Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

ESQ (Emotional and Spiritual Quotient)

Posted by sugiartoagribisnis pada 19 Juni 2010

1. IQ vs EQ

Keberadaan EQ (Kecerdasan Emosi) yang mampu mengalirkan sikap-sikap integritas, komitmen, visi serta kemandirian, saat ini memang mutlak dibutuhkan. Eksistensi EQ yang dulu belum mampu dilihat oleh kebanyakan orang, kini dinilai patut disejajarkan bahkan berada di atas IQ (Kecerdasan Otak). Para eksekutif, manajer dan wiraswastawan berhasil menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka menggantungkan diri pada dorongan suara hati sebagai sumber kecerdasan emosi dalam hampir semua keputusan dan interaksi yang diambilnya.

Sistem pendidikan kita selama ini, terlalu menekankan pentingnya nilai akademik atau kecerdasan otak (IQ) saja, jarang dijumpai pendidikan tentang kecerdasan emosi (EQ) yang mengajarkan : intregitas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau sinergi.

Hasil survey nasional di Amerika Serikat, apa yang diinginkan oleh para pemberi kerja adalah “ketrampilan teknik tidak seberapa penting bila dibandingkan kemampuan adaptasi (belajar) dalam pekerjaan yang bersangkutan”, diantaranya : kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara lisan, adaptasi, kreativitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, keparcayaan diri, motivasi, kerjasama tim serta keinginan memberi kontribusi terhadap perusahaan.

Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja seseorang dalam pekerjaannya atau seberapa tinggi sukses yang mampu dicapai.

2. .EQ vs SQ

Ketakjuban akan EQ (Kecerdasan Emosi) tidak terlalu lama berlangsung, karena muncul pendapat baru bahwa EQ dan IQ hanya berorientasi pada materi semata-mata.Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan temuan ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Johar dan Ian Marshall yang didefinisikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia.

Dalam ESQ (Emotional and Spiritual Quotient), kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ dan SQ secara komprehensif.

3. Teori dan Pelatihan

Melatih kebiasaan kognitif (misal : mengoperasikan komputer, menghitung, menghafal daftar dan sederetan angka) yang berasal dari otak kiri, lebih mudah dibanding pelatihan yang membuat orang menjadi konsisten, memiliki komitmen, berintegritas tinggi, berpikiran terbuka, bersikap adil, bijaksana atau kreatif.

Pada suatu perusahaan, dalam waktu tertentu diadakan suatu pelatihan (training) yang dibagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu training pemahaman produk (kognitif) dan training pembangunan motivasi (pembentukan karakter sikap dan mental). Ternyata manfaat pelatihan pembentukan karakter itu walaupun sangat pendek tetapi sangat dibutuhkan dalam mencapai keberhasilan, dibanding pelatihan kognitif.

Ilmu Pembentukan Sikap dan Mental (EQ) apabila hanya sebatas pemahaman dari teori, akan mudah lupa, dan akan berakibat pada kegagalan. Sedangkan apabila pemahanan melalui suatu pelatihan dan kemudian dijadikan suatu kebiasaan, kemudian melekat pada karakter seseorang, akan mudah mencapai keberhasilan.

Asmaul Husna (99 sifat Allah SWT) yang terdapat dalam Al Qur’an adalah sumber dari segala suara hati manusia (self conscience), sifat yang sering tiba-tiba muncul dan dirasakan. Bisa berupa larangan, peringatan, atau sebaliknya berupa sebuah keinginan bahkan bimbingan. Dapat berupa penyesalan apabila dorongan itu terlewatkan.

Untuk lebih menyederhanakan, inilah 7 spiritual core values 9 nilai dsar ESQ) yang diambil dari Asmaul Husna yang harus dijunjung tinggi sebagai bentuk pengabdian manusia kepada sifat Allah yang terletak pada pusat orbit (Got Spot) yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin, kerjasama, adil, visioner dan peduli. Ketujuh sifat inilah yang harus dijadikan values atau nilai, di mana akan memberikan meaning atau nilai bagi yang melaksanakannya, disamping nilai-nilai lainnya yang berjumlah 99 sebagai sumber pengabdian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: