Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Pembangunan Ekonomi Kerakyatan untuk Pengembangan Sektor Pertanian

Posted by sugiartoagribisnis pada 8 Mei 2010

Sektor pertanian adalah sektor andalan yang  merupakan sektor terprnting dalam pembangunan ekonomi nasional. Itu terbukti  pada tahun 2008, sektor pertanian menyumbang 15 persen PDB Nasional. Dalam kondisi saat ini, sektor pertanian masih dipandang sebelah mata. Baik oleh kalangan birokrasi maupun investor. Gejala ini justeru terjadi di saat isu-isu ekonomi kerakyatan menjadi opini yang takhabis-habis dibahas. Lalu apa sebenarnya ekonomi kerakyatan itu? Mengembangkan sektor pertanian sebagai motor penggerak ekonomi masyarakan indonesia apa juga termasuk pada implikasi konsep itu?

Selayang pandang pertanian indonesia

Membangun masa depan adalah sebuah strategi pembangunan yang bersifat futuris. Strategi ini sepintas berlawanan dengan konsep modernisasi yang menekankan pembangunan masa kini. Dari pengalaman pembangunan di masa Orde Baru, ternyata mengandung tiga konsekuensi. Pertama meninggalkan atau melupakan tradisi yang mengandung pengetahuan dan kearifan lokal. Kedua, pembangunan yang mengarah kepada eksploitasi sumberdaya alam telah merampas hak-hak generasi bangsa dengan pengrusakan lingkungan hidup, keseimbangan ekologi dan kelestarian sumberdaya kekayaan bangsa. Ketiga meninggalkan warisan utang yang ditanggung oleh generasi masa depan.

Sekarang saatnya kita melihat kembali, nasib pertanian indonesia. Secara sektoral, di beberapa daerah tertinggal di indonesia, termasuk madura, mayoritas  penduduknya adalah petani. Itu berarti, hasil pertanian yang mereka dapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan primer ( logika sederhana) atau dalam tinjauan kebijakan, political will pemerintah tidak berpihak pada mereka . apabila tidak ada upaya keberpihakan dalam bentuk sistem kebijakan yang diambil untuk sektor pertanian, maka ekonomi kerakyatan hanyalah omong kosong. lalu ada apa, antara konsep ekonomi kerakyatan dengan pengembangan sektor pertanian.

Korelasi ekonomi kerakyatan

Ekonomi Kerakyatan adalah sistem ekonomi Pancasila (demokrasi ekonomi) seperti yang tercantum secara eksplisit dalam pasal 33 UUD 1945. Sistem ekonomi Pancasila juga dikenal dengan istilah lain dengan sistem ekonomi koperasi. Inti dan sistem ini adalah membangun kesejahteraan rakyat dan pemanfaatan kekayaan yang dimiliki Negara bagi kepentingan rakyat Indonesia. Pasal 33 UUD 1945 dirumuskan oleh Muhammad Hatta, yang kemudian dikenal dengan julukan Bapak Ekonomi Rakyat dan Bapak Koperasi Indonesia.

[1] Istilah ekonomi kerakyatan dimunculkan sebagai pengembangan dan istilah ekonomi rakyat, yang pada prakteknya hanya didominasi dan menguntungkan para konglomerat. dan sebaliknya

kepentingan rakyat banyak terabaikan.

[2] Kata kerakyatan yang dimaksud seperti yang digariskan oleh UUD 1945. yaitu kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, yang pada kenyataannya mayoritas mereka hidup dalam garis kemiskinan. Untuk mewujudkan demokrasi ekonomi seperti yang tertuang dalam pasal 33 UUD 1945, adalah dengan mengutamakan kemakmuran masyarakat dari kemakmuran perorangan atau kelompok tertentu. Sebab, jika kemakmuran perorangan yang justru diutamakan, maka tampuk produksi akan jatuh ke tangan individu dan elite tertentu yang memiliki kekuasaan, kekuataan, dan jika kondisi ini benar-benar terjadi, maka rakyatlah yang menanggung kesengsaraan dan penindasan di bidang ekonomi. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya kondisi tersebut, bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh negara, sebagai penyelenggara kemakmuran bagi rakyat.Implikasi positifikasi sektor pertanian dalam pengembangan ekonomi Sebagaimana telah diakui bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah umat buruh tani, yang persentasenya hampir mencapai 80 persen.  Jika pada pertengahan tahun 1998 Biro Pusat Statistik (BPS) menerbitkan data penduduk miskin sebanyak 79,4 juta atau sekitar 39,01% dan total penduduk Indonesia.

Pada saat ini, dimana krisis ekonomi terus berlangsung, dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus berjalan, baik diperusahaan milik negara (BUMN), maka dapat dipastikan jumlah penduduk miskin mencapai lebih dan 100 juta dari total penduduk Indonesia, dan itu berarti lebih dari setengah jumlah penduduk.[4] Dan total penduduk miskin tersebut, dapat dipastikan mayoritas dan mereka adalah kaum tani. Oleh karena itu segala upaya apaun yang dilakukan oleh pemenintah di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat, akan turut dirasakan oleh para petani di penjuru tanah air, sebagai mayoritas penduduk negara IndonesiaKini, jelas sudah bahwa hal yang harus segera dilakukan adalah mengaplikasikan uraian diatas ke dalam sektor pertanian. Konsep ekonomi kerakyatan memang sedikit menuai perdebatan soal subtansi dalam aplikasi yang sesungguhnya.

Terlepas dari perdebatan yang ada, yang bisa kita tarik sebagai benang merahnya, ekonomi kerakyatan adalah sebuah mazhab yang memberikan fokus dan pembelaan terhadap kepentingan ekonomi rakyat banyak, terutama rakyat kelas menengah ke bawah. Ada keberpihakan yang sangat jelas terhadap kepentingan mereka. Sehingga, pada tataran aplikasinya, konsep ekonomi kerakyatan ini akan diterjemahkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang pro-poor-oriented, seperti pemberian akses permodalan kepada UKM serta subsidi untuk petani dan nelayan miskin.

Dengan paradigma yang seperti itu maka wajarlah jika ekonomi kerakyatan muncul menjadi jargon yang sangat populer di tengah masyarakat. Apalagi, dalam situasi krisis global seperti sekarang ini, kehadiran jargon tersebut memberikan secercah harapan perbaikan di masa depan. Namun, yang kemudian menjadi pertanyaan, bagaimana instrumen riil yang digunakan untuk mengembangkan konsep ekonomi kerakyatan itu? Bagaimanapun juga, konsep tersebut tidak bisa mengandalkan pendekatan yang bersifat emosional semata, melainkan harus didukung oleh landasan filosofis dan instrumen yang jelas. Jika dimulai dari sektor prtanian, tentu itu lebih baik.

2 Tanggapan to “Pembangunan Ekonomi Kerakyatan untuk Pengembangan Sektor Pertanian”

  1. tric06 said

    artikelnya bagus..sip
    (http://tric06.student.ipb.ac.id/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: