Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Posisi Cinta Dalam Islam

Posted by sugiartoagribisnis pada 8 April 2010

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Islam mengakui cinta. Dalil pengakuan ini dapat ditemukan dalam berbagai ayat dan hadist. Sebut saja misalnya surat al-Baqarah ayat 165:
قال عز من قائل : (وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه…) (البقرة/165)

atau pun surat al-Maidah ayat 54:

قال الله تعالى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِين)(المائدة/54 )

Sementara dalam hadits, dapat kita sebut riwayat dari Ibnu Abbas ra, oleh Imam Thabrani:

وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عيه وسلم قال: “إن لله جلساء يوم القيامة عن يمين العرش – وكلتا يدي الله يمين – على منابر من نور, وجوههم من نور, ليسوا بأنبياء ولا شهداء ولا صديقين”. قيل يا رسول الله من هم؟. قال: “هم المتحابون بجلال الله تبارك وتعالى”. رواه الطبراني ورجاله وثقوا.Untuk yang al-Quran, berhubung sedang tidak memegang al-Quran terjemah, maka nanti saja aku tuliskan artinya – mengingat keterbatasanku dalam mengartikan, dibandingkan para ulama.
Sedangkan untuk hadits di atas, mungkin secara sederhana bisa diartikan begini: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya pada hari Kiamat, Allah ‘menemani duduk’ – beberapa orang – di samping Arasy, yang keduanya itu berada di sisi kanan Allah. Tempat itu adalah di atas mimbar dari cahaya. Wajah-wajah mereka pun dari cahaya. Mereka bukanlah para Nabi, juga bukan para syuhada, dan juga bukan orang-orang yang jujur.”

Kemudian ditanyakan pada Rasulullah, “Siapakah mereka ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Keagungan Allah, Keberkahan dan Ketinggian Allah.” HR. Imam Thabrani dan rijal – para perawinya – tsiqoh dan dapat dipercaya.

Para Ulama sendiri membagi menjadi banyak bagian tentang cinta dalam Islam. Yang mungkin secara sederhana aku sendiri membaginya dalam dua saja, bila dilihat dari hubungan manusia. Yang pertama cinta dalam hubungannya dengan Allah. Dan yang kedua, cinta dalam hubungannya dengan antar manusia. (Hablun minallah wa hablun mina an-nas).

Hubungan cinta kepada Allah, dalam tulisan ini tidak akan dibahas, karena tidak terkait langsung dengan topik postingan ku sebelumnya.

Jadi intinya, Islam mengakui cinta dan tidak menafikannya. Sebagaimana sikap Islam terhadap fitrah-fitrah manusia lainnya, seperti cinta, syahwat, sifat lupa, dsb. Tapi cinta yang bagaimanakah yang dikehendaki Islam, agar tidak menimbulkan mudharat atau kerusakan? Perlu diingat, bahwa konsep utama hukum Islam adalah menjaga yang 5. Kebutuhan jiwa – nafs, kebutuhan kehormatan, kebutuhan harta, nasb / keturunan, dan kebutuhan agama.

Jadi tidak mungkin agama Islam mensyariatkan sesuatu yang justru merugikan manusia, baik dalam jiwanya, hartanya, kehormatan, nasb, maupun agama mereka. Termasuk ketika mensyariatkan hukum tentang cinta.

Islam tidak akan menyuruh kita untuk membunuh cinta. Karena itu sama saja mengabaikan fitrah kita, yang akan membuat jiwa kita tak tenang. Pun Islam juga tidak membiarkan cinta begitu saja, yang bisa jadi akan membuat cinta menjadi liar dan tak terkendali. Yang pada akhirnya dapat membawa dampak kerugian pada kita, baik dalam segi harta – pengorbanan sia-sia, keturunan – dengan zina, atau pun masa depan kita – kehormatan.

Karenanya Islam datang dengan membawa solusi akan cinta ini, yakni dengan pernikahan. Yang bukan saja membuat jiwa kita tenang karena memiliki sandaran dan pelampiasan cinta. Akan tetapi juga lebih dari itu, memperbaiki keturunan, menjaga kehormatan, dan ladang pahala yang luar biasa luasnya. Lebih lanjut silahkan dicari di mbah gugel, manfaat dan keuntungan menikah.

Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang yang belum siap menikah, baik secara mental, fisik maupun waktu? Bagaimana mengendalikan dan menjaga cinta itu?

Karena cinta senantiasa datang dan pergi. Tak bisa seseorang menolak kehadirannya, sebagaimana ia juga tak bisa memaksakan kehadirannya. Namun bukan berarti kita tidak bisa mengantisipasinya. Islam juga sudah memberikan jawaban soal ini, agar barangsiapa yang belum mampu untuk melampiaskan cintanya dalam bentuk pernikahan, ada beberapa kiat yang diperintahkan Islam. Diantaranya:
1. Menjaga pandangan (sesuaikan kebutuhan)
2. Tidak berkata mendayu-dayu
3. Menghindari khalwat (berdua-duaan, baik dalam dunia nyata maupun maya)
4. Senantiasa berdzikir kepada Allah
5. Berpuasa, dsb.

Dan pada intinya, semua itu hanyalah bersifat teknis dan real. Akan tetapi pada akhirnya tetap kembali pada niat masing-masing individu dalam interaksi mereka dengan lawan jenisnya. Apakah niatnya untuk merebut hatinya, atau benar-benar karena ada keperluan? Silahkan cek kembali niat kita sebelum berinteraksi dengan mereka..

Jadi intinya, Islam bermain tegas dan tidak abu-abu. Silahkan sejatikan cintamu dengan menikah, atau menjaganya dan bersabarlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: