Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

PROSES BELAJAR MENGAJAR DALAM PENDIDIKAN PENYULUHAN

Posted by sugiartoagribisnis pada 5 Mei 2010

Peneliti-peneliti ilmu-ilmu perilaku, setelah penelitian bertahun-tahun, telah menemukan dan mencatat ciri-ciri proses belajar-mengajar. Beberapa pertentangan pendapat di antara peneliti perilaku manusia belum sepenuhnya terselesaikan. Tapi kenyataan ini justru  membina situasi yang sehat. Kenyataan ini mendorong para peneliti untuk terus bekerja mencari kejelasan atas “seni-budaya” yang paling rumit, yakni hubungan sebab dan akibat perubahan perilaku. Misteri ini menunjuk pada kenyataan bahwa kepustakaan ilmu sosial, termasuk psikologi pendidikan, menyajikan gagasan dalam bentuk asumsi yang masih memerlukan pembuktian ilmiah. Tapi banyak juga azas-azas ini dan pelaksanaan penyuluhan.

  1. Belajar adalah proses yang tumbuh dan berkesinambungan.
  2. Belajar haruslah mempunyai maksud dan tujuan.
  3. belajar mencakup berbagai kegiatan orang dan melibatkan sebanyak mungkin inderanya.
  4. Belajar haurs menantang dan memuaskan.
  5. Belajar harus menghasilkan pengertian yang fungsional.
  6. Belajar dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial.
  7. Kemamapuan belajar antara individu berbeda-beda.
  8. Belajar adalah proses yang berjalan bertahap-tahap dan biasanya diperlukan beberapa kali peristiwa belajar selama jangka waktu tertentu sebelum sesuatu perubahan besar terjadi.
  9. Kapasitas belajar tetap tinggi sepanjang kehidupan orang dewasa yang normal.
  10. Belajar adalah proses aktif.
  11. belajar memerlukan proses aktif.
  12. teori dan praktik harus dihubungkan.
  13. belajar dan mengajar adalah suatu proses yang diniatkan, baik oleh pihak pengajar ataupun oleh pihan yang belajar.
  14. perilaku yang dibentuk dalam proses belajar dapat dicapai dengan empat langkah pokok : mengembangkan niat, menciptakan keinginan, menjamin pelaksanaan dan membina kepuasan.

Membuat Efektif Pengalaman Belajar

Ada beberapa petunjuk yang berguna untuk efektif penngalam belajar, apapun cara yang digunakan oleh seorang penyuluh. Petunjuk bukanlah sekedar pendapat tetapi merupakan asas-asas mantap berdasar penemuan-penemuan penelitian dan pengalaman yang luas. Karena itu petunjuk ini perlu diperhatikan oleh semua penyuluh dalam usaha mereka penyusun pengalam belajar.

  1. Orang yang belajar harus memiliki pengalaman yang memberinya kesempatan untuk mempraktikkan jenis perilaku yang dikehendaki oleh tujuan belajar.
  2. Pengalaman belajar mengenai sesuatu tujuan belajar haruslah memuaskan orang yang belajar ketika melaksanakannya.
  3. Reaksi yang dikehendaki dalam pengalaman belajar harus dalam batas-batas kesanggupan, baik mental maupun fisik orang yang belajar.
  4. Terdapat banyak jenis pengalaman belajar yang dapat digunakan untuk mencapai sesuatu tujuan pendidikan.
  5. Sesuatu pengalaman belajar biasanya dapat digunakan untuk mencapai lebih dari satu tujuan belajar.
  6. Pengalaman belajar adalah sesuatu kegiatan yang harus dibuat efektif oleh penyuluh.

Dengan lebih memahami ilmu pendidikan khususnya psikologi pendidikan penyuluh akan lebih mudah dalam melakukan kegiatannya khususnya agar kegiatan penyuluhan tersebut berlangsung dengan lebih efektif. Kita dapat lebih paham kepribadian responden maupun kebiasaan mereka sehingga kita dapat lebih mudah menarik simpati dan kepercayaan mereka.
Mengutip pernyataan dari Samuel Soeitoe dalam bukunya Psikologi Pendidikan halaman 49 (1982) menyebutkan bahwa “Dalam psikologi, kepribadian berarti pola tingkah laku seseorang yang unik, terintegrasi dan terorganisir. Pola tingkah laku itu meliputipandangan seseorang terhadap dunia, cita-citanya dan minatnya, apa yang disukai dan tidak disukainya, kemampuannya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, caranya memecahkan masalah yang dihadapinya, bagaimana perasaannya terhadap orang lain”. Jadi dengan mempelajari pola tingkah laku, mengamati segala hal yang diminati, disukai dan sebagainya dapat membantu penyuluh untuk lebih baik dalam memberikan materi kepada respondennya.
Melihat dari pernyataan diatas terlihat bahwa untuk dapat menarik perhatian responden maka penyuluh harus memiliki atau mencari serta mengumpulkan data tentang respondennya sebanyak-banyaknya. Seperti yang dikatakan oleh Samuel sitoe dalam buku Psikologi Pendidikan yaitu seorang guru (kita analogikan penyuluh) sebaiknya memiliki data-data yang dapat dikumpulkan dalam suatu “laporan kumulatif” yang dalam bahasa inggris disebut Cumulative Records. Data-data disini adalah data dari pelajar yang kita analogikan responden atau masyarakat yang akan kita suluh.
Dengan data-data tersebut penyuluh akan mengetahui kebiasaan responden, dimana responden pada jam-jam tertentu karena seperti penyataan Soeitoe (1982 Berbagai faktor dapat mempengaruhi manusia sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Beberpa diantara faktor-faktor itu bersangkut paut dengan sifat-sifat lingkungan, tempat pendidikan dan pengajaran berlangsung. Jadi apabila penyuluh mengetahui dimana saja respondennya berada penyuluh
dapat memprediksikan bagaimana harus bersikap saat berhadapan dengan respondennya di tempat-tempat dan waktu tertentu.
Selain itu dengan data-data yang akurat dan lengkap tentunya kita juga dapat mengetahui siapa yang paling berpengaruh pada diri responden itu sendiri maupun yang berpengaruh dalam desa atau lokasi tersebut sehingga kita dapat menentukan strategi maupun siapa yang akan diberikan penyuluhan pertama kali dan apa materi yang sebaiknya disuluhkan serta bagaimana caranya.
Untuk mengetahui apakah penyuluhan tersebut efektif maka tentu diperlukan adanya evaluasi hasil belajar. Hasil belajar dengan memahami Taksonomi Bloom khususnya ranah kognitif1 akan membantu para penyuluh untuk mengetahui sejauh mana materi yang diajarkan dapat dipahami oleh orang yang disuluh, sehingga dengan evaluasi yang bersistem dan bertahap tersebut, penyuluhan yang efektih akan lebih mudah tercapai. Lebih dikhususkan pada ranah kognitif karena ranah kognitif adalah ranah awal atau tahapan awal hasil belajar yaitu dari yang tidak tahu menjadi tahu.

Penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan informal, tetap disebut kegiatan pendidikan karena dalam kegiatan penyuluhan terjadi proses belajar-mengajar antara penyuluh dan masyarakat atau responden yang disuluh. Oleh sebab itu dalam penyuluhan sebaiknya menggunakan pendekatan psikologi pendidikan agar penyuluh dalam melaksanakan kegiatannya lebih dapat memahami respondennya dan tepat dalam mengambil langkah serta menentukan cara selanjutnya.
Dalam psikologi terdapat empat faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang yaitu: (a) Pembawaan, (b) Lingkungan, (c) Kemauan bebas atau ego, (d) takdir atau nasib. Kerjasama empat faktor ini menentukan kedudukan kepribadian seseorang. Namun dalam kegiatan penyuluhan faktor dominan yang sebaiknya dipelajari oleh penyuluh adalah faktor lingkungan dan ego.
Lingkungan dapat disebut dominan karena makhluk hidup khususnya manusia secara tidak langsung sangat tergantung dengan lingkungan sekitarnya, kepribadian dan sikap manusia pun dapat dibentuk oleh lingkungan sekitarnya, sehingga penyuluh sebaiknya memahami lingkungan sekitar masyarakat yang akan disuluh agar penyuluh dapat mengetahui dengan baik bagaimana kebudayaannya serta kebiasaan penduduk tersebut dan akhirnya penyuluh akan lebih mudah untuk mendapatkan simpati serta kepercayaan dari respondennya.
Ego juga disebut dominan karena manusia dalam mengambil keputusan tentu mempertimbangkan baik dan buruk atas keputusan tersebut, itulah sebabnya mengapa penyuluh harus memahami ego respondennya agar penyuluh dapat paham apa dan bagaimana yang disebut baik dan buruk menurut responden sehingga penyuluh dapat tepat menentukan sikap.

Selain itu penyuluh juga perlu untuk mengumpulkan data tentang responden selengkap mungkin agar penyuluh dapat mengetahui karakter serta kebiasaan responden serta dimana dan siapa saja yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap responden itu sendiri maupun dalam desa atau lokasi tersebut.

Jadi dengan faktor-faktor yang terkait dengan psikologi pendidikan tersebut dapat membantu penyuluh dalam melakukan kegiatannya dan mencapai efektivitas kegiatan penyuluhan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: