Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Gizi Buruk di Tengah Limpah Ruah SDA Indonesia : Sebuah Ironi Dalam Negeri

Posted by sugiartoagribisnis pada 11 Desember 2010

Gambaran gizi buruk di Indonesia

Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Gizi buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang buruk. Hal ini bisa diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis makanan yang tidak tepat ataupun karena sebab lain seperti adanya penyakit infeksi yang menyebabkan kurang terserapnya nutrisi dari makanan. Secara klinis gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan nutrisi mikro seperti vitamin yang tidak mencukupi ataupun berlebih sehingga menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.

Gizi buruk berbeda dengan kelaparan. Orang yang menderita kelaparan biasanya karena tidak mendapat cukup makanan dan kelaparan yang diderita dalam jangka panjang dapat menuju ke arah gizi buruk. Walaupun demikian, orang yang banyak makan tanpa disadari juga bisa menderita gizi buruk apabila mereka tidak makan makanan yang mengandung nutrisi, vitamin dan mineral secara mencukupi. Jadi gizi buruk sebenarnya dapat dialami oleh siapa saja, tanpa mengenal struktur sosial dan faktor ekonomi.

Orang yang menderita gizi buruk akan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh atau untuk menjaga kesehatannya. Seseorang dapat terkena gizi buruk dalam jangka panjang ataupun pendek dengan kondisi yang ringan ataupun berat. Gizi buruk dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Orang yang menderita gizi buruk akan mudah untuk terkena penyakit atau bahkan meninggal dunia akibat efek sampingnya. Anak-anak yang menderita gizi buruk juga akan terganggu pertumbuhannya, biasanya mereka tidak tumbuh seperti seharusnya (kerdil) dengan berat badan di bawah normal. Gizi buruk tidak hanya meningkatkan jumlah sakit dan kematian tetapi juga menurunkan produktivitas kerja, menghambat pertumbuhan sel-sel otak yang membuat kebodohan dan keterbelakangan

Gizi buruk (alnultrisi) telah mengancam kesehatan dan kesejahteraan dan masa depan banyak anak-anak di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Indonesia oleh Global Hunger Index (GHI) masuk dalam kategori ‘serius’ yang berada di bawah level ‘mengkhawatirkan’ dan ‘sangat mengkhawatirkan’. GHI membuat lima kategori untuk negara yang masih mengalami masalah kelaparan dan gizi buruk. Mulai dari yang terjelek yakni ‘sangat mengkhawatirkan’,’mengkhawatir kan’,’serius’,’moderat’ dan ‘rendah’.

Menurut data nasional, terdapat 18,4 persen anak-anak di bawah usia lima tahun yang mengalami kekurangan berat badan dengan angka pertumbuhan di bawah normal sebesar 36,8 persen yang merupakan indikator adanya kekurangan nutrisi yang kronis.
Lebih rincinya dibeberapa propinsi masih ada kasus gizi buruk pada balita misalnya, Aceh dengan angka 10,7 persen, NTT (9,4 persen), NTB (8,1 persen), Sumatera Utara (8,4 persen), Sulawesi Barat (10 persen), Sulawesi Tengah (8,9 persen), dan Maluku (9,3 persen). Ada juga provinsi yang kasus gizi buruk maupun kurang gizinya cukup tinggi. Yakni, NTT, NTB, Sulteng, dan Maluku.

Sungguh sangat miris mendengar kenyataan tersebut. Mengingat negara kita Indonesia adalah negara kaya dengan hasil yang alamnya melimpah. Indonesia adalah negara agraris, tapi lebih dari 37 persen anak Indonesia usia 0-5 tahun (balita) kekurangan gizi yang ditandai dengan bentuk fisik stunted atau tinggi badan tidak sesuai dengan umur.

Bahkan lantunan tembang duka terus mengiang di telinga, ketika baru-baru ini satu lagi balita berumur 9 bulan dari suatu desa di NTT  terpaksa harus dibawa ke TFC untuk ditangani dan dipulihkan kondisi kesehatannya sehingga terhindar dari kematian.

Trenyuh hati ini ketika ada lagi beberapa bayi yang terpaksa belum memperoleh perlakuan dan kesempatan yang baik untuk tumbuh optimal menjadi manusia Indonesia yang siap menghadapi globalisasi karena menderita gizi buruk.

Ada banyak penyebab antara lain karena pola asuh, terbatasnya asupan gizi karena kurangnya ketersediaan  pangan, atau juga karena permasalahan ekonomi orang tua terutama sang ibu yang harus merantau menjadi TKW dan tidak dapat memberikan ASI Eksklusive bayinya demi memenuhi kebutuhan hidup minimal yang ketika  berada dikampung halamannya tidak dapat terpenuhi.

Ironis memang diatas hamparan “mangan, marmer,emas” yang saat ini gencar ditambang, diantara kenangan tentang rimbunnya wangi pohon  kayu cendana , diantara lebatnya buah apel, diantara ribuan ternak sapi lepas , diantara hutan Lontar dan Gewang, dan sebentar lagi jeruk keprok yang sedang merana dan hampir punah terkena hama penyakit  ternyata masih ada generasi penerus yang siap secara berkelanjutan untuk jatuh ke jurang gizi buruk yang hanya tinggal satu langkah menuju kematian.

 

Apa yang salah dengan semua ini ?

Ketika Negara meletakkan Dasar Negara berupa Pancasila dengan UUD 45 , dan diwujudkan melalui tangan pemerintah sebagai penyelengara Negara, maka diharapkan sila ke-5 Pancasila dapat segera terwujud yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dan penjabarannya salah satunya di pasal 34 UUD 45.

Namun dalam kenyataan 65 tahun bernegara, kita masih terjebak dalam kemiskinan yang tak berujung dan salah satunya ditandai dengan masih terjadinya kematian balita akibat gizi buruk yang tidak tertangani dengan baik akibat terbatasnya dana kesehatan yang ada.

Tidak perlu kita menggunakan angka statistik sebagai dasar menentukan Kejadian Luar Biasa (KLB), karena sebenarnya atas dasar kemanusiaan, maka satu bayipun  yang meninggal akibat gizi buruk seharusnya sudah mampu mengusik nurani kita terutama para pejabat publik untuk  menggugat dan melihat kembali  sistem layanan publik di berbagai bidang baik  pertanian, kehutanan, sosial, kesehatan dll.

 

Apa sebenarnya yang salah  dengan layanan publik kita ?

Matinya seorang balita karena gizi buruk sebenarnya  mencerminkan masih lemahnya  layanan publik di lintas sektor, tidak hanya di bidang  kesehatan, tetapi hal ini merupakan resultate atau gabungan  dari lemahnya layanan di berbagai sektor.

Artinya kalau kita melihat kembali manajemen pembangunan nasional yang berwajah sektoral, seharusnya kondisi ini menjadikan pemerintah berefleksi dan  mempertanyakan kembali  apakah pilihan strategi dengan pendekatan sektoral ampuh untuk mengatasi ke miskinan ?

Selain itu, alokasi dana baik dalam APBN maupun APBD kebanyakan belum menceminkan anggaran yang dialokasikan dengan mengutamakan pada kepentingan rakyat, namun justru kue pembangunan yang ada lebih banyak dinikmati kelas menengah ke atas dengan berbagai trik dan modus operandi mengkadali rakyat yang menjadi customer atau pelanggannya.

Mari kita lihat, mobil dinas yang jumlahnya berjibun namun dengan layanan yang masih minim karena lebih banyak berada di kota  menunjukkan rendahnya empati para pelayan publik yang biasa disapa pejabat dengan rakyat yang dilayaninya, belum lagi banyaknya dana untuk studi banding dan kunjungan kerja yang ternyata tak banyak mengubah keadaan ketika mereka kembali.

Masih dominannya presentase anggaran dana pembangunan untuk membiayai operasional menyebabkan tidak tersedia dana yang cukup bagi pembangunan, belum lagi berbagai kepentingan yang masuk untuk memperoleh proyek, penggelembungan/mark up proyek dan berbagai trik lainnya dalam upaya memperkaya diri.

 

Balita gizi buruk tanda matinya nurani rakyat

Peristiwa meninggalnya balita karena gizi buruk sering hanya dipandang sebelah mata karena dianggap kejadian biasa dan tidak aneh. Namun jika kita cermati lebih dalam dan mendasar, adanya balita gizi buruk menjadi tanda peringatan dini adanya layanan publik  yang salah yang didelivery/disampaikan pada masyarakat.

Bukan saatnya lagi kita mencari kambing hitam, juga bukan saatnya membiarkan SAPI (Saya Pikir) berkeliaran dengan wacana yang begitu bagus dan cerdas namun sayangnya tak ada wujudnya, bukan saatnya  lagi kelompok BABI (Banyak Bicara) menjual mimpi kosong disiang bolong dan menina-bobokkan masyarakat dengan janji politik, sinetron dan bualan yang menyebalkan.

Sudah saatnya hati nurani para pelayan publik menjerit ketika ada balita gizi buruk diwilayahnya dan menjadikan masalah ini sebagai prioritas penanganan tanpa harus melihat jumlah penderitanya.

Harus dicari terobosan dan strategi baru agar permasalahan ini tidak berulang, misal salah satu contohnya adalah bagaimana adanya kesadaran bersama terutama dari para pejabat publik untuk menyelamatkan lingkungan dengan gerakan menanam pohon, menunda penambangan (emas, mangan, marmer dll) yang tidak ada amdalnya atau yang tidak terjamin kelestarian lingkungan dan hanya menguntungkan pengusaha saja.

Bagaimana peran mahasiswa dalam pengentasan gizi buruk?

Sebagai bagian dari masyarakat intelektual, mahasiswa harus bisa ikut berkonstribusi untuk mensolusikan ironi ini. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat Perguruan Tinggi, dimana salah satu tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya. Jadi secara moral mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk mencari dan membela kebenaran ilmiah kemudian mempraksiskannya kepada masyarakat.

Setidaknya ada 2 peran yang bisa diambil mahasiswa dalam upaya pengentasan gizi buruk. Pertama adalah peran langsung. Peran langsung yang saya maksud di sini adalah peran yang bisa diberikan mahasiswa sesuai dengan watak keilmuannya sendiri, yakni berperan mensolusikan masalah gizi buruk dengan pendekatan keilmuan atau keprofesiannya sendiri.

Solusi langsung ini bisa sangat beragam tergantung pada keilmuan dan keprofesiannya dari mahasiswa itu sendiri. Misalnya seorang mahasiswa farmasi bisa saja memformulasikan sebuah obat yang mengandung nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, atau mahasiswa biologi bisa saja meneliti dan mencari tanaman alternatif yang lebih murah yang juga dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Lain lagi dengan mahasiswa kedokteran atau keperawatan, mungkin saja mereka bisa melakukan penyuluhan ke daerah-daerah yang terpetakan sebagai daerah dengan masyarakat bergizi buruk, tentang pentingnya makanan sehat. Mahasiswa teknik juga bisa berkontribusi lain, bisa saja mereka membuat sebuat alat yang dapat menimbang atau menakar kandungan gizi pada makanan yang telah tersajikan sehingga ketika seseorang akan memakannya tahu sudah seberapa banyak nutrisi yang Ia dapatkan dari makanan itu. Hal-hal tersebut sangat mungkin dilakukan, kuncinya hanya kesadaran atas peran.

Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk pengurangan gizi buruk adalah rayap. Ini merupakan salah satu bentuk peran langsung mahasiswa dalam pengentasan masalah gizi buruk.

Mungkin bagi sebagian besar orang rayap dianggap sebagai musuh manusia hal ini karena rayap hanya dianggap sebagai hewan perusak terutama perabot-perabot yang terbuat dari kayu. Namun tahukah masyarakat bahwa sebenarnya rayap sangat bermanfaat bagi manusia terutama sebagai sumber protein. Rayap yang selama ini hanya dianggap sebagai hewan perusak ternyata mempunyai kandungan gizi yang sangat tinggi. Kandungan gizi rayap terutama rayap yang sudah dikeringkan ternyata mempunyai nilai gizi terutama nilai protein yang sangat tinggi dibandingkan dengan beberapa jenis serangga lainya.

Mungkin sebagian besar orang masih menyangsikan kebenaran data ini namun inilah realitanya bahwa rayap merupakan sumber protein yang murah, dan mudah didapatkan oleh masyarakat karena rayap banyak tersedia di lingkungan kita. Dengan potensi yang demikian besar ini seharusnya rayap dapat digunakan sebagai alternatif makanan sebagai pengentas gizi buruk yang akhir-akhir ini banyak melanda masyarakat di Negara ini.

Meskipun demikian, masyarakat kebanyakan masih berpikir pemanfaatan macam apa yang dapat dilakukan sehingga rayap dapat dikonsumsi dan dapat memberi tambah pada nilai gizi masyarakat karena tidak mugkin rayap dikonsumsi secara langsung karena, sebagian masyarakat masih merasa jijik dengan binatang ini. Sehingga ada solusi yang menarik kalau sebaiknya rayap dibuat menjadi aneka panganan seperti rempeyek, krupuk hingga permen.

Peran kedua adalah peran tidak langsung. Disebut tidak langsung karena memang hal yang akan disolusikannya bukan hilir dari masalah gizi buruk, layaknya peran pertama. Peran ini dapat dilakukan oleh mahasiswa karena implikasi dari posisinya dalam piramida sosial, yakni middle class.Dari posisinya tersebut mahasiswa memiliki fungsi kontrol sosial atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Maka dalam hal ini mahasiswa dapat berperan sebagai penyampai aspirasi masyarakat dan juga pengingat pemerintah atas tanggung jawabnya untuk mensejahterakan masyarakat, sesuai dengan amanah konstitusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: