<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sugiarto&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 06:40:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sugiartoagribisnis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/be2f7f1ad3ead11f160449de031e44e6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Sugiarto&#039;s Blog</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/osd.xml" title="Sugiarto&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kendala Pemasaran Produk Agribisnis</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/10/30/kendala-pemasaran-produk-agribisnis/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/10/30/kendala-pemasaran-produk-agribisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 05:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Pemasaran dalam kegiatan pertanian dianggap memainkan peran ganda. Peran pertama merupakan peralihan harga antara produsen dengan konsumen. Peran kedua adalah transmisi fisik dari titik produksi (petani atau produsen) ke tempat pembelian (konsumen). Namun untuk memainkan kedua peran tersebut petani menghadapi berbagai kendala untuk memasarkan produk pertanian, khususnya bagi petani berskala kecil. Masalah utama yang dihadapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=593&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemasaran dalam kegiatan pertanian dianggap memainkan peran ganda. Peran pertama merupakan peralihan harga antara produsen dengan konsumen. Peran kedua adalah transmisi fisik dari titik produksi (petani atau produsen) ke tempat pembelian (konsumen). Namun untuk memainkan kedua peran tersebut petani menghadapi berbagai kendala untuk memasarkan produk pertanian, khususnya bagi petani berskala kecil. Masalah utama yang dihadapi pada pemasaran produk pertanian meliputi, antara lain:</p>
<p><strong>1. Kesinambungan produksi</strong></p>
<p>Salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah pemasaran hasil petanian berhubungan dengan sifat dan ciri khas produk pertanian, yaitu: <strong>Pertama</strong>, volume produksi yang kecil karena diusahakan dengan skala usaha kecil (<em>small scale farming</em>). Pada umumnya petani melakukan kegiatan usaha tani dengan luas lahan yang sempit, yaitu kurang dari 0,5 ha. Di samping itu, teknologi yang digunakan masih sederhana dan belum dikelola secara intensif, sehingga produksinya belum optimal; <strong>Kedua</strong>, produksi bersifat musiman sehingga hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu. Kondisi tersebut mengakibatkan pada saat musim produksi yang dihasilkan melimpah sehingga harga jual produk tersebut cenderung menurun. Sebaliknya pada saat tidak musim produk yang tersedia terbatas dan harga jual melambung tinggi, sehingga pedagang-pedagang pengumpul harus menyediakan modal yang cukup besar untuk membeli produk tersebut. Bahkan pada saat-saat tertentu produk tersebut tidak tersedia sehingga perlu didatangkan dari daerah lain; <strong>Ketiga</strong>, lokasi usaha tani yang terpencar-pencar sehingga menyulitkan dalam proses pengumpulan produksi. Hal ini disebabkan karena letak lokasi usaha tani antara satu petani dengan petani lain berjauhan dan mereka selalu berusaha untuk mencari lokasi penanaman yang sesuai dengan keadaan tanah dan iklim yang cocok untuk tanaman yang diusahakan. Kondisi tersebut menyulitkan pedagang pengumpul dalam hal pengumpulan dan pengangkutan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan produk yang dihasilkan petani. Kondisi tersebut akan memperbesar biaya pemasaran; <strong>Keempat</strong>, sifat produk pertanian yang mudah rusak, berat dan memerlukan banyak tempat. Hal ini menyebabkan ada pedagang-pedagang tertentu yang tidak mampu menjual produk pertanian, karena secara ekonomis lebih menguntungkan menjual produk industri (agroindustri).</p>
<p><strong>2. Kurang memadainya pasar</strong></p>
<p>Kurang memadainya pasar yang dimaksud berhubungan dengan cara penetapan harga dan pembayaran. Ada tiga cara penetapan harga jual produk pertanian yaitu: sesuai dengan harga yang berlaku; tawar-menawar; dan borongan. Pemasaran sesuai dengan harga yang berlaku tergantung pada penawaran dan permintaan yang mengikuti mekanisme pasar. Penetapan harga melalui tawar-menawar lebih bersifat kekeluargaan, apabila tercapai kesepakatan antara penjual dan pembeli maka transaksi terlaksana. Praktek pemasaran dengan cara borongan terjadi karena keadaan keuangan petani yang masih lemah. Cara ini terjadi melalui pedagang perantara. Pedagang perantara ini membeli produk dengan jalan memberikan uang muka kepada petani. Hal ini dilakukan sebagai jaminan terhadap produk yang diingini pedagang bersangkutan, sehingga petani tidak berkesempatan untuk menjualnya kepada pedagang lain.</p>
<p><strong>3. Panjangnya saluran pemasaran</strong></p>
<p>Panjangnya saluran pemasaran menyebabkan besarnya biaya yang dikeluarkan (marjin pemasaran yang tinggi) serta ada bagian yang dikeluarkan sebagai keuntungan pedagang. Hal tersebut cenderung memperkecil bagian yang diterima petani dan memperbesar biaya yang dibayarkan konsumen. Panjang pendeknya saluran pemasaran ditandai dengan jumlah pedagang perantara yang harus dilalui mulai dari petani sampai ke konsumen akhir.<span id="more-593"></span></p>
<p><strong>4. Rendahnya kemampuan tawar-menawar</strong></p>
<p>Kemampuan petani dalam penawaran produk yang dihasilkan masih terbatas karena keterbatasan modal yang dimiliki, sehingga ada kecenderungan produk-produk yang dihasilkan dijual dengan harga yang rendah. Berdasarkan keadaan tersebut, maka yang meraih keuntungan besar pada umumnya adalah pihak pedagang. Keterbatasan modal tersebut berhubungan dengan: <strong>Pertama</strong>, sikap mental petani yang suka mendapatkan pinjaman kepada tengkulak dan pedagang perantara. Hal ini menyebabkan tingkat ketergantungan petani yang tinggi pada pedagang perantara, sehingga petani selalu berada dalam posisi yang lemah; <strong>Kedua</strong>, fasilitas perkreditan yang disediakan pemerintah belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Ada beberapa faktor yang menyebabkannya antara lain belum tahu tentang prosedur pinjaman, letak lembaga perkreditan yang jauh dari tempat tinggal, tidak mampu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Di samping itu khawatir terhadap risiko dan ketidakpastian selama proses produksi sehingga pada waktunya tidak mampu mengembalikan kredit. Ini menunjukkan pengetahuan dan pemahaman petani tentang masalah perkreditan masih terbatas, serta tingkat kepercayaan petani yang masih rendah.</p>
<p><strong>5. Berfluktuasinya harga</strong></p>
<p>Harga produksi hasil pertanian yang selalu berfluktuasi tergantung dari perubahan yang terjadi pada permintaan dan penawaran. Naik turunnya harga dapat terjadi dalam jangka pendek yaitu per bulan, per minggu bahkan per hari atau dapat pula terjadi dalam jangka panjang. Untuk komoditas pertanian yang cepat rusak seperti sayur-sayuran dan buah-buahan pengaruh perubahan permintaan pasar kadang-kadang sangat menyolok sekali sehingga harga yang berlaku berubah dengan cepat. Hal ini dapat diamati perubahan harga pasar yang berbeda pada pagi, siang dan sore hari. Pada saat musim produk melimpah harga rendah, sebaliknya pada saat tidak musim harga meningkat drastis. Keadaan tersebut menyebabkan petani sulit dalam melakukan perencanaan produksi, begitu juga dengan pedagang sulit dalam memperkirakan permintaan.</p>
<p><strong>6. Kurang tersedianya informasi pasar</strong></p>
<p>Informasi pasar merupakan faktor yang menentukan apa yang diproduksi, di mana, mengapa, bagaimana dan untuk siapa produk dijual dengan keuntungan terbaik. Oleh sebab itu informasi pasar yang tepat dapat mengurangi resiko usaha sehingga pedagang dapat beroperasi dengan margin pemasaran yang rendah dan memberikan keuntungan bagi pedagang itu sendiri, produsen dan konsumen. Keterbatasan informasi pasar terkait dengan letak lokasi usaha tani yang terpencil, pengetahuan dan kemampuan dalam menganalisis data yang masih kurang dan lain sebagainya. Di samping itu, dengan pendidikan formal masyarakat khususnya petani masih sangat rendah menyebabkan kemampuan untuk mencerna atau menganalisis sumber informasi sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan usaha tani dilakukan tanpa melalui perencanaan yang matang. Begitu pula pedagang tidak mengetahui kondisi pasar dengan baik, terutama kondisi makro.</p>
<p><strong>7. Kurang jelasnya jaringan pemasaran</strong></p>
<p>Produsen dan/atau pedagang dari daerah sulit untuk menembus jaringan pemasaran yang ada di daerah lain karena pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan pemasaran tersebut dan tempat kegiatan berlangsung tidak diketahui. Di samping itu, tidak diketahui pula aturan-aturan yang berlaku dalam sistem tersebut. Hal ini menyebabkan produksi yang dihasilkan mengalami hambatan dalam hal perluasan jaringan pemasaran. Pada umumnya suatu jaringan pemasaran yang ada antara produsen dan pedagang memiliki suatu kesepakatan yang membentuk suatu ikatan yang kuat. Kesepakatan tersebut merupakan suatu rahasia tidak tertulis yang sulit untuk diketahui oleh pihak lain.</p>
<p><strong>8. Rendahnya kualitas produksi</strong></p>
<p>Rendahnya kualitas produk yang dihasilkan karena penanganan yang dilakukan belum intensif. Masalah mutu ini timbul karena penanganan kegiatan mulai dari prapanen sampai dengan panen yang belum dilakukan dengan baik. Masalah mutu produk yang dihasilkan juga ditentukan pada kegiatan pascapanen, seperti melalui standarisasi dan <em>grading</em>. Standarisasi dapat memperlancar proses muat-bongkar dan menghemat ruangan. <em>Grading</em> dapat menghilangkan keperluan inspeksi, memudahkan perbandingan harga, mengurangi praktek kecurangan, dan mempercepat terjadinya proses jual beli. Dengan demikian kedua kegiatan tersebut dapat melindungi barang dari kerusakan, di samping itu juga mengurangi biaya angkut dan biaya penyimpanan. Namun demikian kedua kegiatan tersebut sulit dilakukan untuk produksi hasil pertanian yang cepat rusak. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi antara lain mutu produk dapat berubah setelah berada di tempat tujuan, susut dan/atau rusak karena pengangkutan, penanganan dan penyimpanan. Hal ini menyebabkan produk yang sebelumnya telah diklasifikasikan berdasarkan mutu tertentu sesuai dengan permintaan dapat berubah sehingga dapat saja ditolak atau dibeli dengan harga yang lebih murah.</p>
<p><strong>9. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia</strong></p>
<p>Masalah pemasaran yang tak kalah pentingnya adalah rendahnya mutu sumberdaya manusia, khususnya di daerah pedesaan. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini tidak pula didukung oleh fasilitas pelatihan yang memadai, sehingga penanganan produk mulai dari prapanen sampai ke pascapanen dan pemasaran tidak dilakukan dengan baik. Di samping itu, pembinaan petani selama ini lebih banyak kepada praktek budidaya dan belum mengarah kepada praktek pemasaran. Hal ini menyebabkan pengetahuan petani tentang pemasaran tetap saja kuarang, sehingga subsistem pemasaran menjadi yang paling lemah dan perlu dibangun dalam sistem agribisnis (Syahza. A, 2002a). Kondisi yang hampir sama juga terjadi di perkotaan, yaitu kemampuan para pedagang perantara juga masih terbatas. Hal ini dapat diamati dari kemampuan melakukan negosiasi dengan mitra dagang dan mitra usaha yang bertaraf modern (swalayan, supermarket, restoran, hotel) masih langka. Padahal pasar modern merupakan peluang produk pertanian yang sangat bagus karena memberikan nilai tambah yang tinggi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/593/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=593&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/10/30/kendala-pemasaran-produk-agribisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Problem Ketahanan Pangan dan Nasib Petani</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/problem-ketahanan-pangan-dan-nasib-petani/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/problem-ketahanan-pangan-dan-nasib-petani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 07:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia sering dikejutkan dengan berita banyaknya anakanak yang menderita gizi buruk atau bahkan busung lapar di beberapa wilayah. Sebagai contoh, 66.685 anak di Nusa Tenggara Timur (Kompas, 7/6/2005), sekitar 49.000 anak di Nusa Tenggara Barat (Kompas, 4/6/2005), 425 anak di Boyolali (Kompas, 7/6/2005), 11.368 anak di Sumba Barat (Kompas, 16/6/2005), dan masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=554&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia sering dikejutkan dengan berita banyaknya anakanak yang menderita gizi buruk atau bahkan busung lapar di beberapa wilayah. Sebagai contoh, 66.685 anak di Nusa Tenggara Timur (Kompas, 7/6/2005), sekitar 49.000 anak di Nusa Tenggara Barat (Kompas, 4/6/2005), 425 anak di Boyolali (Kompas, 7/6/2005), 11.368 anak di Sumba Barat (Kompas, 16/6/2005), dan masih banyak lagi, menderita gizi buruk yang sangat memprihatinkan, dan sebagian dari mereka meninggal dunia karena orangtuanya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Dan berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh Food and Agricultural Organization (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan. Kenapa hal ini sampai terjadi? Padahal, Indonesia dikenal dengan negeri yang subur dan makmur.</p>
<p>Sebelum melihat persoalan dibalik gizi buruk dan busung lapar, ada baiknya dilihat dulu definisi dari “ketahanan pangan”. Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Dalam UU ini, ketahanan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia.</p>
<p>Bandingkan definisi ini dengan pengertian food security (ketahanan pangan) yang tertera dalam <em>Rome Declaration and World Food Summit Plan of Action, yaitu “food security exists when all people, at all times, have access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary needs for an active and healthy life”.</em> Dalam definisi ini, sangat jelas bahwa ketahanan pangan harus dimiliki oleh setiap individu (all people), tidak saja yang berada dalam kesatuan rumah tangga (seperti yang disebutkan dalam UU no. 7 th 1996). Untuk konteks Indonesia, definisi ini bisa mencakup para gelandangan, anak jalanan, orang miskin kota yang hidup dibawah jembatan, di perkampungan kumuh, dan orang yang hidup menyendiri. Jadi, definisi yang diberikan oleh <em>Rome Declaration</em> adalah lebih sesuai untuk menjamin hak asasi rakyat untuk mendapatkan pangan yang layak, daripada definisi yang diberikan UU no.7 th 1996.</p>
<p><strong>Ketersediaan Pangan</strong></p>
<p>Terjadinya rawan pangan diakibatkan oleh tidak terpenuhinya target ketersediaan pangan bagi rakyat. Hal ini bisa dilihat dari jumlah produksi beras nasional. Produksi gabah pada tahun 2004 adalah sebesar 54,06 juta ton (BPS, 2004). Dengan asumsi produksi sebesar 55 %, maka akan dihasilkan 29,733 juta ton beras. Apabila menggunakan asumsi kebutuhan beras rakyat Indonesia adalah 133 kg perkapita, maka beras yang dibutuhkan untuk 220 juta penduduk adalah 29,26 juta ton per tahun. Tentunya, berdasarkan produksi gabah pada tahun 2004, bisa dikatakan bahwa kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia dapat tercukupi dengan baik. Bahkan perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa seluruh penduduk memakan nasi, padahal masih ada yang memakan jagung, ketela, sagu, atau kacang-kacangan. Tetapi, fakta menunjukkan lain. Sepanjang awal 2005 kasus gizi buruk dan busung lapar bermunculan. Bahkan diyakini, masih banyak rakyat yang menderita busung lapar, tetapi tidak sempat terekpose oleh media massa. Ada apa dibalik ketersediaan pangan ini?</p>
<p>Pangan (beras, kedelai, jagung, ketela, dll) di Indonesia, tidak serta merta disediakan oleh pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (BULOG). Tetapi, petani (hampir 60 % dari seluruh penduduk) yang telah bersusah-payah menyediakan pangan tersebut. Ironisnya, sebagai produsen pangan, petani juga sekaligus menjadi korban dari rawan pangan. Apabila dilihat dari kasus yang terjadi di NTT, NTB, Sumba, dll, maka sebagian besar korban adalah petani miskin yang hidup di pedesaan.</p>
<p>Ternyata, 56,5 % dari 25,4 juta keluarga petani yang ada di Indonesia adalah petani gurem, yang memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha (BPS, 2003). Padahal, untuk sekedar survive petani minimal harus memiliki lahan 1 Ha. Maka tidak heran, bahwa hampir 60 % dari petani Indonesia adalah masuk dalam kategori miskin (pendapatan di bawah $US 2 per hari). Bagaimana mungkin, petani yang miskin akan menjadi penyangga utama penyedia pangan untuk seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Dari analisa ini, maka ada 2 hal yang harus menjadi perhatian utama pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat. <em>Pertama</em>, petani sebagai produsen pangan harus dijamin kesejahteraannya. Hal ini sangat penting untuk memotivasi kinerja petani agar secara sungguh-sungguh mewujudkan ketersediaan pangan. Petani akan enggan menanam padi misalnya, kalau hal itu tidak akan memberikan keuntungan bagi mereka.</p>
<p><em>Kedua</em>, kalau dilihat dari perhitungan diatas, ternyata produksi pangan mencukupi, tetapi busung lapar masih terjadi, maka masalahnya adalah distribusi. Peta produksi pangan (wilayah surplus dan minus) secara akurat harus dimiliki oleh pemerintah, untuk memastikan pendistribusiannya ke berbagai tempat yang kekurangan. Disini sebenarnya fungsi BULOG harus dijalankan dengan sesungguhnya.</p>
<p><strong>Solusi dari Rawan Pangan</strong></p>
<p>Untuk menjamin kesejahteraan petani dan distribusi pangan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah. <em>Pertama</em>, agenda land reform yang diamanatkan oleh Undang-undang Pokok Agraria no. 5 tahun 1960, dan dikuatkan dengan TAP MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, harus segera dilaksanakan. Hal ini untuk menjamin bahwa petani bisa memperoleh lahan yang layak untuk produksi pangan. <em></em></p>
<p><em>Kedua</em>, karena banyak petani yang hanya memiliki lahan sempit, maka perlu dibangun <em>corporate farming</em>. Dalam konsep ini, petani-petani kecil akan bergabung dalam satuan areal yang luas untuk memproduksi pangan secara bersama-sama. Hal ini akan menjadikan proses produksi lebih efektif dan efisien waktu, biaya dan tenaga. Disamping itu, petani juga bisa melakukan bargaining dengan pembeli (tengkulak), karena mereka menjualnya dalam jumlah yang banyak secara kolektif.</p>
<p><em>Ketiga</em>, pemerintah harus bisa menjamin akses pasar dan modal bagi petani. Seringkali, kedua hal tersebut menjadi kendala bagi petani untuk melangsungkan proses produksinya. Akses modal akan menjamin selesainya proses produksinya dengan baik, sedangkan akses pasar akan menjamin harga yang layak bagi petani.</p>
<p><em>Keempat</em>, sebenarnya fungsi BULOG sebagai pengaman ketersediaan pangan adalah sangat strategis. Hanya saja, BULOG tidak berhubungan langsung dengan petani, tetapi menggunakan perantara kontraktor sebagai pemasok gabah dengan berbagai persyaratannya. Hal ini menimbulkan lemahnya akses petani terhadap program pengadaan pangan BULOG. Dan akhirnya, yang menikmati keuntungan tetap saja para pedagang besar. Disisi lain, BULOG kadangkala melakukan impor beras, dimana produksi petani cukup berlimpah. Tentunya, harga gabah di petani menjadi jatuh, yang kemudiandimanfaatkan oleh pedagang untuk keperluan memenuhi kebutuhan BULOG. Dalam hal ini, sebagai BUMN, BULOG harus secara tegas memposisikan diri sebagai mitra petani untuk pemenuhan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p><em>Kelima</em>, keragaman pangan yang dimiliki oleh rakyat, sebaiknya dipelihara dengan baik. Keragaman pangan akan membantu petani untuk bebas menentukan jenis tanaman pangan yang akan ditanamnya. Disisi lain, keragaman pangan juga akan mempermudah rakyat untuk mencari alternatif pangan, apabila pangan pokoknya sedang langka. Tentunya, hal ini akan lebih menjamin berkurangnya kelaparan yang diderita oleh rakyat. Apalagi, saat ini dibeberapa kota besar, masyarakat sudah mulai terbiasa dengan tidak makan nasi, tetapi menggantinya dengan roti, mie, atau sayuran.</p>
<p>Jadi, dengan melakukan kelima hal diatas, pemerintah bisa menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat melalui peningkatan kesejahteraan petani dan pendistribusian pangan secara merata. Tentunya, bangsa ini tidak ingin melihat gizi buruk dan busung lapar akan berlarut-larut menjadi masalah yang berkepanjangan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=554&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/problem-ketahanan-pangan-dan-nasib-petani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AGRIBISNIS HOLTIKULTURA : Fokus Bahasan Pada Sayuran Bayam (Amaranthus spp.)</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/agribisnis-holtikultura-fokus-bahasan-pada-sayuran-bayam-amaranthus-spp/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/agribisnis-holtikultura-fokus-bahasan-pada-sayuran-bayam-amaranthus-spp/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 07:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Budidaya Bayam Bayam (Amaranthus spp.) merupakan sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral, dapat tumbuh sepanjang tahun pada ketinggian sampai dengan 1000 m dpl dengan pengairan secukupnya. Terdapat 3 jenis sayuran bayam, yaitu: Bayam cabut, batangnya berwarna merah juga ada berwarna hijau keputih-putihan. Bayam petik, pertumbuhannya lebih tegak serta berdaun lebar, warna daun hijau tua dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=551&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budidaya Bayam </strong></p>
<p>Bayam (<em>Amaranthus</em> spp.)<strong> </strong>merupakan sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral, dapat tumbuh sepanjang tahun pada ketinggian sampai dengan 1000 m dpl dengan pengairan secukupnya.</p>
<p>Terdapat 3 jenis sayuran bayam, yaitu:</p>
<ol start="1">
<li>Bayam cabut, batangnya berwarna merah juga ada berwarna hijau keputih-putihan.</li>
<li>Bayam petik, pertumbuhannya lebih tegak serta berdaun lebar, warna daun hijau tua dan ada yang berwarna kemerah-merahan.</li>
<li>Bayam yang biasa dicabut dan juga dapat dipetik. Jenis bayam ini tumbuh tegak, berdaun besar berwarna hijau keabu-abuan.</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Teknologi Budidaya </strong></li>
</ul>
<p>1.     Benih</p>
<p>Bayam dikembangkan melalui biji. Biji bayam yang dijadikan benih harus cukup tua (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 3  bulan).  Benih  yang  muda , daya simpannya tidak lama dan tingkat perkecambahannya rendah. Benih  bayam  yang  tua  dapat disimpan selama satu tahun</p>
<p>2.     Persiapan Lahan</p>
<p>Lahan dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur. Selanjutnya buat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan 30 cm.</p>
<p>3.     Pemupukan</p>
<p>Setelah bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam berikan pupuk dasar (pupuk kandang kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m<sup>2</sup>. Sebagai starter tambahkan Urea 150 kg/ha (15 g/m<sup>2</sup>) diaduk dengan air dan disiramkan kepada tanaman pada sore hari 10 hari setelah penaburan benih, jika perlu berikan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m<sup>2</sup>) pada umur 2 minggu setelah penaburan benih.</p>
<p>4.     Penanaman/Penaburan Benih</p>
<p>Dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:</p>
<ol start="1">
<li>Ditebar langsung di atas bedengan, yaitu biji dicampur dengan pupuk kandang yang telah dihancurkan dan ditebar secara merata di atas bedengan.</li>
<li>Ditebar pada larikan/barisan dengan jarak 10-15 cm, kemudian ditutup dengan lapisan tanah.</li>
<li>Disemai setelah tumbuh (sekitar 10 hari) bibit dibumbun dan dipelihara selama <span style="text-decoration:underline;">+</span> 3 minggu. Selanjutnya dipindahkan ke bedengan dengan jarak tanam 50 x 30 cm. Biasanya untuk bayam petik.</li>
</ol>
<p>5.     Pemeliharaan</p>
<p>Bayam yang jarang terserang penyakit (yang ditularkan melalui tanah), adalah bayam cabut. Bayam dapat berproduksi dengan baik asalkan kesuburan tanahnya selalu dipertahankan, misalnya dengan pemupukan organik yang teratur dan kecukupan air, untuk tanaman muda (sampai satu minggu setelah tanam) membutuhkan air 4 l/m<sup>2</sup>/hari dan menjelang dewasa tanaman ini membutuhkan air sekitar 8 l/m<sup>2</sup>/hari.</p>
<p>6.     Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)</p>
<p>Jenis hama yang sering menyerang tanaman bayam diantaranya ulat daun, kutu daun, penggorok daun dan belalang. Penyakit yang sering dijumpai adalah rebah kecambah (<em>Rhizoctonia solani</em>) dan penyakit karat putih (<em>Albugo</em> sp.). Untuk pengendalian OPT gunakan pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.</p>
<p><strong>Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran</strong></p>
<ul>
<li><strong>Panen.</strong></li>
</ul>
<p>Bayam cabut biasanya dipanen apabila tinggi tanaman kira-kira 20 cm, yaitu pada umur 3 sampai dengan 4 minggu setelah tanam. Tanaman ini dapat dicabut dengan akarnya ataupun dipotong pangkalnya. Sedangkan bayam petik biasanya mulai dapat dipanen pada umur 1 sampai dengan 1,5 bulan dengan interval pemetikan seminggu sekali.</p>
<ul>
<li><strong>Pasca Panen</strong></li>
</ul>
<p>Tempatkan bayam baru panen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin untuk menjaga kesegarannya.</p>
<ul>
<li><strong>Pemasaran</strong></li>
</ul>
<p>Untuk proses pemasaran bayam di sini dibahas berdasarkan hasil wawancara dengan pedagang sayur di Pasar Kamal Kabupaten Bangkalan.</p>
<p>Dalam Pemasaran bayam yang dilakukan oleh pedagang sayur di Pasar Kamal terdapat fungsi pemasaran sebagai berikut :</p>
<p><strong>a.      </strong><strong>Pembelian</strong></p>
<p>Untuk pembelian yang dilakukan oleh pedagang sayur di Pasar Kamal adalah dari tengkulak besar atau bisa disebut agen di Pasar Keputran Surabaya. Harga belinya adalah Rp. 600/ikat.Hal in dilakukan karena di sekitar Kamal-Bangkalan tidak ada yang membudidayakan bayam untuk jenis bayam cabut ini. Selain itu kendala cuacajuga berpengaruh.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>Penjualan</strong><strong></strong></p>
<p>Penjualan yang dilakukan oleh pedagang sayur di Pasar Kamal yaitu dengan ditata di stand dan menunggu pembeli datang. Adapun harga jualnya adalah Rp.1000/ikat.</p>
<p><strong>c.       </strong><strong>Pembiayaan</strong></p>
<p>Pembiayaan dalam pemasaran yang dilakukan hanya terbatas pada biaya pajak tempat pendirian stand. Ini dikarenakan tidak adanya promosi ataupun periklanan yang menyedot dana seperti pada barang-barang industri ataupun pada tingkat pedagang besar yang pemasarannya lebih tertata rapi.</p>
<p><strong>d.      </strong><strong>Risiko</strong></p>
<p>Adapun risiko yang dihadapi oleh pedagang pedagang sayur di Pasar Kamal adalah kerusakan sayur bayam tersebut apabila tidak cepat laku. Ini seperti kita ketahui bersama bahwa komoditas pertanian memilki karakteristik yang mudah rusak. Hal lain juga dipengaruhi oleh cuaca. Di mana pada saat hujan volume penjualan sangat sedikit karena konsumen enggan membeli ke pasar.</p>
<p><strong>Regulasi Pemerintah Tentang Sayur Bayam</strong></p>
<p>Regulasi pemerintah sebenarnya tidak ada yang spesifik tentang sayur bayam. Namun hanya ada beberapa aturan tentang sayuran secara umum, di antaranya :</p>
<ol>
<li>Undang- Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4196);</li>
<li>Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18/ PERMENTAN/ OT.140/ 2/ 2008, Tentang Persyaratan Dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.</li>
</ol>
<p>Ketiga Peraturan Pemerintah di atas kemudian menjadi landasan terbentunya “KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN” Nomor : 208 / Kpts / HK.030/L/6/.2008 tentang “Persyaratan dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia”.</p>
<p>Adapun tujuan regulasi itu adalah mencegah masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina dari luar negeri kedalam wilayah Negara Republik Indonesia melalui pemasukan tumbuhan hidup berupa sayuran umbi lapis segar.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/551/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=551&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/agribisnis-holtikultura-fokus-bahasan-pada-sayuran-bayam-amaranthus-spp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Problematika Ketahanan Pangan di Indonesia</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/problematika-ketahanan-pangan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/problematika-ketahanan-pangan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 07:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Pangan adalah salah satu kebutuhan manusia, dan pangan juga merupakan salah satu hak dasar manusia. Dengan terpenuhinya pangan untuk setiap individu maka dipastikan akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Pemenuhan kebutuhan akan pangan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk, hal ini justru menjadi sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=548&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>I. </strong><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Pangan adalah salah satu kebutuhan manusia, dan pangan juga merupakan salah satu hak dasar manusia. Dengan terpenuhinya pangan untuk setiap individu maka dipastikan akan menghasilkan SDM yang berkualitas.</p>
<p>Pemenuhan kebutuhan akan pangan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk, hal ini justru menjadi sebuah permasalahan yang harus kita antisipasi dengan cepat. Kerawanan pangan akan menjadi sebuah malapetaka dan masalah bagi sebuah negara. Oleh karena itu kerawanan pangan ini menjadi sebuah isu hangat yang akan terus dicarikan solusi dan alternatifnya.</p>
<p>Pertanian adalah salah satu sektor yang harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. Sebagai negara agraris, Indonesia harus dapat memajukan pertaniannya untuk kesejahteraan rakyatnya. Pertanian menjadi sangat penting dan krusial disaat terjadi kekurangan pangan di beberapa daerah di Indonesia. Pertanian yang notabene adalah sebagai penghasil pangan, haruslah dikelola dengan sebaik-baiknya, maka peran penyuluh pertanian sangat perlu untuk memajukan pertanian di Indonesia.</p>
<p>Permasalahan pangan akan selalu menjadi kajian utama seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini sesuai dengan pendapat atau hukum <em>M</em><em>althus </em>yang mengatakan bahwa “laju pertumbuhan penduduk akan lebih tinggi dibandingkan dengan laju produksi pangan”.</p>
<p>Tidak  jarang  masalah  pangan  ini  menjadi  pemicu  terjadinya  konflik  sosial  pada  skala  kecil sampai  pada  skala  besar.  Begitu  pentingnya  peranan  pangan  di  dalam  kehidupan masyarakat  suatu bangsa, sehingga kondisi dan proses pemenuhannya menjadi masalah yang sangat peka.</p>
<p>Sejarah  membuktikan,  kejatuhan  pemerintah  orde  lama,  bukan  hanya  diakibatkan  oleh kakacauan politik. Tapi juga dipicu oleh kelangkaan beras sebagai sumber pangan utama rakyat. Ketika itu, di mana-mana selalu tampak antrean rakyat untuk memperoleh jatah beras. Indonesia sudah mulai tercatat sebagai importir beras terbesar di dunia.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>II. PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>A.  </strong>  <strong>Ketahanan Pangan</strong></p>
<p>Pangan  merupakan  salah  satu  kebutuhan  dasar  manusia  yang  paling  asasi.  Kecukupan, aksesibilitas dan kualitas pangan yang dapat dikonsumsi seluruh warga masyarakat, merupakan ukuran-ukuran  penting  untuk  melihat  seberapa  besar  daya  tahan  bangsa  terhadap  setiap  ancaman  yang dihadapi.  Kekurangan  pangan  akan  menimbulkan  dampak  yang  luas  di  berbagai  bidang,  dan  dapat mengarah kepada instabilitas negara.</p>
<p>Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Dalam UU ini, ketahanan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia.</p>
<p>Ketahanan   pangan   berarti   kondisi   pemenuhan   kebutuhan pangan bagi   rumah  tangga  yang  tercermin dari  ketersediaan pangan yang cukup,  baik jumlah dan mutunya,  aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan   hal   yang   sangat   penting   dan   strategis,   mengingat   pangan   merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi  cukup memadai   tetapi  mengalami  kehancuran karena  tidak mampu memenuhi kebutuhan   pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai  pertahanan musuh.<strong></strong></p>
<p><strong>B.     Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia Dewasa InI</strong></p>
<p><strong></strong><strong>     1.      </strong><strong>Impor</strong></p>
<ul>
<li><strong>Pasca Krisis Ekonomi Sampai Tahun 2003</strong></li>
</ul>
<p>Sejak krisis ekonomi hingga sekarang, kemampuan Indonesia  untuk memenuhi sendiri kebutuhan pangan bagi penduduk terus menurun. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi lebih dari 210 juta jiwa, dalam periode 1997-2003, Indonesia harus mengimpor bahan pangan diantaranya beras rata-rata 2 juta ton,  kedelai 900 ribu ton, gula pasir 1,6 juta ton, jagung 1 juta ton, garam  sebesar 1,2 juta ton dan menghabiskan devisa negara 900 juta dolar AS pada tahun 2003 (Tabel 1).<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Tabel 1. Volume dan Nilai Impor beberapa bahan pangan tahun 2003</strong><strong></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">Komoditas</p>
</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">Volume Impor  rata-rata-rata 1997-2002 (ton)</p>
</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="119">Volume Impor thn 2003 ( ton)</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">Nilai Impor rata-rata 1997-2002 (juta dolar AS)</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">Nilai Impor tahun 2003 (juta dolar AS)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="119">Beras</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2 024 384</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1 428 433</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">586</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">414</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="119">
<p style="text-align:left;">Kedelai</p>
</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="119">903 615</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">921 000</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">229</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">275.5</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="119">Gula</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1 557 259</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">618 678</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">418</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">85.31</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="119">Garam</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1 300 000</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1 700 000</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">49</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">55</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>    2.      </strong><strong>Produksi</strong></p>
<p>Produksi beras mengalami penurunan dalam 1997-2002, kemudian meningkat kembali. (Tabel 2). Produksi beras pada tahun 2003 sebesar 31.2 juta ton. Produksi kedelai menurun sangat tajam dengan rata-rata penurunan sekitar 25%, akibat menurunnya luas areal pertanaman kedelai. Produksi kedelai pada tahun 2003 berjumlah 671 ribu ton. Produksi gula cenderung stagnan pada level 1,7 juta ribu ton. Produksi garam cenderung menurun hanya mencapai 300 000 ton pada tahun 2003.<span id="more-548"></span></p>
<p align="center"><strong>Tabel 2. Produksi beberapa bahan pangan tahun 2003</strong><strong></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="105">
<p style="text-align:center;">Komoditi</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="239">
<p style="text-align:center;">Produksi Rata-rata (000 ton)</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="242">
<p style="text-align:center;">Pertumbuhan (%)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1999-2002</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2003</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1999-2002</p>
</td>
<td valign="top" width="123">
<p style="text-align:center;">2003 terhadap 2002</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="105">Beras</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">30.294</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">31.200</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">-1.15</p>
</td>
<td valign="top" width="123">
<p style="text-align:center;">2.92</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="105">Kedelai</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">712</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">672</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">-25.15</p>
</td>
<td valign="top" width="123">
<p style="text-align:center;">-0.09</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="105">Gula</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1.692</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1.681</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">3.73</p>
</td>
<td valign="top" width="123">
<p style="text-align:center;">-1.16</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="105">Garam</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">700</p>
</td>
<td valign="top" width="119">350</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">-25</p>
</td>
<td valign="top" width="123">
<p style="text-align:center;">-10</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>    3.      </strong><strong>Konsumsi </strong></p>
<p>Di sisi lain kebutuhan pangan cenderung meningkat 2,5-4% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan beras, kedelai, gula dan garam pada tahun 2003 masing-masing berjumlah 33,4 juta ton, 1,95 juta ton, 3 juta ton, dan 2,05 juta ton.</p>
<p align="center"><strong>Tabel 3. Kebutuhan  beberapa bahan pangan tahun 2003</strong><strong></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="112">
<p style="text-align:center;">Komoditi</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="239">
<p style="text-align:center;">Kebutuhan (000 ton)</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="235">
<p style="text-align:center;">Pertumbuhan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2002</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2003</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">ton</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="112">Beras</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">32.158</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">33.372</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1.214</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">3.78</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="112">Kedelai</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1.901</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">1.951</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">50</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">2,6</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="112">Gula</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2.883</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">3.000</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">117</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">4</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="112">Garam</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2.000</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">2.050</p>
</td>
<td valign="top" width="119">
<p style="text-align:center;">50</p>
</td>
<td valign="top" width="116">
<p style="text-align:center;">2,5</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Melihat data produksi dan kebutuhan pangan pada tahun 2003 terlihat bahwa terjadi defisit untuk keempat jenis komoditas pangan tersebut, beras sejumlah 1, 6 juta ton, kedelai 1,3 juta ton, gula 1,32 juta ton dan garam sejumlah 1,7 juta ton. Defisit pangan ini diatasi dengan cara mengimpor . Kecuali untuk beras, persentase impor pangan lainnya terhadap produksi sangat mengkhawatirkan berkisar 30-70%.</p>
<ul>
<li><strong>Setelah Tahun 2003-Sekarang</strong></li>
</ul>
<p>Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan oleh Presiden RI tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat mengamanatkan bangsa ini perlu membangun ketahahanan pangan yang mantap dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk lima komoditas pangan strategis, yaitu padi, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi.</p>
<p>Sebagai gambaran umum, pada tahun 2004, untuk komoditas padi, kita mampu melepaskan diri dari impor, malah berdasarkan angka perkiraan kita sudah surplus dua juta ton berupa stok di masyarakat (rumah tangga dan pedagang) dan pemerintah (Bulog); sedangkan untuk empat komoditas lainnya masih tergantung dari impor. Secara kuantitas, impor jagung, kedelai, gula, dan daging sapi masing-masing sebesar 11,23 persen; 64,86 persen; 37,48 persen dan 29,09 persen dari kebutuhan.</p>
<p>Namun, di balik itu ternyata ada sebuah fakta yang mencengangkan. Yaitu masih adanya penduduk Indonesia yang kelaparan. Sebagai contoh, 66.685 anak di Nusa Tenggara Timur (Kompas, 7/6/2005), sekitar 49.000 anak di Nusa Tenggara Barat (Kompas, 4/6/2005), 425 anak di Boyolali (Kompas, 7/6/2005), 11.368 anak di Sumba Barat (Kompas, 16/6/2005), dan masih banyak lagi, menderita gizi buruk yang sangat memprihatinkan, dan sebagian dari mereka meninggal dunia karena orangtuanya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Dan berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh <em>Food and Agricultural Organization</em> (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan.</p>
<p>Permasalahan terbaru timbul setelah kita menyatakan bahwa sudah bisa berswasembada beras pada tahun 2008. Anomali cuaca yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ternyata berdampak buruk terhadap produksi dan produktivitas bahan pangan. Kondisi pertanian saat ini jauh dari kata menggembirakan. Terjadinya cuaca yang tidak menentu saat ini menyebabkan sejumlah tanaman pertanian mengalami banyak gagal tanam, hingga gagal panen. Disamping itu, serangan hama terhadap sejumlah tanaman pertanian membuat petani semakin tak berdaya. Ditambah lagi dengan adanya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, ataupun gunung meletus dapat merugikan bahkan dapat mengurangi produksi pertanian.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>III.  </strong><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong>A.    </strong><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ul>
<li>Pangan  merupakan  salah  satu  kebutuhan  dasar  manusia  yang  paling  asasi.</li>
<li>Ketahanan   pangan   berarti   kondisi   pemenuhan   kebutuhan pangan bagi   rumah  tangga  yang  tercermin dari  ketersediaan pangan yang cukup,  baik jumlah dan mutunya,  aman, merata dan terjangkau.</li>
<li>Kondisi ketahanan angan di Indonesia pasca krisis ekonomi sampai Tahun 2003 yaitu produksi nasional tidak mencukupi konsumsi sehingga harus impor.</li>
<li>Setelah Tahun 2003-sekarang Indonesia dapat berswasembada beras, tetapi secara realita masih banyak masalah kerawanan pangan seperti kelaparan.</li>
</ul>
<p><strong>B.     </strong><strong>Saran</strong></p>
<ul>
<li>Sebaiknya pemerintah mengoptimalkan potensi pertanian dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan pangan.</li>
<li>Ada pemerataan distribusi pangan agar tidak terjadi lagi kasus kelaparan di beberap daerah.</li>
</ul>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Anonim. 1996. <em>Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang  Pangan</em>. Jakarta: Kantor Menteri Negara Pangan RI.</p>
<p>Asqolani, H. 2006.  Problem Ketahanan Pangan dan Nasib Petani. [online]. <em>http://www. student.unimaas.nl/c.ascholani/Problem%20Ketahanan%20Pangan%20dan%20Nasib%20Petani.pdf</em>. Diakses pada tanggal 21 Maret 2011.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/548/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=548&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/problematika-ketahanan-pangan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penanganan Pasca Panen Dan Pengolahan Jagung</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/penanganan-pasca-panen-dan-pengolahan-jagung/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/penanganan-pasca-panen-dan-pengolahan-jagung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 07:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Gambaran Umum Jagung merupakan komoditas penting dalam industri pangan, kimia maupun industri manufaktur. Di  Indonesia jagung juga merupakan  makanan pokok utama yang memiliki kedudukan penting setelah beras.  Usaha pengembangan jagung nasional harus didukung oleh industri pascapanen sehingga mampu menciptakan keuntungan yang sebenarnya secara bisnis.  Salah satunya adalah dengan membuat produk olahan berbasis jagung yang mempunyai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=544&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gambaran Umum</strong></p>
<p>Jagung merupakan komoditas penting dalam industri pangan, kimia maupun industri manufaktur. Di  Indonesia jagung juga merupakan  makanan pokok utama yang memiliki kedudukan penting setelah beras.  Usaha pengembangan jagung nasional harus didukung oleh industri pascapanen sehingga mampu menciptakan keuntungan yang sebenarnya secara bisnis.  Salah satunya adalah dengan membuat produk olahan berbasis jagung yang mempunyai umur simpan yang lama.</p>
<p>Kegiatan pascapanen merupakan bagian integral dari pengembangan agribisnis, yang dimulai dari aspek produksi bahan mentah sampai pemasaran produk akhir. Peran kegiatan pascapanen menjadi sangat penting, karena merupakan salah satu sub-sistem agribisnis yang mempunyai peluang besar dalam upaya meningkatkan nilai tambah produk agribisnis. Dibanding dengan produk segar, produk olahan mampu memberikan nilai tambah yang sangat besar. Daya saing komoditas Indonesia masih lemah, karena selama ini hanya mengandalkan keunggulan komparatif dengan kelimpahan sumberdaya alam dan tenaga kerja tak terdidik, sehingga produk yang dihasilkan didominasi oleh produk primer.</p>
<p>Pemanfaatan teknologi pengolahan jagung berpeluang meningkatkan nilai komoditas jagung tidak hanya sebagai sumber pakan tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang bernilai ekonomi seperti <em>pop-corn</em>, tepung jagung, pati jagung dan minyak jagung. Pascapanen jagung selama ini masih dkerjakan secara tradisional. Dengan teknologi yang ada (<em>existing technology</em>), maka diperlukan investasi teknologi baik untuk pengolahan jagung di sektor hulu maupun hilir. Untuk pengembangan industri pati jagung, dibutuhkan investasi mencapai Rp 80-160 miliar.</p>
<p>Keberhasilan pengembangan jagung kini tidak hanya ditentukan oleh tingginya produktivitas saja namun juga melibatkan kualitas dari produk itu sendiri. Agar komoditas tersebut mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif. Agar dihasilkan mutu jagung yang baik maka tehnik pasca panennya pun harus lebih diperhatikan dan ditangani lebih baik.</p>
<p><strong>Proses Pasca Panen Jagung</strong></p>
<p>Penanganan pasca panen jagung di antaranya meliputi :</p>
<ol>
<li>Pemipilan dengan tangan</li>
<li>Pemipilan dengan mesin</li>
<li>Penjemuran jagung setelah dipipil</li>
<li>Proses sortasi dan grading</li>
<li>Penyimpanan jagung pipilan yang sudah disortir</li>
<li>Pengiriman Jagung pipilan untuk di ekspor</li>
<li>Pengolahan jagung</li>
</ol>
<p>Penanganan pasca panen secara garis besar dapat meningkatkan daya gunanya sehingga lebih bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mempertahankan kesegaran atau mengawetkannya dalam bentuk asli maupun olahan sehingga dapat tersedia sepanjang waktu sampai ke tangan konsumen dalam kondisi yang dikehendaki konsumen. Persyaratan mutu jagung untuk perdaganagn menurut SNI dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu persyaratan kualitatif dan persyaratan kuantitatif.</p>
<p>Persyaratan kualitatif meliputi :</p>
<ol>
<li>Produk harus terbebas dari hama dan penyakit</li>
<li>Produk terbebas dari bau busuk maupun zat kimia lainnya (berupa asam)</li>
<li>Produk harus terbebas dari bahan dan sisa-sisa pupuk maupun pestisida</li>
<li>Memiliki suhu normal<span id="more-544"></span></li>
</ol>
<p>Sedangkan persyaratan kuantitatif dapat dilihat pada Tabel 1.</p>
<table width="578" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="7%">
<p style="text-align:center;"><strong>No.</strong></p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="35%">
<p style="text-align:left;"><strong>Komponen Utama</strong></p>
</td>
<td colspan="4" valign="top">
<p style="text-align:center;"><strong>Persyaratan Mutu (% maks)</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;"><strong>I</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;"><strong>II</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;"><strong>III</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;"><strong>IV</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="7%">1.</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="35%">
<p style="text-align:left;">Kadar Air</p>
</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">14</p>
</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">14</p>
</td>
<td style="text-align:center;" valign="top" width="14%">15</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">17</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="7%">
<p style="text-align:center;">2.</p>
</td>
<td valign="top" width="35%">Butir Rusak</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">2</p>
</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">4</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">6</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">8</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="7%">
<p style="text-align:center;">3.</p>
</td>
<td valign="top" width="35%">Butir Warna Lain</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">1</p>
</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">3</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">7</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="7%">
<p style="text-align:center;">4.</p>
</td>
<td valign="top" width="35%">Butir Pecah</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">1</p>
</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">4</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">3</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">5</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="7%">
<p style="text-align:center;">5.</p>
</td>
<td valign="top" width="35%">Kotoran</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">1</p>
</td>
<td valign="top" width="15%">
<p style="text-align:center;">1</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">2</p>
</td>
<td valign="top" width="14%">
<p style="text-align:center;">2</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 1.Mutu Jagung</p>
<p>Pengendalian mutu merupakan usaha mempertahankan mutu selama proses produksi sampai produk berada di tangan konsumen pada batas yang dapat diterima dengan biaya seminimal mungkin. Pengendalian mutu jagung pada saat pasca panen dilakukan mulai pemanenan, pengeringan awal, pemipilan, pengeringan akhir, pengemasan dan penyimpanan.</p>
<p>Pemanenan dilakukan pada saat jagung telah mencapai masak fisiologis yaitu berkisar 100 hari setelah tanam tergantung dari jenis varietas yang digunakan. Pada umur demikian biasanya daun jagung/klobot telah kering dan berwarna kekuning-kuningan. Selanjutnya dipisahkan antara jagung yang layak jual dengan jagung yang busuk, muda dan berjamur untuk dilakukan proses pengeringan.</p>
<p>Pengeringan merupakan usaha untuk menurunkan kadar air sampai batas tertentu sehingga reaksi biologis terhenti dan mikrorganisme serta serangga tidak bisa hidup di dalamnya. Pengeringan jagung dapat dibedakan menjadi dua tahapan yaitu pengeringan dalam bentuk gelondong dan pengeringan butiran setelah jagung dipipil. Pada pengeringan jagung gelondong dilakukan sampai kadar air mencapai 18 persen untuk memudahkan pemipilan.</p>
<p>Pemipilan merupakan kegiatan memisahkan biji jagung dari tongkolnya. Pemipilan dapat dilakukan dengan cara tradisional atau dengan cara yang lebih modern. Secara tradisional pemipilan jagung dapat dilakukan dengan tangan maupun alat bantu lain yang sederhana seperti kayu, pisau dan lain-lain sedangkan yang lebih modern menggunakan mesin yang disebut <em>Corn sheller</em> yang dijalankan dengan motor.</p>
<p>Butiran jagung hasil pipilan masih terlalu basah untuk dijual atau pun disimpan. Untuk itu diperlukan satu tahapan proses yaitu pengeringan akhir. Pada pengeringan butiran, kadar air jangung diturunkan sampai kadar air sesuai mutu jagung yang dikehendaki. Proses pengeringan ini dapat dilakukan melalui penjemuran di bawah teriknya sinar matahari atau menggunakan mesin pengering tipe <em>Batch Dryer</em> dengan kondisi temperatur udara pengering antara 50 – 60oC dengan kelembaban relatif 40 persen. Butiran jagung yang telah melalui proses pengeringan perlu dibersihkan dan dipisahkan dalam beberapa kelompok mutu I,II,III maupun IV untuk selanjutnya dijual atau disimpan.</p>
<p>Penyimpanan jagung pipilan dapat dilakukan seperti penyimpanan beras di BULOG dalam karung yang disusun secara teratur. Penyimpanan ini dapat berfungsi sebagai pengendali harga pada saat harga di pasar jatuh karena kelebihan stok. Setelah harga jual membaik, barulah jagung yang disimpan dilepas ke pasaran</p>
<p><strong>Pengolahan Hasil Tanaman Jagung</strong></p>
<p>Pengolahan hasil tanaman jagung dimaksudkan untuk memperpanjang masa simpan jagung, meningkatkan nilai estetika jagung, meningkatkan keanekaragaman makanan dengan bahan dasar jagung, meningkatkan nilai jual, dan daya saing olahan jagung.</p>
<p>Grading dan sortasi jagung merupakan langkah pertama yang sangat penting dalam pengolahan jagung karena berpengaruh terhadap kualitas hasil akhir produk. Grading dan sortasi di tingkat petani umumnya dilakukan secara manual.</p>
<p>Nilai ekonomis tanaman jagung terutama diperoleh dari tongkol jagung dan biji pipilan jagung. Tongkol jagung (masak susu) dapat diolah menjadi berbagai produk masakan, sedangkan tongkol jagung (masak penuh), antara lain dapat diolah menjadi jagung giling dan tepung jagung.  Beberapa contoh hasil olahan jagung, sebagai berikut: mie jagung, bihun jagung, pati jagung, minyak jagung, pakan ternak dan lain-lain.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/544/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=544&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/penanganan-pasca-panen-dan-pengolahan-jagung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Strategi Ketahanan Beras di Indonesia</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/strategi-ketahanan-beras-di-indonesia/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/strategi-ketahanan-beras-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 06:54:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=541</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia. Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi jutaan rumah tangga pertanian. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=541&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong></strong><strong>I. PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia. Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi jutaan rumah tangga pertanian. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika campur tangan pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya peningkatan produksi dan stabilitas harga beras.</p>
<p>Kecukupan pangan (terutama beras) dengan harga yang terjangkau telah menjadi tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian. Kekurangan pangan bisa menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas nasional.  Berbagai kebijakan untuk meningkatkan produksi padi, seperti: pembangunan sarana irigasi, subsidi benih, pupuk, dan pestisida, kredit usahatani bersubsidi, dan pembinaan kelembagaan usahatani telah ditempuh. Demikian juga dalam pemasaran hasil, pemerintah mengeluarkan kebijakan harga dasar gabah (HDG) atau harga dasar pembelian pemerintah (HDPP), untuk melindungi petani dari jatuhnya harga dibawah biaya produksi. Sementara itu, kebijakan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat, dan agar harga beras terjangkau oleh sebagian besar konsumen. Secara umum, selama lebih dari tiga dekade produksi beras dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan. Dengan  kata lain, Indonesia hampir selalu defisit, sehingga masih tergantung pada impor.</p>
<p>Kondisi defisit beras diperburuk oleh konversi lahan subur (sawah irigasi dan tadah hujan) yang terus berlangsung di Jawa, sehingga pertumbuhan produksi padi cenderung menurun.  Data statistik menunjukkan bahwa 95 persen dari produksi padi nasional berasal dari lahan sawah. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan sektor industri dan perumahan menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan untuk perumahan dan areal pabrik.</p>
<p>Ke depan harus ada upaya untuk tetap meningkatkan produksi padi, meskipun  konversi lahan sawah subur (terutama di Jawa) sulit dicegah. Secara spesifik, tulisan ini mencoba merancang alternatif strategi kebijakan dan program peningkatan produksi padi dalam upaya peningkatan produksi padi nasional.<strong></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>II.PEMBAHASAN</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>A.    </strong><strong>Langkah Strategis</strong></p>
<p>Beberapa langkah strategis untuk mencapai sasaran di atas adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mengidentifikasi potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan komoditas padi.</li>
<li>Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan (minimum setara dengan laju pertumbuhan penduduk) melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi.</li>
<li>Merenovasi dan memperluas infrastruktur fisik dengan merehabilitasi jaringan irigasi lama dan membangun jaringan irigasi baru untuk pengembangan lahan sawah di luar Jawa serta membuka lahan pertanian baru, khususnya lahan kering di Luar Jawa.</li>
<li>Menahan laju konversi lahan sawah di Jawa melalui penetapan ”<em>lahan abadi</em>” untuk usaha pertanian.</li>
<li>Mempercepat penemuan teknologi benih/bibit unggul untuk peningkatan produktivitas, teknologi panen untuk mengurangi kehilangan hasil, dan teknologi pasca panen serta pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah.</li>
<li>Memberikan subsidi sarana produksi untuk usaha primer sekaligus memberikan proteksi terhadap komoditas padi.</li>
<li>Merevitalisasi sistem penyuluhan dan kelembagan petani untuk mempercepat difusi adopsi teknologi yang mampu meningkatkan produksi dan pendapatan petani.</li>
<li>Mengembangkan sistem pemasaran hasil pertanian yang mampu mendistribusikan produk dan return/keuntungan secara efisien dan adil.</li>
<li>Mengembangkan sistem pembiayaan pertanian, termasuk keuangan mikro pedesaan untuk meningkatkan aksesibilitas petani atas sumber permodalan/pembiayaan pertanian.</li>
<li>Memberikan insentif berinvestasi di sektor pertanian, khususnya di luar Jawa, termasuk menyederhanakan proses perizinan investasi di sektor pertanian.</li>
</ol>
<p><strong>B.     </strong><strong>Program Implementasi</strong></p>
<ol>
<li>Ekstensifikasi atau perluasan lahan (140.000 Ha/tahun)</li>
</ol>
<p>Ekstensifikasi lahan ditujukan untuk memperluas lahan produksi pertanian, terutama padi sehingga produksi beras secara nasional yang sekarang dapat ditingkatkan. Lahan yang diperluas diperuntukkan bagi petani miskin (&lt; 0.1 Ha), tetapi memiliki keahlian/pengalaman bertani. Perluasan dilakukan di propinsi yang luas dan kaya seperti Kalimantan, Jambi, Irian Jaya dan Sumatra Selatan. Koordinator program ini adalah Departemen Pertanian didukung Depertemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Departemen Kehutanan dan Perkebunan serta Pemda.</p>
<p>2. Intensifikasi</p>
<p>Program ini diarahkan untuk peningkatan produksi melalui peningkatan produktifitas padi. Intensifikasi ditujukan pada lahan-lahan pertanian subur dan produktif yang sudah merupakan daerah lumbung padi seperti Kerawang, Subang dan daerah pantura lainya di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan propinsi lainnya. Penekanan program ini pada peningkatan pertanaman (dari 1 menjadi 2, dari 2 kali menjadi 3 kali ) dan ketepatan masa tanam didukung oleh adanya peralatan pertanian, kebutuhan air (jaringan irigasi baru), pupuk dan benih serta pengendalian hama penyakit terpadu.</p>
<p>Peningkatan produktifitas padi 10% per 5 tahun dapat mempercepat terwujudnya swasembada beras .</p>
<p>3.  Revitalisasi  Pasca Panen dan Pengolahan</p>
<p>Revitalisasi/restrukturisasi industri pasca panen dan pengolahan diarahkan pada 1) penekanan kehilangan hasil dan penurunan mutu karena teknologi penanganan pasca panen yang kurang baik, 2) pencegahan bahan baku dari kerusakan dan 3) pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi dan produk pangan.</p>
<p>Kegiatan yang dilakukan adalah implementasi alat mesin dan teknologi pasca panen yang efektif dan efisien ; perontokan dan pengeringan pada tingkat petani, pengumpul, KUD dan usaha jasa pelayanan alsin pasca panen di sentra produksi</p>
<p>4. Revitalisasi dan Restrukturisasi Kelembagaan</p>
<p>Keberadaan, peran dan fungsi kelembagaan seperti kelompok tani, UKM, Koperasi perlu direvitalisasi dan restrukturisasi untuk mendukung pembangunan kemandirian beras</p>
<p>5. Kebijakan Makro</p>
<p>Kebijakan dalam bidang pangan khususnya beras perlu ditelaah dan dikaji kembali khususnya yang mendorong tercapainya ketahanan pangan dalam waktu 1-5 tahun.  Beberapa hal yang perlu dikaji seperti pajak produk pangan, retribusi, tarif bea masuk, iklim investasi, dan penggunaan produksi dalam negeri serta kredit usaha.</p>
<p>Koordinator program ini adalah Departemen Keuangan dibantu oleh Departemen terkait dan Pemda.  Masukan dapat diperluas dari swasta, lembaga petani dan koperasi.  Alokasi dana diperlukan untuk rapat koordinasi dan penyusunan kebijakan antar instansi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Asqolani, H. 2006.  Problem Ketahanan Pangan dan Nasib Petani. [online]. <em>http://www. student.unimaas.nl/c.ascholani/Problem%20Ketahanan%20Pangan%20dan%20Nasib%20Petani.pdf</em>. Diakses pada tanggal 21 Maret 2011.</p>
<p>Soekartawi. 1986.  <em>Ilmu Usahatani Dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil</em>. Penerbit UI-Press. Jakarta.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/541/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=541&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/04/24/strategi-ketahanan-beras-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA TANAMAN  PADI DENGAN TEKNOLOGI  MiG-6 PLUS</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/02/16/budidaya-tanaman-padi-dengan-teknologi-mig-6-plus/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/02/16/budidaya-tanaman-padi-dengan-teknologi-mig-6-plus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 14:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[1. SEJARAH SINGKAT Padi merupakan  tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=527&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>1. SEJARAH SINGKAT</strong></div>
<div>Padi merupakan  <strong>tanaman pangan </strong>berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.</div>
<div>
<p><strong>2. JENIS TANAMAN</strong></p>
<p>Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:</p>
<p>Divisi : Spermatophyta</p>
<p>Sub divisi : Angiospermae</p>
<p>Kelas : Monotyledonae</p>
<p>Keluarga : Gramineae (Poaceae)</p>
<p>Genus : <em>Oryza </em></p>
<p>Spesies : <em>Oryza</em> spp.</p>
<p>Terdapat 25 spesies      <em>Oryza</em>, yang dikenal adalah <em>O. sativa</em> dengan dua subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan. Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi),</p>
<p>Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120 (dataran rendah). Varitas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah).</p>
<p><strong>3. MANFAAT TANAMAN</strong></p>
<p>Beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan Negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia. Selain itu jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tani.</p>
<p><strong>4. SENTRA PENANAMAN</strong></p>
<p>Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi nasional dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti. Produksi padi nasional sampai Desember 1997 adalah 46.591.874 ton yang meliputi areal panen 9.881.764 ha. Karena pemeliharaan yang kurang intensif, hasil padi gogo hanya 1-3 ton/ha, sedangkan dengan kultur teknis yang baik hasil padi sawah mencapai 6-7 ton/ha. <span id="more-527"></span></p>
</div>
<div>
<p><strong>5. SYARAT PERTUMBUHAN</strong></p>
<p><strong>5.1. Iklim</strong></p>
<p>1. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.</p>
<p>2. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.</p>
<p>3. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-23 derajat C.</p>
<p>4. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.</p>
<p>5.  Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.</p>
<p><strong>5.2. Media Tanam </strong></p>
<p>a) Padi gogo</p>
<p>1. Padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus, struktur remah dancukup  mengandung air dan udara.</p>
<p>2. Memerlukan ketebalan tanah 25 cm, tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus &lt; 50%.</p>
<p>3. Keasaman tanah bervariasi dari 4,0 sampai 8,0.</p>
<p>b) Padi sawah</p>
<p>1. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.</p>
<p>2. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.</p>
<p>3. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral.</p>
<p>Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus.</p>
</div>
<div>
<p><strong>5.3. Ketinggian Tempat</strong></p>
<p>Tanaman dapat tumbuh pada derah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.</p>
<p><strong>6. PEDOMAN BUDIDAYA</strong></p>
<p><strong>6.1. Pembibitan</strong></p>
<p><strong>1) Persyaratan Benih</strong></p>
<p>Syarat benih yang baik:</p>
<p>a) Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hamagudang.</p>
<p>b) Warna gabah sesuai aslinya dan cerah.</p>
<p>c) Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.</p>
<p>d) Daya perkecambahan 80%.</p>
<p><strong> 2) Penyiapan Benih</strong></p>
<p>Benih dimasukkan ke dalam karung goni dan direndam 1 malam di dalam air mengalir supaya perkecambahan benih bersamaan.</p>
<p><strong> 3) Teknik Penyemaian Benih </strong></p>
<p>a) Padi sawah</p>
<p>Untuk satu hektar padi sawah diperlukan 25-40 kg benih tergantung pada jenis padinya. Lahan persemaian dipersiapkan 50 hari sebelum semai. Luas persemaian kira-kira 1/20 dari areal sawah yang akan ditanami. Lahan persemaian dibajak dan digaru kemudian dibuat bedengan sepanjang 500- 600 cm, lebar 120 cm dan tinggi 20 cm. Sebelum penyemaian, taburi pupuk urea dan SP-36 masing-masing 10 gram/meter persegi. Benih disemai dengan kerapatan 75 gram/meter persegi.</p>
<p>b) Padi Gogo</p>
<p>Benih langsung ditanam di ladang.</p>
<p><strong>4)  Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian</strong></p>
<p>Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 5 cm. Semprotkan pestisida pada hari ke 7 dan taburi pupuk urea 10 gram/meter persegi pada hari ke 10.</p>
<p><strong>5) Pemindahan benih </strong></p>
<p>Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 25-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.</p>
<p><strong>6.2. Pengolahan Media Tanam</strong></p>
<p>1) Pengolahan Lahan Padi Sawah</p>
<p>a) Bersihkan saluran air dan sawah dari jerami dan rumput liar.</p>
<p>b) Perbaiki pematang serta cangkul sudut petak sawah yang sukar ikerjakandengan bajak.</p>
<p>c) Bajak sawah untuk membalik tanah dan memasukkan bahan organik yang ada di permukaan. Pembajakan pertama dilakukan pada awal musim tanam dan dibiarkan 2-3 hari setelah itu dilakukan pembajakan ke duayang disusul oleh pembajakan ketiga 3-5 hari menjelang tanam.</p>
</div>
<div>
<p>d) Ratakan permukaan tanah sawah, dan hancurkan gumpalan tanah engan cara menggaru. Permukaan tanah yang rata dapat dibuktikan dengan melihat permukaan air di dalam petak sawah yang merata.</p>
<p>e) Lereng yang curam dibuat teras memanjang dengan petak-petak yang dibatasi oleh pematang agar permukaan tanah merata.</p>
<p>2) Pengolahan Lahan Padi Gogo</p>
<p>Waktu yang tepat adalah di akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan.</p>
<p>Cara pengolahan tanah adalah sebagai berikut:</p>
<p>a) Lahan dibersihkan dari tanaman penggangu dan rumput sambil memperbaiki pematang dan saluran drainase.</p>
<p>b)   Tanah dibajak dua kali pada kedalaman 25-30 cm, tanah dibalik.</p>
<p>c)   Pemupukan organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak 20 ton/ha.</p>
<p>d)   Untuk menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan.</p>
<p>e)   Tanah dibiarkan sampai hujan turun.</p>
<p><strong>6.3. Teknik Penanaman</strong></p>
<p>1) Pola Tanam</p>
<p>Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun menanam padi. Untuk meningkatkan produktivitas lahan, seringkali dilakukan tumpang sari dengan tanaman semusim lainnya, misalnya padi gogo dengan jagung atau padi gogo di antara ubi kayu dan kacang tanah. Pada pertanaman padi sawah, tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacangkacangan.</p>
<p>2) Penanaman Padi Sawah</p>
<p>Bibit ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25 cm, 22 x 22 cm atau 30 x 20 cm tergantung pada varitas padi, kesuburan tanah dan musim. Padi dengan jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih lebar. Pada tanah subur jarak tanam lebih lebar. Jarak tanam di daerah pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit ditanam pada kedalaman 3-4 cm.</p>
<p>3) Penanaman Padi Gogo</p>
<p>Penanaman dilakukan pada awal musim hujan setelah dua atau tiga kali turun hujan di bulan Oktober-November. Penanaman dilakukan dengancara:</p>
<p>a) Di dalam lubang tanam</p>
<p>Kedalaman lubang 3-5 cm dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Satu lubang diisi dengan 5-7 butir benih dan ditutup dengan pupuk kandang dan abu, debu atau tanah halus.</p>
</div>
<p>b) Di dalam larikan</p>
<p>Terlebih dahulu dibuat alur tanam dengan bantuan kayu berujung runcing dengan jarak antar aluran 60 cm dan kedalaman 3 cm. Benih</p>
<p>ditaburkan ke dalam aluran.</p>
<p><strong>6.4. Pemeliharaan Tanaman</strong></p>
<p><strong>1) Penjarangan dan Penyulaman Padi Sawah</strong></p>
<p>Penyulaman tanaman yang mati dilakukan paling lama 14 hari setelah tanam. Bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibitcadangan pada persemaian bibit.</p>
<p><strong>2) Penyiangan Padi Sawah </strong></p>
<p>Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan sekaligus dengan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat berumur 3 dan 6 minggu dengan menggunakan landak (alat penyiang mekanis yang berfungsi dengan cara didorong) atau cangkul kecil.</p>
<p><strong>3) Pengairan Padi Sawah</strong></p>
<p>Syarat penggunaan air di sawah:</p>
<p>a) Air berasal dari sumber air yang telah ditentukan Dinas Pengairan/ Dinas Pertanian dengan aliran air tidak deras.</p>
<p>b) Air harus bisa menggenangi sawah dengan merata.</p>
<p>c) Lubang pemasukkan dan pembuangan air letaknya bersebrangan agar air merata di seluruh lahan.</p>
<p>d) Air mengalir membawa lumpur dan kotoran yang diendapkan pada petak sawah. Kotoran berfungsi sebagai pupuk.</p>
<p>e) Genangan air harus pada ketinggian yang telah ditentukan. Setelah tanam, sawah dikeringkan 2-3 hari kemudian diairi kembali sedikit</p>
<p>demi sedikit. Sejak padi berumur 8 hari genangan air mencapai 5 cm. Pada waktu padi berumur 8-45 hari kedalaman air ditingkatkan menjadi 10 sampai dengan 20 cm. Pada waktu padi mulai berbulir, penggenangan sudah mencapai 20-25 cm, pada waktu padi menguning ketinggian airdikurangi sedikit-demi sedikit.</p>
<p><strong>4) Pemupukan Padi Sawah</strong></p>
<p>Pupuk Hayati <strong>MiG-6 Plus</strong> sebanyak 6 liter/ha per musim dengan aplikasi 2 liter diberikan 3 hari sebelum tanam dengan cara disemprot secara merata pada lahan yang airnya macak-macak kemudian aplikasi selanjutnya pada saat umur padi 30 hari dan pada saat keluar malai masing-masing 2 liter / ha. Pupuk anorganik yang dianjurkan Urea=200 kg/ha, TSP=50-75 kg/ha dan</p>
<p>KCl=100 kg/ha. Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam. Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari sebelum tanam dengan cara disebarkan dan dibenamkan. Pupuk KCl diberikan 2 kali yaitu pada saat tanam dan saat menjelang keluar malai. <strong><em>(untuk hasil 9 ton/ha dibutuhkan N : 171 kg atau setara dengan urea 400 kg, P : 54 kg atau setara dengan 154 TSP. K : 180 kg atau setara dengan 200 KCL sedangkan dengan MiG-6 Plus 6 liter / ha)<br />
</em></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=527&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/02/16/budidaya-tanaman-padi-dengan-teknologi-mig-6-plus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Penyebab Banjir  di Lingkungan Kampus Universitas Trunojoyo Madura, PengaruhnyaTerhadap Kenyaman dan Aktivitas Belajar Mahasiswa serta Solusi Penanggulangannya</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/02/16/analisis-penyebab-banjir-di-lingkungan-kampus-universitas-trunojoyo-madura-pengaruhnyaterhadap-kenyaman-dan-aktivitas-belajar-mahasiswa-serta-solusi-penanggulangannya/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/02/16/analisis-penyebab-banjir-di-lingkungan-kampus-universitas-trunojoyo-madura-pengaruhnyaterhadap-kenyaman-dan-aktivitas-belajar-mahasiswa-serta-solusi-penanggulangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 14:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=525</guid>
		<description><![CDATA[BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Kenyaman belajar adalah suatu kondisi di mana peserta didik merasa nyaman dengan suasana belajar mengajar. Kenyaman belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan faktor yang berasal dari lingkungan, sementara faktor internal adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=525&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><strong>1.1. Latar Belakang</strong></p>
<p>Kenyaman belajar adalah suatu kondisi di mana peserta didik merasa nyaman dengan suasana belajar mengajar. Kenyaman belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan faktor yang berasal dari lingkungan, sementara faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik.</p>
<p>Faktor lingkungan  dan hal-hal lain yang berada di luar diri peserta didik sangat berpengaruh positif terhadap kenyamanan belajar yang dijalaninya. Keadaan keluarga, kondisi tempat belajar (sekolah ataupun kampus), sarana penunjang dan lingkungan masyarakat adalah beberapa faktor eksternal yang yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar. (http://www.anneahira.com)</p>
<p>Keadaan ataupun ketersediaan tenaga pengajar, kurikulum, fasilitas belajar di Universitas Trunojoyo Madura sepertinya sudah tersedia dan terprogram dengan cukup baik. Akan tetapi lingkugan kampus secara umum tampaknya masih terdapat hal-hal yang mengganggu aktivitas dan kenyamanan belajar mahasiswa.</p>
<p>Salah satu hal yang mengganggu aktivitas dan kenyamanan belajar mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura adalah keadaan kampus yang selalu banjir setiap kali hujan. Setiap kali hujan deras, keadaan kampus Universitas Trunojoyo Madura terdapat banyak genangan air di sana-sini. Jalan di depan kampus dipenuhi air sampai terlihat seperti sungai. Tidak ketinggalan pula jalan menuju Fakultas Pertanian tepatnya di sebelah barat lapangan besket Taruna Jaya menjadi jalan paling menyebalkan karena genangan airnya cukup banyak dan kotor. Selain itu, tempat lain seperti jalan menuju RKB, jalan di depan perpustakaan dan titik-titik lainnya juga terdapat genangan air yang membuat keadaan kampus menjadi becek dan kotor. Dengan keadaan yang becek dan kotor membuat aktivitas mahasiswa dikampus terganggu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.2.  Rumusan Masalah</strong></p>
<ol>
<li>Bagaimana  lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir berpengaruh terhadap kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa ?</li>
<li>Apa permasalahan utama yang menyebabkan kampus Universitas Trunojoyo Madura selalu banjir sehingga mempengaruhi kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa ?</li>
<li>Bagaimana perhatian pihak terkait terhadap fenomena kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir dan mengganggu kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa ?</li>
<li>Bagaimana solusi untuk memperbaiki lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir sehingga memberikan kenyaman terhadap  aktivitas belajar mahasiswa ?</li>
</ol>
<p><strong>1.3. Tujuan Pembahasan</strong></p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui pengaruh lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir terhadap kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa.</li>
<li>Untuk mengetahui permasalahan utama yang menyebabkan kampus Universitas Trunojoyo Madura selalu banjir sehingga memepengaruhi kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa.</li>
<li>Untuk mengetahui perhatian pihak terkait terhadap fenomena kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir dan mengganggu kenyaman dan aktivitas belajar mahasiswa.</li>
<li>Untuk mengetahui solusi guna memperbaiki lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir sehingga memberikan kenyaman terhadap  aktivitas belajar mahasiswa. <span id="more-525"></span></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB II</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setiap kali hujan deras, keadaan kampus Universitas Trunojoyo Madura menjadi  becek dan terdapat banyak genangan air di sana sini. Jalan di depan kampus dipenuhi air sampai terlihat seperti sungai. Begitu pula jalan menuju fakultas pertanian tepatnya di sebelah barat lapangan basket taruna jaya genangan airnya cukup banyak dan kotor. Selain itu jalan didepan perpustakaan serta tempat-tempat lain seperti di depan laboratorium dasar Fakultas Pertanian, didepan ruang kuliah Fakultas Ekonomi ,dan jalan menuju Ruang Kuliah Bersama (RKB) juga terdapat banyak genangan air.</p>
<p>Dengan  keadaan yang becek dan kotor, membuat aktivitas mahasiswa di kampus sedikit terganggu. Mahasiswa kesulitan berangkat kuliah selepas turun hujan dan banyak genagan air. Mahasiswa yang berangkat dengan berjalan kaki harus rela menenteng sepatunya atau mengangkat celana atau roknya sampai setinggi lutut jika tidak ingin basah ketika melewati jalan yang digenangi air. Pengguna sepeda motorpun tidak gampang pergi ke kampus ketika habis turun hujan, karena dengan adanya genangan air di jalan –jalan menuju ruang kuliah atau tempat perkuliahan akan membuat sepeda motor menjadi kotor. Fenomena tersebut bisa menghambat aktivitas perkuliahan, karena semangat mahasiswa untuk belajar di kelas sediktk terkurangi karena harus berangkat ke kampus dengan berjuang melawan genangan air yang kotor dan menyebalkan.</p>
<p>Penyebab utama dari keadaan kampus yang selalu becek dan terdapat genangan air setiap selesai turun hujan antara lain tidak adanya saluran drainase yang memadai. Sisi kanan dan kiri jalan yang ada di universitas trunojoyo kebanyakan  tidak disertai saluran air (selokan). Selokan-selokan kecil dan saluran air lain yang ada juga tidak berfungsi dengan baik karena jalur alirannya buntu. Selain itu, karakteristik tanah di Universitas Trunojoyo Madura yang keras dan liat serta sukar menyerap air membuat air hujan sulit meresap sehingga terbentuklah genangan air di tempat-tempat yang rendah.</p>
<p>Kondisi yang tidak nyaman tersebut tampaknya belum ada perhatian serius dari pihak terkait mengenai pembenahan saluran drainase guna mengantisipasi terjadinya genangan air. Pembutan saluran air baru terlihat di depan perpustakaan, penggalian di belakang Laboratorium Dasar Fakultas Pertanian dan di depan Laboratorim Softkill, sementara di tempat lain belum ada. Perhatian yang terbaru adalah penimbunan jalan di sebelah barat lapangan basket Taruna Jaya dengan serbuk batu putih sehingga genangan air tidak lagi terlihat.</p>
<p>Untuk mengantisipasi agar tidak lagi terjadi genangan air ataupun banjir kecil-kecilan selepas turun hujan di kampus Universitas Trunojoyo Madura diperlukan beberapa tindakan. Penggalian saluran drainase di setiap sisi kanan dan kiri jalan segera dilakukan dan dibeton supaya tidak cepat rusak dan dangkal lagi. Selain itu dilakukan penanaman tumbuhan penutup tanah agar tanah lebih mudah menyerap air. Yang paling berperan dalam pencapaian solusi ini adalah perhatian dari pihak yang terkait, dalam hal ini bagian pengadaan sarana dan prasarana kampus. Selain itu kesadaran semua pihak civitas akademika untuk memperhatikan lingkungan sangat dipelukan, seperti tidak membuang sampah sembarangan agar tidak mencemari tanah yang nantinya menghambat penyerapan air oleh tanah.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB III</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.1.  Kesimpulan</strong></p>
<p><strong> </strong>Kenyaman belajar adalah suatu kondisi di mana peserta didik merasa nyaman dengan suasana belajar mengajar. Keadaan keluarga, kondisi tempat belajar (sekolah ataupun kampus), sarana penunjang dan lingkungan masyarakat adalah beberapa faktor eksternal yang yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar.</p>
<p>Fenomena lingkungan kampus Universitas Trunojoyo Madura yang selalu banjir dan becek selepas hujan bisa menghambat aktivitas perkuliahan, karena semangat mahasiswa untuk belajar di kelas sediktk terkurangi karena harus berangkat ke kampus dengan berjuang melawan genangan air yang kotor dan menyebalkan.</p>
<p>Penyebab utama dari keadaan kampus yang selalu becek dan terdapat genangan air setiap selesai turun hujan antara lain tidak adanya saluran drainase yang memadai. Selain itu, karakteristik tanah di Universitas Trunojoyo Madura yang keras dan liat serta sukar menyerap air membuat air hujan sulit meresap sehingga terbentuklah genangan air di tempat-tempat yang rendah.</p>
<p>Kondisi yang tidak nyaman tersebut tampaknya belum ada perhatian serius dari pihak terkait mengenai pembenahan saluran drainase guna mengantisipasi terjadinya genangan air. Untuk mengantisipasi agar tidak lagi terjadi genangan air ataupun banjir kecil-kecilan selepas turun hujan di kampus Universitas Trunojoyo perlu dilakukan penggalian saluran drainase di setiap sisi kanan dan kiri jalan, adanya penanaman tumbuhan penutup tanah agar tanah lebih mudah menyerap air, adanya perhatian dari pihak yang terkait yaitu bagian pengadaan sarana dan prasarana kampus serta adanya kesadaran semua pihak civitas akademika untuk memperhatikan lingkungan.</p>
<p><strong>3.2. </strong><strong>Saran</strong></p>
<ul>
<li>Hendaknya bagian pengadaan sarana dan prasarana kampus segera membuat saluran drainase di setiap sisi kanan dan kiri jalan.</li>
<li>Semua pihak civitas akademika untuk memperhatikan kelestarian lingkungan.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Anonim. 2010. <em>Pengaruh Lingkungan Terhadap Prestasi Belajar</em>, (Online), (http://www.anneahira.com, diakses pada tanggal 15 Desember 2010).</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/education/'>Education</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/525/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=525&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/02/16/analisis-penyebab-banjir-di-lingkungan-kampus-universitas-trunojoyo-madura-pengaruhnyaterhadap-kenyaman-dan-aktivitas-belajar-mahasiswa-serta-solusi-penanggulangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Macam-Macam Hama dan Penyakit Pada Tanaman Serta Cara Pengendaliannya</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/01/20/macam-macam-hama-dan-penyakit-pada-tanaman-serta-cara-pengendaliannya/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/01/20/macam-macam-hama-dan-penyakit-pada-tanaman-serta-cara-pengendaliannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 05:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[1. Tikus Gejala serangan : Tikus menyerang berbagai tumbuhan. Menyerang di pesemaian, masa vegetatif, masa generatif, masa panen, tempat penyimpanan. Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya biji – bijian tetapi juga batang tumbuhan muda. Tikus membuat lubang – lubang pada pematang sawah dan sering berlindung di semak – semak. Pengendaliannya  : Membongkar dan menutup lubang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=515&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. </strong><strong>Tikus </strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Tikus menyerang berbagai tumbuhan.</li>
<li>Menyerang di pesemaian, masa vegetatif, masa generatif, masa panen, tempat penyimpanan.</li>
<li>Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya biji – bijian tetapi juga batang tumbuhan muda.</li>
<li>Tikus membuat lubang – lubang pada pematang sawah dan sering berlindung di semak – semak.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya  :</strong></p>
<ol>
<li>Membongkar dan menutup lubang tempat bersembunyi para tikus dan menangkap tikusnya.</li>
<li>Menggunakan musuh alami tikus, yaitu ular.</li>
<li>Menanam tanaman secara bersamaan agar dapat menuai dalam waktu yang bersamaan pula sehingga tidak ada kesempatan bigi tikus untuk mendapatkan makanan setelah tanaman dipanen.</li>
<li>Menggunakan <em>rodentisida</em> (pembasmi tikus) atau dengan memasang umpan beracun, yaitu irisan ubi jalar atau singkong yang telah direndam sebelumnya dengan fosforus. Peracunan ini sebaiknya dilakukna sebelum tanaman padi berbunga dan berbiji. Selain itu penggunaan racun harus hati – hati karena juga berbahaya bagi hewan ternak dan manusia.</li>
</ol>
<p><strong>2. </strong><strong>Wereng</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Menyebabkan daun dan batang tumbuhan berlubang – lubang.</li>
<li>Daun dan batang kemudian kering, dan pada akhirnya mati.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya  :</strong></p>
<ol>
<li>Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 – 2 bulan.</li>
<li><em>b. </em>Pengandalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba – laba predator <em>Lycosa Pseudoannulata</em>, kepik <em>Microvelia douglasi</em> dan <em>Cyrtorhinuss lividipenis, </em>kumbang <em>Paederuss fuscipes, Ophinea nigrofasciata, </em>dan <em>Synarmonia octomaculata.</em><em> </em></li>
<li>Pengandalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida, dilakukan apabila cara lain tidak mungkin untuk dilakukan. Penggunaan insektisida diusahakan sedemikan rupa sehingga efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan.</li>
</ol>
<p><strong>3. Walang Sangit </strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Menghisap butir – butir padi yang masih cair.</li>
<li>Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat.</li>
<li>Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman.</li>
<li>Walang sangit muda (nimfa) lebih aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih hebat karenya hidupnya lebih lama.</li>
<li>Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji – biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.</li>
<li>Faktor – faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sebagai berikut.</li>
</ol>
<ul>
<li>Sawah sangat dekat dengat perhutanan.</li>
<li>Populasi gulma di sekitar sawah cukup tinggi.</li>
<li>Penanaman tidak serentak</li>
</ul>
<p><strong>Pengendaliannya  :</strong></p>
<ol>
<li>Menanam tanaman secara serentak.</li>
<li>Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi walang sangit.</li>
<li>Menangkap walang sangit pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap.</li>
<li>Penangkapan menggunakan unmpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.</li>
<li>Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit.</li>
<li>Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.</li>
</ol>
<p><strong>4. Ulat</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Aktif memakan dedaunan bahkan pangkal batang, terutama pada malam hari.</li>
<li>Daun yang dimakan oleh ulat hanya tersisa rangka atau tulang daunya saja.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya  :</strong></p>
<ol>
<li>Membuang telur – telur kupu – kupu yang melekat pada bagian bawah daun.</li>
<li>Menggenangi tempat persemaian dengan air dalam jumlah banyak sehingga ulat akan bergerak ke atas sehingga mudah untuk dikumpulkan dan dibasmi.</li>
<li>Apabila kedua cara diatas tidak berhasil, maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan pertisida.</li>
</ol>
<p><strong>5. Tungau</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong> <strong></strong></p>
<ol>
<li>Tungau (kutu kecil) bisaanya terdapat di sebuah bawah daun untuk mengisap daun tersebut.</li>
<li>Pada daun yang terserang kutu akan timbul bercak – bercak kecil kemudian daun akan menjadi kuning lalu gugur.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya  :</strong></p>
<ol>
<li>Hama ini dapat diatasi dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu tempat dan dibakar.<span id="more-515"></span><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>6. </strong><strong>Lalat bibit (<em>Atherigona exigua, A. Oryzae</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Lalat bibit meletakkan telur pada pelepah daun padi pada senja hari.</li>
<li>Telur menetas setelah dua hari dan larva merusak titik tumbuh. Pupa berwarna kuning kecoklatan terletak di dalam tanah. Setelah keluar dari pupa selama 1 minggu menjadi imago yang siap kawin.</li>
<li>Hama ini menyerang terutama pada kondisi kelembaban udara tinggi.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya  : </strong></p>
<ol>
<li>Pengendaliannya diutamakan pada penanaman varitas yang tahan.</li>
</ol>
<p><strong>7. </strong><strong>Anjing tanah atau orong-orong (<em>Gryllotalpa hirsuta</em> atau <em>Gryllotalpa African</em></strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Hidup dibawah tanah yang lembab dengan membuat terowongan.</li>
<li>Memakan hewan-hewan kecil (predator), tetapi tingkat kerusakan tanaman lebih besar dari pada manfaatnya sebagai predator.</li>
<li>Nimfa muda memakan humus dan akar tanaman, imago betina sayapnya berkembang setengah, yang jantan dapat mengerik di senja hari.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Pengendaliannya diarahkan pada pengolahan tanah yang baik agar terowongan rusak.</li>
</ol>
<p><strong>8. </strong><strong>Uret (<em>Exopholis hypoleuca, Leucopholis rorida, Phyllophaga helleri</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Uret yang merusak tanaman padi terdiri dari spesies <em>Exopholis hypoleuca, Leucopholis rorida, Phyllophaga helleri</em></li>
<li>Perkembangan hidup ketiga uret tersebut sama yaitu dari telur – larva (uret) – pupa – imago (kumbang).</li>
<li>Kumbang hanya makan sedikit daun-daunan dan tidak begitu merusak dibanding uretnya.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Pengendalian diarahkan pada sistem bercocok tanam yang baik agar vigor tanaman baik.</li>
</ol>
<p><strong>9. </strong><strong>Ganjur (Orseolia oryzae)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Hama ganjur sejenis lalat ordo Diptera. Ngengat betina hanya kawin satu kali seumur hidupnya, bertelur antara 100-250 telur. Telur berwarna coklat kemerahan dan menetas setelah 3 hari.</li>
<li>Larva makan jaringan tanaman diantara lipatan daun padi, pertumbuhan daun padi jadi tidak normal.</li>
<li>Pucuk tanaman menjadi kering dan mudah dicabut. Masa larva selama 6 – 12 hari. Siklus hidup keseluruhan 19 – 26 hari.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Pengendalian diarahkan pada penanaman varietas yang resisten, penggenangan areal pertanaman sesudah panen agar pupanya mati.</li>
</ol>
<p><strong>10. </strong><strong>Pengorok daun atau hama putih (<em>Nymphola depunctalis</em>) dan hama putih palsu (<em>Cnaphalocrosis medinalis</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Pengorok daun atau hama putih (Nymphola depunctalis) menyerang daun padi sejak dipesemaian hingga dilapang.</li>
<li>Daun padi yang telah dikorok menjadi putih, tinggal kerangka daunnya saja.</li>
<li>Larva bersifat semi aquatik, memanfaatkan air sebagai sumber oksigen.</li>
<li>Larva membuat gulungan/kantung dari daun padi kemudian menjatuhkan diri ke air. Larva berwarna hijau, perkembangan sampai menjadi pupa 14 – 20 hari. Stadia pupa 4 – 7 hari.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Meniadakan genangan air pada pesemaian sehingga larva tidak dapat memanfaatkan air sebagai sumber oksigen.</li>
<li>Lalat <em>Tabanidae </em>dan semut <em>Solenopsis gemitata</em> merupakan musuh alami.</li>
</ol>
<p><strong>11. </strong><strong>Penggerek jagung (<em>Ostrinia furnacalis</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Menyebabkan batang jagung retak dan patah.</li>
<li>Kupu sebagai induk dari hama Ostrinia furnacalis muncul di pertanaman pada malam hari, antara pk. 20.00 sampai pk. 22.00 dan meletakkan telurnya pada jam-jam tersebut. Kupu betina meletakkan telur sebanyak 300-500 butir pada daun ketiga. Telut berwarna putih kekuningan diletakkan di bawah permukaan daun secara berkelompok. Biasanya ditutupi oleh bulu-bulu.</li>
<li>Setelah 4-5 hari telur menetas, ulat akan masuk ke dalam batang setelah berumur 7-10 hari melalui pucuknya dan sering merusak malai yang belum keluar. Selanjutnya ulat menggerek ke dalam batang dan kebanyakan pada ruas batangnya, dan setelah habis digereknya pula ruas yang disebelah bawah. Umur ulat 18-41 hari</li>
<li>Gejala serangan ulat yang masih muda, tanda daun kelihatan garis-garis putih bekas gigitan.</li>
<li>Serangan berikutnya tampak adanya lubang gerekan pada batang yang disertai adanya tepung gerek berwarna coklat. Apabila batang jagung patah, tanaman akan mati.</li>
<li>Tanaman inang selain jagung adalah <em>cantel, Panicum viride</em>, bayam dan gulma <em>Blumea lacera</em>.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Dengan cara pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan merupakan inangnya.</li>
<li>Tanaman yang terserang dipotong dan ditimbun dalam tanah atau diberikan pada hewan ternak.</li>
<li>Menghilangkan tanaman inang yang lain yang tumbuh diantara dua waktu tanam.</li>
<li>Membersihkan rumput-rumputan</li>
<li>Cara kimiawi, pengendalian dilakukan sebelum ulat masuk ke dalam batang. Beberapa jenis insektisida yang dinyatakan efektif adalah: Azodrin 15 WSC, Nogos 50 EC, Hostation 40 EC, Karvos 20 EC</li>
</ol>
<p><strong>12. </strong><strong>Kutu daun persik (<em>Myzus persicae</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Kutu daun persik memiliki alat tusuk isap, biasanya kutu ini ditemukan dipucuk dan daun muda tanaman cabai.</li>
<li>Mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga dan bagian tanaman yang lain sehingga daun jadi keriting dan kecil warnanya brlang kekuningan, layu dan akhirnya mati.</li>
<li>Melalui angin kutu ini menyebar ke areal kebun.</li>
<li>Efek dari kutu ini menyebabkan tanaman kerdil, pertumbuhan terhambat, daun mengecil.</li>
<li>Kutu ini mengeluarkan cairan manis yang dapat menutupi permukaan daun akan ditumbuhi cendawan hitam jelaga sehingga menghambat proses fotosintesis. Kutu ini juga ikut andil dalam penyebaran virus.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Pengendalian dengan cara menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai seperti jagung.</li>
<li>Pengendalian dengan kimia seperti Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC, Decis 2,5 EC, Hostation 40 EC, Orthene 75 SP.</li>
</ol>
<p><strong>13. </strong><strong>Thrips/kemreki (<em>Thrips parvispinus</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas.</li>
<li>Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapa satu hamparan.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Dengan pergiliran tanaman adalah langkah awal memutus perkembangan Thrips.</li>
<li>Memasang perangkap kertas kuning IATP (Insect Adhesive Trap Paper), dengan cara digulung dan digantung setinggi 15 Cm dari pucuk tanaman.</li>
<li>Pengendalian dengan insektisida secara bijaksana. Yang dapat dilih antara lain Agrimec 18 EC, Dicarzol 25 SP, Mesurol 50 WP, Confidor 200 SL, Pegasus 500 SC, Regent 50 SC, Curacron 500 EC, Decis 2,5 EC, Hostathion 40EC, Mesurol 50 WP. Dosis penyemprotan disesuaikan dengan label kemasan.</li>
</ol>
<p><strong>14. </strong><strong>Ulat grayak (<em>Spodoptera litura</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Daun bolong-bolong pertanda serangan ulat grayak. Kalau dibiarkan tanaman bisa gundul atau tinggal tulang daun saja.</li>
<li>Ia juga memakan buah hingga berlubang akibatnya cabe tidak laku dijual.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Dengan cara mengumpulkan telur dan ulat-ulat langsung membunuhnya.</li>
<li>Menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama dan pergiliran tanaman.</li>
<li>Pasang perangkap ngengat UGRATAS, dengan cara dimasukkan kedalam botol bekas air mineral ½ liter yang diberi lubang kecil sebagai sarana masuknya kupu jantan. Karena UGRATAS adalah zat perangsang sexual pada serangga jantan dewasa dan sangat efektif untuk dijadikan perangkap.</li>
<li>Jika terpaksa atasi serangan ulat grayak dengan Decis 2,5 EC, Curacron 500 EC, Orthene 75 Sp, Match 50 EC, Hostathion 40 EC, Penyemprotan kimia dengan cara bergantian agar tidak terjadi kekebalan pada hama.</li>
</ol>
<p><strong>15. </strong><strong>Lalat buah (<em>Dacus ferrugineus Coquillet atau Dacus </em><em>d</em></strong><strong><em>orsalis Hend</em></strong><strong>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Lalat ini menusuk pangkal buah cabe yang terlihat ada bintik hitam kecil bekas tusukan lalat buah untuk memasukkan telur.</li>
<li>Buah yang terserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk, dan berlobang.</li>
<li>Setelah telur menetas jadi larva (belatung) dan hidup di dalam buah sampai buah rontok dan membusuk larva akan keluar ke tanah dan seminggu kemudian berubah menjadi lalat muda.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Lakukan pergiliran tanaman untuk memutus rantai perkembangan lalat.</li>
<li>Kumpulkan semua buah cabai yang terserang dan musnahkan.</li>
<li>Kendalikan dengan perangkap metil eugenol yang sangat efektif dengan cara memasukkan metil eugenol dalam kapas ke botol bekas air mineral yang telah diolesi minyak goreng, atau diberi air. Gantungkan perangkap di pingir kebun.</li>
<li>Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan penyemprotan Buldok, Lannate, Tamaron, Curacron 500 EC.</li>
</ol>
<p><strong>16. </strong><strong>Belalang</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Gejala penyerangan hama belalang ini sama dengan ulat, yaitu daun menjadi rombeng.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual.</li>
<li>Tangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun biasanya belalang tidak dapat terbang dengan sayap basah.</li>
</ol>
<p><strong>17. </strong><strong>Kutu perisai</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Hama ini menyerang bagian daun.</li>
<li>Kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang daun.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Dapat diatasi menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate.</li>
</ol>
<p><strong>18. </strong><strong>Spider mite</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Spider mite mengisap cairan pada tanaman.</li>
<li>Serangan hama ini mengakibatkan daun berwarna kuning, kemudian muncul bercak-bercak pada bagian yang diisap cairannya.</li>
<li>Serangan Spider mite secara besar bisa mengakibatkan daun habis dan tanaman mati. Spider mite lebih kebal terhadap insektisida.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Disarankan menggunakan akarisida.</li>
</ol>
<p><strong>19. </strong><strong>Fungus gnats</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Adalah serangga yang berbentuk seperti nyamuk berwarna hitam.</li>
<li>Larvanya yang berbentuk seperti cacing hidup di dalam media tanam dan sering makan akar halus tanaman.</li>
<li>Fungus gnats dewasa merusak seludang bunga, dengan gejala serangan munculnya bintik-bintik hitam pada seludang bunga.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Pada fase masih menjadi larva, maka penanganannya dilakukan dengan menaburkan Nematisida seperti Furadan G ke media tanam.</li>
<li>Sedangkan pada fase dewasa, dilakukan penyemprotan insektisida.</li>
</ol>
<p><strong>20. </strong><strong>C</strong><strong>acing liang (Radhopolus Similis)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Menghisap cairan pada akar tanaman.</li>
<li>Tanaman yang terserang hama ini adalah tanaman menjadi lambat tumbuh dan kerdil serta menghasilkan bunga yang kecil.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Untuk mengatasinya digunakan Nematisida seperti Furadan G yang ditaburkan pada media tanam sesuai aturan yang tertera dalam kemasan.</li>
<li>Aplikasi pestisida pada tanaman hias sebaiknya digunakan secara bijak, mengingat dampak negatif yang bisa ditimbulkan. Karena umumnya tanaman hias diletakkan berdekatan dengan manusia, disamping juga pertimbangan akan adanya kemungkinan serangga menjadi semakin kebal dengan insektisida yang digunakan.</li>
</ol>
<p><strong>21. </strong><strong>Penyakit Rebah Kecambah (<em>Phytium spp, Sclerotium sp </em>dan<em> Rhizoctonia sp.</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Penyakit ini menyerang pada tembakau.</li>
<li>Pada umumnya menyerang di pembibitan, dengan gejala serangan pangkal bibit berlekuk seperti terjepit, busuk, berwarna coklat dan akhirnya bibit roboh.</li>
<li>Penyakit biasanya menyerang didaerah dengan suhu 240C, kelembaban di atas 85 % drainase buruk curah hujan tinggi dan pH tanah 5,2 – 8,5.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Penyakit ini dapat diatasi dengan pengaturan jarak tanam pembibitan.</li>
<li>Disinfeksi tanah sebelum penaburan benih atau penyemprotan pembibitan.</li>
<li>Pencelupan bibit sebelum tanam dengan fungisida netalaksil 3 g/liter air Mankozep (2 – 3 g/liter air), Benomil 2 – 3 g/liter air dan Propanokrab Hidroklorida 1 – 2 ml/l air.</li>
</ol>
<p><strong>22. </strong><strong>Penyakit Lanas (disebabkan </strong><strong>cendawan <em>Phytophthora nicotianae var Breda de Haan</em>)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Penyakit ini menyerang pada tembakau.</li>
<li>Tanaman yang  daunnya masih hijau mendadak terkulai layu dan akhirnya mati, pangkal batang dekat permukaan tanah busuk berwarna coklat dan apabila dibelah empulur tanaman bersekat-sekat.</li>
<li>Daunnya terkulai kemudian menguning tanaman layu dan akhirnya mati.</li>
<li>Bergejala nekrosis berwarna gelap terang (konsentris) dan setelah prosesing warnanya lebih coklat dibanding daun normal.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Melakukan sanitasi pengolahan tanah yang matang, memperbaiki drainase, penggunaan pupuk kandang yang telah masak.</li>
<li>Rotasi tanaman minimal 2 tahun dan menggunakan varietas tahan seperti Coker 48, Coker 206 NC85, DB 102, Speight G-28, Ky 317, Ky 340, Oxford 1, dan Vesta 33.</li>
<li>Dengan penyemprotan fungisida pada pangkal batang dengan menggunakan fungisida Mankozeb 2 – 3 g/liter air, Benomil 2 -3 g/liter air, Propanokarb Hidroklorida 1 – 2 ml air dan bubur bordo 1 – 2 %.</li>
</ol>
<p><strong>23. </strong><strong>Virus </strong><strong>Penyakit Kerupuk </strong><strong>(<em>Tabacco Leaf Corl Virus</em> = TLCV).</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Penyakit ini menyerang pada tembakau.</li>
<li>Daun terlihat agak berkerut, tepi daun melengkung ke atas, tulang daun bengkok, daun menebal, atau sampai daun berkerut dan sangat kasar.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Memberantas vektor lalat putih (<em>Bemisia tabaci</em>) dengan insektisida dimetoat atau imedakloprid.</li>
</ol>
<p><strong>24. </strong><strong>Kutu Daun </strong><strong>Tembakau (<em>Myzus persicae</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Kutu ini merusak tanaman tembakau.</li>
<li>Menghisap cairan daun tanaman, menyerang di pembibitan dan pertanaman, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.</li>
<li>Kutu ini menghasilkan embun madu yang menyebabkan daun menjadi lengket dan ditumbuhi cendawan berwarna hitam.</li>
<li>Kutu daun secara fisik mempengaruhi warna, aroma dan tekstur dan selanjutnya akan mengurangi mutu dan harga.</li>
<li>Secara Khemis kutu daun mengurangi kandungan alkoloid, gula, rasio gula alkoloid dan maningkatkan total nitrogen daun.</li>
<li>Kutu daun dapat menyebabkan kerugian sampai 50 %, kutu daun dapat menyebabkan kerugian 22 – 28 % pada tembakau flue-cured.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Mengurangi pemupukan N dan melakukan penyemprotan insektisida yaitu apabila lebih besar dari 10 % tanaman dijumpai koloni kutu tembakau (setiap koloni sekitar 50 ekor kutu).</li>
<li>Pestisida yang digunakan yaitu jenis imidaklorid.</li>
</ol>
<p><strong>25. </strong><strong>Penggerek buah kakao (</strong><strong><em>Conopomorpha cramerella</em>)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva.</li>
<li>Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK</li>
<li>Pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen</li>
<li>Mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam</li>
<li>Menyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus</li>
<li>Cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.</li>
</ol>
<p><strong>26. </strong><strong>Kepik penghisap buah (<em>Helopeltis spp</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah.</li>
<li>Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk.</li>
<li>Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis &lt;15 % sedangkan bila serangan &gt;15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh.</li>
<li>Dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.</li>
</ol>
<p><strong>27. </strong><strong>Penyakit busuk buah (<em>Phytophthora palmivora</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah.</li>
<li>Disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm.</li>
<li>Kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun.</li>
<li>Cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1.</li>
</ol>
<p><strong>28. </strong><strong>Antraknosa (</strong><strong>Penyebab jamur <em>C. capsici</em>)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala serangan :</strong></p>
<ol>
<li>Menyerang pada tanaman cabe</li>
<li>Adanya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair.</li>
<li>Lama–kelamaan busuk tersebut akan melebar membentuk lingkaran konsentris.</li>
<li>Dalam waktu yang tidak lama maka buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk.</li>
<li>Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan.</li>
<li>Penyebarannya tidak hanya melalui sentuhan antara tanaman saja melainkan juga bisa karena percikan air, angin, maupun melalui vektor.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendaliannya :</strong></p>
<ol>
<li>Dengan kultur teknis yang baik.</li>
<li>Dapat juga dilakukan pembersihan atau pembuangan bagian tanaman yang sudah terserang agar tidak menyebar.</li>
<li>Selain dengan cara budidaya yang baik, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif .</li>
<li>Disarankan agar menanam benih cabe yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek.</li>
<li>Secara kimia, pengendalian penyakit ini dapat disemprot dengan fungisida bersifat sistemik yang berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/515/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=515&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/01/20/macam-macam-hama-dan-penyakit-pada-tanaman-serta-cara-pengendaliannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Contoh Analisis Lingkungan Eksternal Bisnis: Perusahaan Asuransi Bumi Putera 1912</title>
		<link>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2010/12/19/contoh-analisis-lingkungan-eksternal-bisnis-perusahaan-asuransi-bumi-putera-1912/</link>
		<comments>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2010/12/19/contoh-analisis-lingkungan-eksternal-bisnis-perusahaan-asuransi-bumi-putera-1912/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Dec 2010 19:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sugiartoagribisnis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agriculture and Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[1. Profil Perusahaan Asuransi Bumi Putera 1912 Bumiputera berdiri atas prakarsa seorang guru sederhana bernama M. Ng. Dwidjosewojo &#8211; Sekretaris Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB) sekaligus Sekretaris I Pengurus Besar Budi Utomo. Dwidjosewojo menggagas pendirian perusahaan asuransi karena didorong oleh keprihatinan mendalam terhadap nasib para guru bumiputera (pribumi). Ia mencetuskan gagasannya pertama kali di Kongres [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=510&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. </strong><strong>Profil Perusahaan</strong><strong> Asuransi Bumi Putera 1912</strong></p>
<p>Bumiputera berdiri atas prakarsa seorang guru sederhana bernama M. Ng. Dwidjosewojo &#8211; Sekretaris Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB) sekaligus Sekretaris I Pengurus Besar Budi Utomo. Dwidjosewojo menggagas pendirian perusahaan asuransi karena didorong oleh keprihatinan mendalam terhadap nasib para guru bumiputera (pribumi). Ia mencetuskan gagasannya pertama kali di Kongres Budi Utomo, tahun 1910. Dan kemudian terealisasi menjadi badan usaha &#8211; sebagai salah satu keputusan Kongres pertama PGHB di Magelang, 12 Februari 1912. Sebagai pengurus, selain M. Ng. Dwidjosewojo yang bertindak sebagai Presiden Komisaris, juga ditunjuk M.K.H. Soebroto sebagai Direktur, dan M. Adimidjojo sebagai Bendahara. Ketiga orang iniah yang kemudian dikenal sebagai &#8220;tiga serangkai&#8221; pendiri Bumiputera, sekaligus peletak batu pertama industri asuransi nasional Indonesia.</p>
<p>Tidak seperti perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) &#8211; yang kepemilikannya hanya oleh pemodal tertentu; sejak awal pendiriannya Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha &#8220;mutual&#8221; atau &#8220;usaha bersama&#8221;. Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan &#8211; yang mempercayakan wakil-wakil mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk mengawasi jalannya perusahaan. Asas mutualisme ini, yang kemudian dipadukan dengan idealisme dan profesionalisme pengelolanya, merupakan kekuatan utama Bumiputera hingga hari ini.</p>
<p>Perjalanan Bumiputera yang semula bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB (O.L. Mij. PGHB) kini mencapai 9 dasawarsa. Sepanjang itu, tentu saja, tidak lepas dari pasang surut. Sejarah Bumiputera sekaligus mencatat perjalanan Bangsa Indonesia. Termasuk, misalnya, peristiwa sanering mata uang rupiah di tahun 1965 &#8211; yang memangkas asset perusahaan ini; dan bencana paling hangat &#8211; multikrisis di penghujung millenium kedua. Di luar itu, Bumiputera juga menyaksikan tumbuh, berkembang, dan tumbangnya perusahaan sejenis yang tidak sanggup menghadapi ujian zaman &#8211; mungkin karena persaingan atau badai krisis. Semua ini menjadi cermin berharga dari lingkungan yang menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk upaya mempertahankan keberlangsungan.</p>
<p>Memasuki millenium ketiga, Bumiputera yang mengkaryakan sekitar 18.000 pekerja, melindungi lebih dari 9.7 juta jiwa rakyat Indonesia, dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia; tengah berada di tengah pencapaian baru industri asuransi Indonesia. Sejumlah perusahaan asing menyerbu dan masuk menggarap pasar domestik. Mereka menjadi rekan sepermainan yang ikut meramaikan dan bersama-sama membesarkan industri yang dirintis oleh pendiri Bumiputera, 96 tahun lampau. Bagi Bumiputera, iklim kompetisi ini meniupkan semangat baru; karena makin menegaskan perlunya komitmen, kerja keras, dan profesionalisme. Namun, berbekal pengalaman panjang melayani rakyat Indonesia berasuransi hampir seabad, menjadikan Bumiputera bertekad untuk tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menjadi asuransi Bangsa Indonesia &#8211; sebagaimana visi awal pendirinya. Bumiputera ingin senantiasa berada di benak dan di hati rakyat Indonesia.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Analisis lingkungan bisnis</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ø  <strong>Linkungan eksternal</strong></p>
<ul>
<li><strong>Makro</strong></li>
</ul>
<p><strong>1. </strong><strong>Keadaan alam</strong></p>
<p>Kedaan alam Indonesia yang luas dan rawan bencana mendukung pertumbuhan persahaan asuransi ini. Banyaknya bencana akibat keganasan alam telah memakan banyak korban dan di sini suransi jiwa sangat diperlukan dalam menjamin keuangan seseorang di akhir hayatnya.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Politik dan hankam</strong></p>
<p>Pengaruh politik dan pertahanan &amp; keamana (HANKAM) terhadap perkembangan perusahaan jasa asuransi ini ini sagat jelas terasa. Di mana multikrisis di penghujung millenium kedua akibat kekecauan politik saat penghancuran rezim orde lama menyebabkan aset perusahaan kritis karena kurs rupiah melemah terhadap dollar AS.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Hukum</strong></p>
<p>Perusahaan yang awalnya bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB (O.L. Mij. PGHB) ini sudah pasti legal secara hukum dan UU yang berlaku di Indonesia. Namun dalam profilenya tidak dicantumkan SK dari dinas terkait tentang pelegalannya.</p>
<p>Dengan adanya landasan hukum yang melegalkannya maka perusahaan ini dipercaya oleh masyarakat sehingga Bumiputera 1912 bisa  mengkaryakan sekitar 18.000 pekerja, melindungi lebih dari 9,7 juta jiwa rakyat Indonesia, dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia.<span id="more-510"></span></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Perekonomian</strong></p>
<p>Keadaan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan ini. Keadaan ekonomi yang bagus mendukung terhadap kelancaran aktivitasnya. Namun keadaan ekonomi yang carut marut misalnya, peristiwa sanering mata uang rupiah di tahun 1965  yang memangkas asset perusahaan ini dan multikrisis di penghujung millenium kedua membuat kinerja perusahaan terhambat.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Pendidikan &amp; teknologi</strong></p>
<p>Pendidikan dan kaulifikasi yang dimiliki SDM Indosia sangat mempengaruhi terhadap ketersediaan tenaga profesional di bidang perasuransian ini. Melihat  jumlah karyawannya yang sampai sekitar 18.000 orang, bisa dikatakan SDM yang ada sudah bisa memenuhi kualifikasi yang diinginkan perusahaan ini.</p>
<p>Selain itu perkembangan teknologi informasi teknik (sistem operasi, bahasa pemrogaman, sistem manajemen database, network, telekomunikasi, dan lain-lain) di dalam organisasi sangat berperan dalam kemajuan perusahaan ini.</p>
<p>Teknologi informasi yang digunakan yang dapat dgunakan dalam perusahan ini misalnya:  aplikasi infrastruktur, seperti <em>order entry</em> pembukaan rekening bank, analisis penjualan dan sistem pembayaran, yang merupakan bentuk proses bisnis sesungguhnya.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Sosial budaya</strong></p>
<p>Aspek sosial budaya khususnya minat terhadap jasa asuransi berpengaruh terhadap perkembanagan perusahaan ini. Tingkat kepercayaan terhadap asuransi yang bagus telah membuat kemajuan pesat, buktinya perusahaan ini telah memiliki banyak nasabah yang dilindungi dengan jumlah lebih dari 9.7 juta jiwa rakyat Indonesia dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia; dan merupakan pencapaian baru industri asuransi Indonesia</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Kependudukan</strong></p>
<p>Aspek lingkungan kependudukan terhadap perusahaan di Indonesia sangat penting dalam hal ketersediaan SDM dan sasaran pasar dari produk perusahaan tersebut. Indonesia adalah negara yang luas dan  memiliki jumlah pendudk yang banyak sangat menunjang terhadap prospek perkembangan perusahaan dan juga perekonomian negaranya. Jumlah penduduk Indonesia yang banyak dengan penyebaran yang luas pula memungkinkan perusahaan ini untuk bisa memeilih dan mendapatkan SDM berkualitas sebagai karyawan, serta konsumen dari produknya. Maka tidak heran jika Bumiputera 1912 bisa  mengkaryakan sekitar 18.000 pekerja, melindungi lebih dari 9,7 juta jiwa rakyat Indonesia, dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia.</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Hubungan internasional</strong></p>
<p>Sistem perekonomian Indonisia yang terbuka dengan menjalin hubungan internasional dengan beberapa negara, membuat adanya kebebesan ekspor-impor antar negara serta kebebasan berinvestasi dan berbisnis. Dengan keadaan seperti itu, efeknya terhadap perusahaan asuransi ini sangat jelas, di mana sejumlah perusahaan asing menyerbu dan masuk menggarap pasar domestik. Mereka menjadi kompetitor atau jaga menjadi rekan sepermainan yang ikut meramaikan dan bersama-sama membesarkan industri yang dirintis oleh pendiri Bumiputera, 96 tahun lampau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><strong>Mikro</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Pemasok</strong></p>
<p>Peran pemasok sepertinya tidak ada dalam perusahaan asuransi Bumiputera 1912 ini. Karena perusahaan ini adalah perusahaan jasa yang tidak memebutuhkan bahan baku produk seperti perusahaan barang. Mungkin yang dibutuhkan hanyalah informan tentang tempat-tempat atau keadaan sosial masyarkat yang dibutuhkan ketika mau membuka kantor cabang di daerah baru. Informan di sini bertindak sebagai pemasok informasi.</p>
<p><strong>2. Perantara</strong></p>
<p>Perantara yang berperan dalam perusahaan asuransi Bumiputera 1912 di sini mungkin adalah konsultan keasuransian.</p>
<p><strong>3. Teknologi</strong></p>
<p>Untuk mencapai kemajuan yang maksimal, perusahaan perlu menyesuaikan sumber daya-sumber daya internal organisasi dengan kesempatan dan risiko lingkungan sehingga kecepatan dan kepekaan dalam menghadapi perubahan-perubahan dari luar sangat dibutuhkan dan teknologi informasi sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.</p>
<p>Teknologi informasi bermanfaat dalam menambah kecepatan dan kepekaan menanggapi perubahan-perubahan dari luar dimana kecepatan merespon sangat penting bagi inovasi. Seperti disebutkan dalam sebuah buku ada empat dimensi infrastruktur teknologi aspek manusia yaitu: (1) pengetahuan dan keahlian manajemen tentang teknologi informasi, (2) pengetahuan dan keahlian fungsional tentang bisnis, (3) keahlian interpersonal dan manajemen, dan (4) pengetahuan dan keahlian teknikal. Pengetahuan dan keahlian manajemen tentang teknologi berhubungan dengan dimana dan bagaimana menyebarkan teknologi informasi secara efektif dan menguntungkan untuk mencapai tujuan-tujuan strategi bisnis. Pengetahuan dan keahlian fungsional tentang bisnis meliputi tingkat pengetahuan dan variasi fungsi di dalam bisnis dan kemampuan untuk mengetahui semua lingkungan bisnis. Keahlian interpersonal dan manajemen meliputi kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan personal dalam area fungsional dan untuk bekerja di dalam suatu lingkungan kolaborasi, serta kemampuan untuk memimpin tim proyek Pengetahuan dan keahlian teknikal mengukur dalam dan luasnya keistimewaan teknologi informasi teknik (sistem operasi, bahasa pemrogaman, sistem manajemen database, network, telekomunikasi, dan lain-lain) di dalam organisasi.</p>
<p>Dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia, perusahaan asuransi Bumiputera 1912 sepertinya telah dapat mengadopsi teknologi dalam pengembangan proses dan metode kerja dalam perusahaan tersebut.</p>
<p><strong>4. Pasar</strong></p>
<p>Jumlah penduduk Indonesia yang banyak dengan penyebaran yang luas pula memungkinkan perusahaan ini untuk mendapatkan konsumen dari produknya. Penduduk negara Indonesia yang jumlahnya di atas 200.000 ribu jiwa adalah pasar yang sangat menjanjikan terhadap perusahaan asuransi ini. Maka tidak heran jika Bumiputera 1912 memiliki nasabah lebih dari 9,7 juta jiwa rakyat Indonesia dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/category/agriculture-and-business/'>Agriculture and Business</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sugiartoagribisnis.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sugiartoagribisnis.wordpress.com&amp;blog=10514742&amp;post=510&amp;subd=sugiartoagribisnis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2010/12/19/contoh-analisis-lingkungan-eksternal-bisnis-perusahaan-asuransi-bumi-putera-1912/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/19e557c69e54196edb78baff032ce971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sugiartoagribisnis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
