7 th 1996.

Ketersediaan Pangan

Terjadinya rawan pangan diakibatkan oleh tidak terpenuhinya target ketersediaan pangan bagi rakyat. Hal ini bisa dilihat dari jumlah produksi beras nasional. Produksi gabah pada tahun 2004 adalah sebesar 54,06 juta ton (BPS, 2004). Dengan asumsi produksi sebesar 55 %, maka akan dihasilkan 29,733 juta ton beras. Apabila menggunakan asumsi kebutuhan beras rakyat Indonesia adalah 133 kg perkapita, maka beras yang dibutuhkan untuk 220 juta penduduk adalah 29,26 juta ton per tahun. Tentunya, berdasarkan produksi gabah pada tahun 2004, bisa dikatakan bahwa kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia dapat tercukupi dengan baik. Bahkan perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa seluruh penduduk memakan nasi, padahal masih ada yang memakan jagung, ketela, sagu, atau kacang-kacangan. Tetapi, fakta menunjukkan lain. Sepanjang awal 2005 kasus gizi buruk dan busung lapar bermunculan. Bahkan diyakini, masih banyak rakyat yang menderita busung lapar, tetapi tidak sempat terekpose oleh media massa. Ada apa dibalik ketersediaan pangan ini?

Pangan (beras, kedelai, jagung, ketela, dll) di Indonesia, tidak serta merta disediakan oleh pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (BULOG). Tetapi, petani (hampir 60 % dari seluruh penduduk) yang telah bersusah-payah menyediakan pangan tersebut. Ironisnya, sebagai produsen pangan, petani juga sekaligus menjadi korban dari rawan pangan. Apabila dilihat dari kasus yang terjadi di NTT, NTB, Sumba, dll, maka sebagian besar korban adalah petani miskin yang hidup di pedesaan.

Ternyata, 56,5 % dari 25,4 juta keluarga petani yang ada di Indonesia adalah petani gurem, yang memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha (BPS, 2003). Padahal, untuk sekedar survive petani minimal harus memiliki lahan 1 Ha. Maka tidak heran, bahwa hampir 60 % dari petani Indonesia adalah masuk dalam kategori miskin (pendapatan di bawah $US 2 per hari). Bagaimana mungkin, petani yang miskin akan menjadi penyangga utama penyedia pangan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Dari analisa ini, maka ada 2 hal yang harus menjadi perhatian utama pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat. Pertama, petani sebagai produsen pangan harus dijamin kesejahteraannya. Hal ini sangat penting untuk memotivasi kinerja petani agar secara sungguh-sungguh mewujudkan ketersediaan pangan. Petani akan enggan menanam padi misalnya, kalau hal itu tidak akan memberikan keuntungan bagi mereka.

Kedua, kalau dilihat dari perhitungan diatas, ternyata produksi pangan mencukupi, tetapi busung lapar masih terjadi, maka masalahnya adalah distribusi. Peta produksi pangan (wilayah surplus dan minus) secara akurat harus dimiliki oleh pemerintah, untuk memastikan pendistribusiannya ke berbagai tempat yang kekurangan. Disini sebenarnya fungsi BULOG harus dijalankan dengan sesungguhnya.

Solusi dari Rawan Pangan

Untuk menjamin kesejahteraan petani dan distribusi pangan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Pertama, agenda land reform yang diamanatkan oleh Undang-undang Pokok Agraria no. 5 tahun 1960, dan dikuatkan dengan TAP MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, harus segera dilaksanakan. Hal ini untuk menjamin bahwa petani bisa memperoleh lahan yang layak untuk produksi pangan.

Kedua, karena banyak petani yang hanya memiliki lahan sempit, maka perlu dibangun corporate farming. Dalam konsep ini, petani-petani kecil akan bergabung dalam satuan areal yang luas untuk memproduksi pangan secara bersama-sama. Hal ini akan menjadikan proses produksi lebih efektif dan efisien waktu, biaya dan tenaga. Disamping itu, petani juga bisa melakukan bargaining dengan pembeli (tengkulak), karena mereka menjualnya dalam jumlah yang banyak secara kolektif.

Ketiga, pemerintah harus bisa menjamin akses pasar dan modal bagi petani. Seringkali, kedua hal tersebut menjadi kendala bagi petani untuk melangsungkan proses produksinya. Akses modal akan menjamin selesainya proses produksinya dengan baik, sedangkan akses pasar akan menjamin harga yang layak bagi petani.

Keempat, sebenarnya fungsi BULOG sebagai pengaman ketersediaan pangan adalah sangat strategis. Hanya saja, BULOG tidak berhubungan langsung dengan petani, tetapi menggunakan perantara kontraktor sebagai pemasok gabah dengan berbagai persyaratannya. Hal ini menimbulkan lemahnya akses petani terhadap program pengadaan pangan BULOG. Dan akhirnya, yang menikmati keuntungan tetap saja para pedagang besar. Disisi lain, BULOG kadangkala melakukan impor beras, dimana produksi petani cukup berlimpah. Tentunya, harga gabah di petani menjadi jatuh, yang kemudiandimanfaatkan oleh pedagang untuk keperluan memenuhi kebutuhan BULOG. Dalam hal ini, sebagai BUMN, BULOG harus secara tegas memposisikan diri sebagai mitra petani untuk pemenuhan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, keragaman pangan yang dimiliki oleh rakyat, sebaiknya dipelihara dengan baik. Keragaman pangan akan membantu petani untuk bebas menentukan jenis tanaman pangan yang akan ditanamnya. Disisi lain, keragaman pangan juga akan mempermudah rakyat untuk mencari alternatif pangan, apabila pangan pokoknya sedang langka. Tentunya, hal ini akan lebih menjamin berkurangnya kelaparan yang diderita oleh rakyat. Apalagi, saat ini dibeberapa kota besar, masyarakat sudah mulai terbiasa dengan tidak makan nasi, tetapi menggantinya dengan roti, mie, atau sayuran.

Jadi, dengan melakukan kelima hal diatas, pemerintah bisa menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat melalui peningkatan kesejahteraan petani dan pendistribusian pangan secara merata. Tentunya, bangsa ini tidak ingin melihat gizi buruk dan busung lapar akan berlarut-larut menjadi masalah yang berkepanjangan.

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

AGRIBISNIS HOLTIKULTURA : Fokus Bahasan Pada Sayuran Bayam (Amaranthus spp.)

Posted by sugiartoagribisnis pada 24 April 2011

Budidaya Bayam

Bayam (Amaranthus spp.) merupakan sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral, dapat tumbuh sepanjang tahun pada ketinggian sampai dengan 1000 m dpl dengan pengairan secukupnya.

Terdapat 3 jenis sayuran bayam, yaitu:

  1. Bayam cabut, batangnya berwarna merah juga ada berwarna hijau keputih-putihan.
  2. Bayam petik, pertumbuhannya lebih tegak serta berdaun lebar, warna daun hijau tua dan ada yang berwarna kemerah-merahan.
  3. Bayam yang biasa dicabut dan juga dapat dipetik. Jenis bayam ini tumbuh tegak, berdaun besar berwarna hijau keabu-abuan.
  • Teknologi Budidaya

1.     Benih

Bayam dikembangkan melalui biji. Biji bayam yang dijadikan benih harus cukup tua (+ 3  bulan).  Benih  yang  muda , daya simpannya tidak lama dan tingkat perkecambahannya rendah. Benih  bayam  yang  tua  dapat disimpan selama satu tahun

2.     Persiapan Lahan

Lahan dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur. Selanjutnya buat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan 30 cm.

3.     Pemupukan

Setelah bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam berikan pupuk dasar (pupuk kandang kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter tambahkan Urea 150 kg/ha (15 g/m2) diaduk dengan air dan disiramkan kepada tanaman pada sore hari 10 hari setelah penaburan benih, jika perlu berikan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 2 minggu setelah penaburan benih.

4.     Penanaman/Penaburan Benih

Dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  1. Ditebar langsung di atas bedengan, yaitu biji dicampur dengan pupuk kandang yang telah dihancurkan dan ditebar secara merata di atas bedengan.
  2. Ditebar pada larikan/barisan dengan jarak 10-15 cm, kemudian ditutup dengan lapisan tanah.
  3. Disemai setelah tumbuh (sekitar 10 hari) bibit dibumbun dan dipelihara selama + 3 minggu. Selanjutnya dipindahkan ke bedengan dengan jarak tanam 50 x 30 cm. Biasanya untuk bayam petik.

5.     Pemeliharaan

Bayam yang jarang terserang penyakit (yang ditularkan melalui tanah), adalah bayam cabut. Bayam dapat berproduksi dengan baik asalkan kesuburan tanahnya selalu dipertahankan, misalnya dengan pemupukan organik yang teratur dan kecukupan air, untuk tanaman muda (sampai satu minggu setelah tanam) membutuhkan air 4 l/m2/hari dan menjelang dewasa tanaman ini membutuhkan air sekitar 8 l/m2/hari.

6.     Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Jenis hama yang sering menyerang tanaman bayam diantaranya ulat daun, kutu daun, penggorok daun dan belalang. Penyakit yang sering dijumpai adalah rebah kecambah (Rhizoctonia solani) dan penyakit karat putih (Albugo sp.). Untuk pengendalian OPT gunakan pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran

  • Panen.

Bayam cabut biasanya dipanen apabila tinggi tanaman kira-kira 20 cm, yaitu pada umur 3 sampai dengan 4 minggu setelah tanam. Tanaman ini dapat dicabut dengan akarnya ataupun dipotong pangkalnya. Sedangkan bayam petik biasanya mulai dapat dipanen pada umur 1 sampai dengan 1,5 bulan dengan interval pemetikan seminggu sekali.

  • Pasca Panen

Tempatkan bayam baru panen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin untuk menjaga kesegarannya.

  • Pemasaran

Untuk proses pemasaran bayam di sini dibahas berdasarkan hasil wawancara dengan pedagang sayur di Pasar Kamal Kabupaten Bangkalan.

Dalam Pemasaran bayam yang dilakukan oleh pedagang sayur di Pasar Kamal terdapat fungsi pemasaran sebagai berikut :

a.      Pembelian

Untuk pembelian yang dilakukan oleh pedagang sayur di Pasar Kamal adalah dari tengkulak besar atau bisa disebut agen di Pasar Keputran Surabaya. Harga belinya adalah Rp. 600/ikat.Hal in dilakukan karena di sekitar Kamal-Bangkalan tidak ada yang membudidayakan bayam untuk jenis bayam cabut ini. Selain itu kendala cuacajuga berpengaruh.

b.      Penjualan

Penjualan yang dilakukan oleh pedagang sayur di Pasar Kamal yaitu dengan ditata di stand dan menunggu pembeli datang. Adapun harga jualnya adalah Rp.1000/ikat.

c.       Pembiayaan

Pembiayaan dalam pemasaran yang dilakukan hanya terbatas pada biaya pajak tempat pendirian stand. Ini dikarenakan tidak adanya promosi ataupun periklanan yang menyedot dana seperti pada barang-barang industri ataupun pada tingkat pedagang besar yang pemasarannya lebih tertata rapi.

d.      Risiko

Adapun risiko yang dihadapi oleh pedagang pedagang sayur di Pasar Kamal adalah kerusakan sayur bayam tersebut apabila tidak cepat laku. Ini seperti kita ketahui bersama bahwa komoditas pertanian memilki karakteristik yang mudah rusak. Hal lain juga dipengaruhi oleh cuaca. Di mana pada saat hujan volume penjualan sangat sedikit karena konsumen enggan membeli ke pasar.

Regulasi Pemerintah Tentang Sayur Bayam

Regulasi pemerintah sebenarnya tidak ada yang spesifik tentang sayur bayam. Namun hanya ada beberapa aturan tentang sayuran secara umum, di antaranya :

  1. Undang- Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482);
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4196);
  3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18/ PERMENTAN/ OT.140/ 2/ 2008, Tentang Persyaratan Dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Ketiga Peraturan Pemerintah di atas kemudian menjadi landasan terbentunya “KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN” Nomor : 208 / Kpts / HK.030/L/6/.2008 tentang “Persyaratan dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia”.

Adapun tujuan regulasi itu adalah mencegah masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina dari luar negeri kedalam wilayah Negara Republik Indonesia melalui pemasukan tumbuhan hidup berupa sayuran umbi lapis segar.

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Problematika Ketahanan Pangan di Indonesia

Posted by sugiartoagribisnis pada 24 April 2011

I. PENDAHULUAN

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Pangan adalah salah satu kebutuhan manusia, dan pangan juga merupakan salah satu hak dasar manusia. Dengan terpenuhinya pangan untuk setiap individu maka dipastikan akan menghasilkan SDM yang berkualitas.

Pemenuhan kebutuhan akan pangan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk, hal ini justru menjadi sebuah permasalahan yang harus kita antisipasi dengan cepat. Kerawanan pangan akan menjadi sebuah malapetaka dan masalah bagi sebuah negara. Oleh karena itu kerawanan pangan ini menjadi sebuah isu hangat yang akan terus dicarikan solusi dan alternatifnya.

Pertanian adalah salah satu sektor yang harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. Sebagai negara agraris, Indonesia harus dapat memajukan pertaniannya untuk kesejahteraan rakyatnya. Pertanian menjadi sangat penting dan krusial disaat terjadi kekurangan pangan di beberapa daerah di Indonesia. Pertanian yang notabene adalah sebagai penghasil pangan, haruslah dikelola dengan sebaik-baiknya, maka peran penyuluh pertanian sangat perlu untuk memajukan pertanian di Indonesia.

Permasalahan pangan akan selalu menjadi kajian utama seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini sesuai dengan pendapat atau hukum Malthus yang mengatakan bahwa “laju pertumbuhan penduduk akan lebih tinggi dibandingkan dengan laju produksi pangan”.

Tidak  jarang  masalah  pangan  ini  menjadi  pemicu  terjadinya  konflik  sosial  pada  skala  kecil sampai  pada  skala  besar.  Begitu  pentingnya  peranan  pangan  di  dalam  kehidupan masyarakat  suatu bangsa, sehingga kondisi dan proses pemenuhannya menjadi masalah yang sangat peka.

Sejarah  membuktikan,  kejatuhan  pemerintah  orde  lama,  bukan  hanya  diakibatkan  oleh kakacauan politik. Tapi juga dipicu oleh kelangkaan beras sebagai sumber pangan utama rakyat. Ketika itu, di mana-mana selalu tampak antrean rakyat untuk memperoleh jatah beras. Indonesia sudah mulai tercatat sebagai importir beras terbesar di dunia.

II. PEMBAHASAN

A.    Ketahanan Pangan

Pangan  merupakan  salah  satu  kebutuhan  dasar  manusia  yang  paling  asasi.  Kecukupan, aksesibilitas dan kualitas pangan yang dapat dikonsumsi seluruh warga masyarakat, merupakan ukuran-ukuran  penting  untuk  melihat  seberapa  besar  daya  tahan  bangsa  terhadap  setiap  ancaman  yang dihadapi.  Kekurangan  pangan  akan  menimbulkan  dampak  yang  luas  di  berbagai  bidang,  dan  dapat mengarah kepada instabilitas negara.

Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Dalam UU ini, ketahanan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia.

Ketahanan   pangan   berarti   kondisi   pemenuhan   kebutuhan pangan bagi   rumah  tangga  yang  tercermin dari  ketersediaan pangan yang cukup,  baik jumlah dan mutunya,  aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan   hal   yang   sangat   penting   dan   strategis,   mengingat   pangan   merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi  cukup memadai   tetapi  mengalami  kehancuran karena  tidak mampu memenuhi kebutuhan   pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai  pertahanan musuh.

B.     Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia Dewasa InI

     1.      Impor

  • Pasca Krisis Ekonomi Sampai Tahun 2003

Sejak krisis ekonomi hingga sekarang, kemampuan Indonesia  untuk memenuhi sendiri kebutuhan pangan bagi penduduk terus menurun. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi lebih dari 210 juta jiwa, dalam periode 1997-2003, Indonesia harus mengimpor bahan pangan diantaranya beras rata-rata 2 juta ton,  kedelai 900 ribu ton, gula pasir 1,6 juta ton, jagung 1 juta ton, garam  sebesar 1,2 juta ton dan menghabiskan devisa negara 900 juta dolar AS pada tahun 2003 (Tabel 1).

Tabel 1. Volume dan Nilai Impor beberapa bahan pangan tahun 2003

Komoditas

Volume Impor  rata-rata-rata 1997-2002 (ton)

Volume Impor thn 2003 ( ton)

Nilai Impor rata-rata 1997-2002 (juta dolar AS)

Nilai Impor tahun 2003 (juta dolar AS)

Beras

2 024 384

1 428 433

586

414

Kedelai

903 615

921 000

229

275.5

Gula

1 557 259

618 678

418

85.31

Garam

1 300 000

1 700 000

49

55

    2.      Produksi

Produksi beras mengalami penurunan dalam 1997-2002, kemudian meningkat kembali. (Tabel 2). Produksi beras pada tahun 2003 sebesar 31.2 juta ton. Produksi kedelai menurun sangat tajam dengan rata-rata penurunan sekitar 25%, akibat menurunnya luas areal pertanaman kedelai. Produksi kedelai pada tahun 2003 berjumlah 671 ribu ton. Produksi gula cenderung stagnan pada level 1,7 juta ribu ton. Produksi garam cenderung menurun hanya mencapai 300 000 ton pada tahun 2003. Baca entri selengkapnya »

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Penanganan Pasca Panen Dan Pengolahan Jagung

Posted by sugiartoagribisnis pada 24 April 2011

Gambaran Umum

Jagung merupakan komoditas penting dalam industri pangan, kimia maupun industri manufaktur. Di  Indonesia jagung juga merupakan  makanan pokok utama yang memiliki kedudukan penting setelah beras.  Usaha pengembangan jagung nasional harus didukung oleh industri pascapanen sehingga mampu menciptakan keuntungan yang sebenarnya secara bisnis.  Salah satunya adalah dengan membuat produk olahan berbasis jagung yang mempunyai umur simpan yang lama.

Kegiatan pascapanen merupakan bagian integral dari pengembangan agribisnis, yang dimulai dari aspek produksi bahan mentah sampai pemasaran produk akhir. Peran kegiatan pascapanen menjadi sangat penting, karena merupakan salah satu sub-sistem agribisnis yang mempunyai peluang besar dalam upaya meningkatkan nilai tambah produk agribisnis. Dibanding dengan produk segar, produk olahan mampu memberikan nilai tambah yang sangat besar. Daya saing komoditas Indonesia masih lemah, karena selama ini hanya mengandalkan keunggulan komparatif dengan kelimpahan sumberdaya alam dan tenaga kerja tak terdidik, sehingga produk yang dihasilkan didominasi oleh produk primer.

Pemanfaatan teknologi pengolahan jagung berpeluang meningkatkan nilai komoditas jagung tidak hanya sebagai sumber pakan tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang bernilai ekonomi seperti pop-corn, tepung jagung, pati jagung dan minyak jagung. Pascapanen jagung selama ini masih dkerjakan secara tradisional. Dengan teknologi yang ada (existing technology), maka diperlukan investasi teknologi baik untuk pengolahan jagung di sektor hulu maupun hilir. Untuk pengembangan industri pati jagung, dibutuhkan investasi mencapai Rp 80-160 miliar.

Keberhasilan pengembangan jagung kini tidak hanya ditentukan oleh tingginya produktivitas saja namun juga melibatkan kualitas dari produk itu sendiri. Agar komoditas tersebut mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif. Agar dihasilkan mutu jagung yang baik maka tehnik pasca panennya pun harus lebih diperhatikan dan ditangani lebih baik.

Proses Pasca Panen Jagung

Penanganan pasca panen jagung di antaranya meliputi :

  1. Pemipilan dengan tangan
  2. Pemipilan dengan mesin
  3. Penjemuran jagung setelah dipipil
  4. Proses sortasi dan grading
  5. Penyimpanan jagung pipilan yang sudah disortir
  6. Pengiriman Jagung pipilan untuk di ekspor
  7. Pengolahan jagung

Penanganan pasca panen secara garis besar dapat meningkatkan daya gunanya sehingga lebih bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mempertahankan kesegaran atau mengawetkannya dalam bentuk asli maupun olahan sehingga dapat tersedia sepanjang waktu sampai ke tangan konsumen dalam kondisi yang dikehendaki konsumen. Persyaratan mutu jagung untuk perdaganagn menurut SNI dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu persyaratan kualitatif dan persyaratan kuantitatif.

Persyaratan kualitatif meliputi :

  1. Produk harus terbebas dari hama dan penyakit
  2. Produk terbebas dari bau busuk maupun zat kimia lainnya (berupa asam)
  3. Produk harus terbebas dari bahan dan sisa-sisa pupuk maupun pestisida
  4. Memiliki suhu normal Baca entri selengkapnya »

Posted in Agriculture and Business | 2 Comments »

Strategi Ketahanan Beras di Indonesia

Posted by sugiartoagribisnis pada 24 April 2011

I. PENDAHULUAN

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia. Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi jutaan rumah tangga pertanian. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika campur tangan pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya peningkatan produksi dan stabilitas harga beras.

Kecukupan pangan (terutama beras) dengan harga yang terjangkau telah menjadi tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian. Kekurangan pangan bisa menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas nasional.  Berbagai kebijakan untuk meningkatkan produksi padi, seperti: pembangunan sarana irigasi, subsidi benih, pupuk, dan pestisida, kredit usahatani bersubsidi, dan pembinaan kelembagaan usahatani telah ditempuh. Demikian juga dalam pemasaran hasil, pemerintah mengeluarkan kebijakan harga dasar gabah (HDG) atau harga dasar pembelian pemerintah (HDPP), untuk melindungi petani dari jatuhnya harga dibawah biaya produksi. Sementara itu, kebijakan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat, dan agar harga beras terjangkau oleh sebagian besar konsumen. Secara umum, selama lebih dari tiga dekade produksi beras dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan. Dengan  kata lain, Indonesia hampir selalu defisit, sehingga masih tergantung pada impor.

Kondisi defisit beras diperburuk oleh konversi lahan subur (sawah irigasi dan tadah hujan) yang terus berlangsung di Jawa, sehingga pertumbuhan produksi padi cenderung menurun.  Data statistik menunjukkan bahwa 95 persen dari produksi padi nasional berasal dari lahan sawah. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan sektor industri dan perumahan menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan untuk perumahan dan areal pabrik.

Ke depan harus ada upaya untuk tetap meningkatkan produksi padi, meskipun  konversi lahan sawah subur (terutama di Jawa) sulit dicegah. Secara spesifik, tulisan ini mencoba merancang alternatif strategi kebijakan dan program peningkatan produksi padi dalam upaya peningkatan produksi padi nasional.

II.PEMBAHASAN

A.    Langkah Strategis

Beberapa langkah strategis untuk mencapai sasaran di atas adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan komoditas padi.
  2. Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan (minimum setara dengan laju pertumbuhan penduduk) melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi.
  3. Merenovasi dan memperluas infrastruktur fisik dengan merehabilitasi jaringan irigasi lama dan membangun jaringan irigasi baru untuk pengembangan lahan sawah di luar Jawa serta membuka lahan pertanian baru, khususnya lahan kering di Luar Jawa.
  4. Menahan laju konversi lahan sawah di Jawa melalui penetapan ”lahan abadi” untuk usaha pertanian.
  5. Mempercepat penemuan teknologi benih/bibit unggul untuk peningkatan produktivitas, teknologi panen untuk mengurangi kehilangan hasil, dan teknologi pasca panen serta pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah.
  6. Memberikan subsidi sarana produksi untuk usaha primer sekaligus memberikan proteksi terhadap komoditas padi.
  7. Merevitalisasi sistem penyuluhan dan kelembagan petani untuk mempercepat difusi adopsi teknologi yang mampu meningkatkan produksi dan pendapatan petani.
  8. Mengembangkan sistem pemasaran hasil pertanian yang mampu mendistribusikan produk dan return/keuntungan secara efisien dan adil.
  9. Mengembangkan sistem pembiayaan pertanian, termasuk keuangan mikro pedesaan untuk meningkatkan aksesibilitas petani atas sumber permodalan/pembiayaan pertanian.
  10. Memberikan insentif berinvestasi di sektor pertanian, khususnya di luar Jawa, termasuk menyederhanakan proses perizinan investasi di sektor pertanian.

B.     Program Implementasi

  1. Ekstensifikasi atau perluasan lahan (140.000 Ha/tahun)

Ekstensifikasi lahan ditujukan untuk memperluas lahan produksi pertanian, terutama padi sehingga produksi beras secara nasional yang sekarang dapat ditingkatkan. Lahan yang diperluas diperuntukkan bagi petani miskin (< 0.1 Ha), tetapi memiliki keahlian/pengalaman bertani. Perluasan dilakukan di propinsi yang luas dan kaya seperti Kalimantan, Jambi, Irian Jaya dan Sumatra Selatan. Koordinator program ini adalah Departemen Pertanian didukung Depertemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Departemen Kehutanan dan Perkebunan serta Pemda.

2. Intensifikasi

Program ini diarahkan untuk peningkatan produksi melalui peningkatan produktifitas padi. Intensifikasi ditujukan pada lahan-lahan pertanian subur dan produktif yang sudah merupakan daerah lumbung padi seperti Kerawang, Subang dan daerah pantura lainya di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan propinsi lainnya. Penekanan program ini pada peningkatan pertanaman (dari 1 menjadi 2, dari 2 kali menjadi 3 kali ) dan ketepatan masa tanam didukung oleh adanya peralatan pertanian, kebutuhan air (jaringan irigasi baru), pupuk dan benih serta pengendalian hama penyakit terpadu.

Peningkatan produktifitas padi 10% per 5 tahun dapat mempercepat terwujudnya swasembada beras .

3.  Revitalisasi  Pasca Panen dan Pengolahan

Revitalisasi/restrukturisasi industri pasca panen dan pengolahan diarahkan pada 1) penekanan kehilangan hasil dan penurunan mutu karena teknologi penanganan pasca panen yang kurang baik, 2) pencegahan bahan baku dari kerusakan dan 3) pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi dan produk pangan.

Kegiatan yang dilakukan adalah implementasi alat mesin dan teknologi pasca panen yang efektif dan efisien ; perontokan dan pengeringan pada tingkat petani, pengumpul, KUD dan usaha jasa pelayanan alsin pasca panen di sentra produksi

4. Revitalisasi dan Restrukturisasi Kelembagaan

Keberadaan, peran dan fungsi kelembagaan seperti kelompok tani, UKM, Koperasi perlu direvitalisasi dan restrukturisasi untuk mendukung pembangunan kemandirian beras

5. Kebijakan Makro

Kebijakan dalam bidang pangan khususnya beras perlu ditelaah dan dikaji kembali khususnya yang mendorong tercapainya ketahanan pangan dalam waktu 1-5 tahun.  Beberapa hal yang perlu dikaji seperti pajak produk pangan, retribusi, tarif bea masuk, iklim investasi, dan penggunaan produksi dalam negeri serta kredit usaha.

Koordinator program ini adalah Departemen Keuangan dibantu oleh Departemen terkait dan Pemda.  Masukan dapat diperluas dari swasta, lembaga petani dan koperasi.  Alokasi dana diperlukan untuk rapat koordinasi dan penyusunan kebijakan antar instansi.

DAFTAR PUSTAKA

Asqolani, H. 2006.  Problem Ketahanan Pangan dan Nasib Petani. [online]. http://www. student.unimaas.nl/c.ascholani/Problem%20Ketahanan%20Pangan%20dan%20Nasib%20Petani.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2011.

Soekartawi. 1986.  Ilmu Usahatani Dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Penerbit UI-Press. Jakarta.

Posted in Agriculture and Business | 1 Comment »

BUDIDAYA TANAMAN PADI DENGAN TEKNOLOGI MiG-6 PLUS

Posted by sugiartoagribisnis pada 16 Februari 2011

1. SEJARAH SINGKAT
Padi merupakan  tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.

2. JENIS TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monotyledonae

Keluarga : Gramineae (Poaceae)

Genus : Oryza

Spesies : Oryza spp.

Terdapat 25 spesies      Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan. Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi),

Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120 (dataran rendah). Varitas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah).

3. MANFAAT TANAMAN

Beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan Negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia. Selain itu jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tani.

4. SENTRA PENANAMAN

Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi nasional dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti. Produksi padi nasional sampai Desember 1997 adalah 46.591.874 ton yang meliputi areal panen 9.881.764 ha. Karena pemeliharaan yang kurang intensif, hasil padi gogo hanya 1-3 ton/ha, sedangkan dengan kultur teknis yang baik hasil padi sawah mencapai 6-7 ton/ha. Baca entri selengkapnya »

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Analisis Penyebab Banjir di Lingkungan Kampus Universitas Trunojoyo Madura, PengaruhnyaTerhadap Kenyaman dan Aktivitas Belajar Mahasiswa serta Solusi Penanggulangannya

Posted by sugiartoagribisnis pada 16 Februari 2011

BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Kenyaman belajar adalah suatu kondisi di mana peserta didik merasa nyaman dengan suasana belajar mengajar. Kenyaman belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan faktor yang berasal dari lingkungan, sementara faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik.

Faktor lingkungan  dan hal-hal lain yang berada di luar diri peserta didik sangat berpengaruh positif terhadap kenyamanan belajar yang dijalaninya. Keadaan keluarga, kondisi tempat belajar (sekolah ataupun kampus), sarana penunjang dan lingkungan masyarakat adalah beberapa faktor eksternal yang yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar. (http://www.anneahira.com)

Keadaan ataupun ketersediaan tenaga pengajar, kurikulum, fasilitas belajar di Universitas Trunojoyo Madura sepertinya sudah tersedia dan terprogram dengan cukup baik. Akan tetapi lingkugan kampus secara umum tampaknya masih terdapat hal-hal yang mengganggu aktivitas dan kenyamanan belajar mahasiswa.

Salah satu hal yang mengganggu aktivitas dan kenyamanan belajar mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura adalah keadaan kampus yang selalu banjir setiap kali hujan. Setiap kali hujan deras, keadaan kampus Universitas Trunojoyo Madura terdapat banyak genangan air di sana-sini. Jalan di depan kampus dipenuhi air sampai terlihat seperti sungai. Tidak ketinggalan pula jalan menuju Fakultas Pertanian tepatnya di sebelah barat lapangan besket Taruna Jaya menjadi jalan paling menyebalkan karena genangan airnya cukup banyak dan kotor. Selain itu, tempat lain seperti jalan menuju RKB, jalan di depan perpustakaan dan titik-titik lainnya juga terdapat genangan air yang membuat keadaan kampus menjadi becek dan kotor. Dengan keadaan yang becek dan kotor membuat aktivitas mahasiswa dikampus terganggu.

 

1.2.  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana  lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir berpengaruh terhadap kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa ?
  2. Apa permasalahan utama yang menyebabkan kampus Universitas Trunojoyo Madura selalu banjir sehingga mempengaruhi kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa ?
  3. Bagaimana perhatian pihak terkait terhadap fenomena kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir dan mengganggu kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa ?
  4. Bagaimana solusi untuk memperbaiki lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir sehingga memberikan kenyaman terhadap  aktivitas belajar mahasiswa ?

1.3. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir terhadap kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa.
  2. Untuk mengetahui permasalahan utama yang menyebabkan kampus Universitas Trunojoyo Madura selalu banjir sehingga memepengaruhi kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa.
  3. Untuk mengetahui perhatian pihak terkait terhadap fenomena kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir dan mengganggu kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa.
  4. Untuk mengetahui solusi guna memperbaiki lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir sehingga memberikan kenyaman terhadap  aktivitas belajar mahasiswa. Baca entri selengkapnya »

Posted in Education | 3 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.