Problematika Ketahanan Pangan di Indonesia
Posted by sugiartoagribisnis pada 24 April 2011
I. PENDAHULUAN
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Pangan adalah salah satu kebutuhan manusia, dan pangan juga merupakan salah satu hak dasar manusia. Dengan terpenuhinya pangan untuk setiap individu maka dipastikan akan menghasilkan SDM yang berkualitas.
Pemenuhan kebutuhan akan pangan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk, hal ini justru menjadi sebuah permasalahan yang harus kita antisipasi dengan cepat. Kerawanan pangan akan menjadi sebuah malapetaka dan masalah bagi sebuah negara. Oleh karena itu kerawanan pangan ini menjadi sebuah isu hangat yang akan terus dicarikan solusi dan alternatifnya.
Pertanian adalah salah satu sektor yang harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. Sebagai negara agraris, Indonesia harus dapat memajukan pertaniannya untuk kesejahteraan rakyatnya. Pertanian menjadi sangat penting dan krusial disaat terjadi kekurangan pangan di beberapa daerah di Indonesia. Pertanian yang notabene adalah sebagai penghasil pangan, haruslah dikelola dengan sebaik-baiknya, maka peran penyuluh pertanian sangat perlu untuk memajukan pertanian di Indonesia.
Permasalahan pangan akan selalu menjadi kajian utama seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini sesuai dengan pendapat atau hukum Malthus yang mengatakan bahwa “laju pertumbuhan penduduk akan lebih tinggi dibandingkan dengan laju produksi pangan”.
Tidak jarang masalah pangan ini menjadi pemicu terjadinya konflik sosial pada skala kecil sampai pada skala besar. Begitu pentingnya peranan pangan di dalam kehidupan masyarakat suatu bangsa, sehingga kondisi dan proses pemenuhannya menjadi masalah yang sangat peka.
Sejarah membuktikan, kejatuhan pemerintah orde lama, bukan hanya diakibatkan oleh kakacauan politik. Tapi juga dipicu oleh kelangkaan beras sebagai sumber pangan utama rakyat. Ketika itu, di mana-mana selalu tampak antrean rakyat untuk memperoleh jatah beras. Indonesia sudah mulai tercatat sebagai importir beras terbesar di dunia.
II. PEMBAHASAN
A. Ketahanan Pangan
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling asasi. Kecukupan, aksesibilitas dan kualitas pangan yang dapat dikonsumsi seluruh warga masyarakat, merupakan ukuran-ukuran penting untuk melihat seberapa besar daya tahan bangsa terhadap setiap ancaman yang dihadapi. Kekurangan pangan akan menimbulkan dampak yang luas di berbagai bidang, dan dapat mengarah kepada instabilitas negara.
Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Dalam UU ini, ketahanan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia.
Ketahanan pangan berarti kondisi pemenuhan kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah dan mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dan strategis, mengingat pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh.
B. Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia Dewasa InI
1. Impor
- Pasca Krisis Ekonomi Sampai Tahun 2003
Sejak krisis ekonomi hingga sekarang, kemampuan Indonesia untuk memenuhi sendiri kebutuhan pangan bagi penduduk terus menurun. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi lebih dari 210 juta jiwa, dalam periode 1997-2003, Indonesia harus mengimpor bahan pangan diantaranya beras rata-rata 2 juta ton, kedelai 900 ribu ton, gula pasir 1,6 juta ton, jagung 1 juta ton, garam sebesar 1,2 juta ton dan menghabiskan devisa negara 900 juta dolar AS pada tahun 2003 (Tabel 1).
Tabel 1. Volume dan Nilai Impor beberapa bahan pangan tahun 2003
|
Komoditas |
Volume Impor rata-rata-rata 1997-2002 (ton) |
Volume Impor thn 2003 ( ton) |
Nilai Impor rata-rata 1997-2002 (juta dolar AS) |
Nilai Impor tahun 2003 (juta dolar AS) |
| Beras |
2 024 384 |
1 428 433 |
586 |
414 |
|
Kedelai |
903 615 |
921 000 |
229 |
275.5 |
| Gula |
1 557 259 |
618 678 |
418 |
85.31 |
| Garam |
1 300 000 |
1 700 000 |
49 |
55 |
2. Produksi
Produksi beras mengalami penurunan dalam 1997-2002, kemudian meningkat kembali. (Tabel 2). Produksi beras pada tahun 2003 sebesar 31.2 juta ton. Produksi kedelai menurun sangat tajam dengan rata-rata penurunan sekitar 25%, akibat menurunnya luas areal pertanaman kedelai. Produksi kedelai pada tahun 2003 berjumlah 671 ribu ton. Produksi gula cenderung stagnan pada level 1,7 juta ribu ton. Produksi garam cenderung menurun hanya mencapai 300 000 ton pada tahun 2003.
Tabel 2. Produksi beberapa bahan pangan tahun 2003
|
Komoditi |
Produksi Rata-rata (000 ton) |
Pertumbuhan (%) |
||
|
1999-2002 |
2003 |
1999-2002 |
2003 terhadap 2002 |
|
| Beras |
30.294 |
31.200 |
-1.15 |
2.92 |
| Kedelai |
712 |
672 |
-25.15 |
-0.09 |
| Gula |
1.692 |
1.681 |
3.73 |
-1.16 |
| Garam |
700 |
350 |
-25 |
-10 |
3. Konsumsi
Di sisi lain kebutuhan pangan cenderung meningkat 2,5-4% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan beras, kedelai, gula dan garam pada tahun 2003 masing-masing berjumlah 33,4 juta ton, 1,95 juta ton, 3 juta ton, dan 2,05 juta ton.
Tabel 3. Kebutuhan beberapa bahan pangan tahun 2003
|
Komoditi |
Kebutuhan (000 ton) |
Pertumbuhan |
||
|
2002 |
2003 |
ton |
% |
|
| Beras |
32.158 |
33.372 |
1.214 |
3.78 |
| Kedelai |
1.901 |
1.951 |
50 |
2,6 |
| Gula |
2.883 |
3.000 |
117 |
4 |
| Garam |
2.000 |
2.050 |
50 |
2,5 |
Melihat data produksi dan kebutuhan pangan pada tahun 2003 terlihat bahwa terjadi defisit untuk keempat jenis komoditas pangan tersebut, beras sejumlah 1, 6 juta ton, kedelai 1,3 juta ton, gula 1,32 juta ton dan garam sejumlah 1,7 juta ton. Defisit pangan ini diatasi dengan cara mengimpor . Kecuali untuk beras, persentase impor pangan lainnya terhadap produksi sangat mengkhawatirkan berkisar 30-70%.
- Setelah Tahun 2003-Sekarang
Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan oleh Presiden RI tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat mengamanatkan bangsa ini perlu membangun ketahahanan pangan yang mantap dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk lima komoditas pangan strategis, yaitu padi, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi.
Sebagai gambaran umum, pada tahun 2004, untuk komoditas padi, kita mampu melepaskan diri dari impor, malah berdasarkan angka perkiraan kita sudah surplus dua juta ton berupa stok di masyarakat (rumah tangga dan pedagang) dan pemerintah (Bulog); sedangkan untuk empat komoditas lainnya masih tergantung dari impor. Secara kuantitas, impor jagung, kedelai, gula, dan daging sapi masing-masing sebesar 11,23 persen; 64,86 persen; 37,48 persen dan 29,09 persen dari kebutuhan.
Namun, di balik itu ternyata ada sebuah fakta yang mencengangkan. Yaitu masih adanya penduduk Indonesia yang kelaparan. Sebagai contoh, 66.685 anak di Nusa Tenggara Timur (Kompas, 7/6/2005), sekitar 49.000 anak di Nusa Tenggara Barat (Kompas, 4/6/2005), 425 anak di Boyolali (Kompas, 7/6/2005), 11.368 anak di Sumba Barat (Kompas, 16/6/2005), dan masih banyak lagi, menderita gizi buruk yang sangat memprihatinkan, dan sebagian dari mereka meninggal dunia karena orangtuanya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Dan berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh Food and Agricultural Organization (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan.
Permasalahan terbaru timbul setelah kita menyatakan bahwa sudah bisa berswasembada beras pada tahun 2008. Anomali cuaca yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ternyata berdampak buruk terhadap produksi dan produktivitas bahan pangan. Kondisi pertanian saat ini jauh dari kata menggembirakan. Terjadinya cuaca yang tidak menentu saat ini menyebabkan sejumlah tanaman pertanian mengalami banyak gagal tanam, hingga gagal panen. Disamping itu, serangan hama terhadap sejumlah tanaman pertanian membuat petani semakin tak berdaya. Ditambah lagi dengan adanya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, ataupun gunung meletus dapat merugikan bahkan dapat mengurangi produksi pertanian.
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
- Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling asasi.
- Ketahanan pangan berarti kondisi pemenuhan kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah dan mutunya, aman, merata dan terjangkau.
- Kondisi ketahanan angan di Indonesia pasca krisis ekonomi sampai Tahun 2003 yaitu produksi nasional tidak mencukupi konsumsi sehingga harus impor.
- Setelah Tahun 2003-sekarang Indonesia dapat berswasembada beras, tetapi secara realita masih banyak masalah kerawanan pangan seperti kelaparan.
B. Saran
- Sebaiknya pemerintah mengoptimalkan potensi pertanian dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan pangan.
- Ada pemerataan distribusi pangan agar tidak terjadi lagi kasus kelaparan di beberap daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1996. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Jakarta: Kantor Menteri Negara Pangan RI.
Asqolani, H. 2006. Problem Ketahanan Pangan dan Nasib Petani. [online]. http://www. student.unimaas.nl/c.ascholani/Problem%20Ketahanan%20Pangan%20dan%20Nasib%20Petani.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2011.
