Sugiarto's Blog

Berbagi Informasi dan Pengetahuan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Archive for Desember, 2012

Kebijakan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Petani Dan Nelayan

Posted by sugiartoagribisnis pada 1 Desember 2012

BAB I
PENDAHULUAN

 1.1. Latar Belakang

Menyongsong era globalisasi dan perdagangan bebas dunia yang tidak akan lama lagi diberlakukan untuk tingkat negara-negara di kawasan Asia Tenggara (AFTA) pada tahun 2003 dan untuk negara-negara di kawasan Asia Pasifik (APEC) pada tahun 2010, serta dunia (WTO) pada tahun 2020, Indonesia sebagai salah satu negara yang berdaulat harus memiliki kemampuan bersaing dan berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.

Globalisasi dalam arti liberalisasi perdagangan internasional menjanjikan berbagai dampak positif dalam mengatasi kesenjangan antara produksi dan konsumsi dunia, meningkatkan efisiensi ekonomi berdasarkan keunggulan komparatif, meredam variabilitas pasokan pangan, dan produksi global lebih ekonomis. Namun kenyataannya tidak selalu seperti yang diharapkan karena struktur pasar dunia yang tidak kompetitif dan proteksi justru dilakukan oleh negara-negara yang kuat (Widodo, 2001).

Pada era perdagangan bebas konsumen yang memiliki beragam kesukaan dan keingginan terhadap karasteristik produk yang harus selalu ditepati oleh produsen. Dengan demikian, maka komoditas yang akan dikembangkan diupayakan selalu mempertimbangkan aspek permintaannya. Indonesia tentunya diharapkan dapat mempertimbangkan perimintaan yang ersifat pasar lokal atau domestik (termasuk berkaitan dengan pengembangan subtitusi impor) dan pasar regional serta internasional. Sebagai negara yang membangun perekonomiannya bertumpu pada sektor pertanian, maka usaha yang dapat dilakukan dalam situasi perdagangan bebas tersebut adalah meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif bagi hasil-hasil pertanian dalam arti luas.

Sebagaimana telah menjadi kesepakatan global, bahwa salah satu persyaratan yang harus dipenuhi bagi komoditi tertentu dalam perdagangan saat ini dan masa mendatang adalah kecenderungan untuk mengkonsumsi barang yang ramah lingkungan dengan kewajiban mencantumkan dalam label produk (eco-labeling). Pencantuman label ramah lingkungan pada produk-produk yang diperdagangkan sebenarnya merupakan pengejawantahan dari etika bisnis karena pola interaksi binsnis akan mempengaruhi lingkungan hidup (Keraf, 1998 :31-53).

 

Selengkapnya dapat diunduh di sini.

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »

Pola Strategi dan Kebijakan dalam Membangun Keunggulan Kompetitif Agribisnis Jawa Timur

Posted by sugiartoagribisnis pada 1 Desember 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Era globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan oleh hampir seluruh negara di dunia. Dalam era ini, batas antar negara dalam ekonomi menjadi semakin nisbi sehingga dikotomi antara pasar domestik dan pasar dunia menjadi semakin tidak relevan. Globalisasi ekonomi ini mau tidak mau mendorong persaingan usaha yang semakin ketat. Ketatnya persaingan usaha ini menuntut setiap negara untuk dapat meningkatkan daya saing sebagai modal dasar dalam menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Salah satu pendekatan utama dalam mengatasi tantangan era globalisasi yang semakin dinamis adalah peningkatan daya saing di tingkat daerah sebagai dasar pertumbuhan nasional.

Daya saing daerah mempunyai arti yang sama dengan daya saing nasional. Suatu daerah yang mampu bersaing dengan daerah lain dalam memproduksi dan memasarkan barang dan jasanya disebut mempunyai daya saing tinggi. Sayangnya, peningkatan daya saing lebih mudah dikatakan daripada diwujudkan. Kebijakan domestik seringkali menjadi pisau bermata dua yang jika dimanfaatkan secara benar dapat meningkatkan daya saing. Sebaliknya, jika disalahgunakan akan dapat menghasilkan akibat yang bertolakbelakang.

Kebijakan otonomi daerah termasuk salah satu contoh jenis kebijakan domestik yang pelaksanaan seringkali masih dipandang dan dikelola dengan cara yang salah. Wewenang besar yang diperoleh daerah tidak jarang menyebabkan arogansi yang menghambat terjadinya koordinasi antar daerah, baik secara vertikal maupun horizontal, dalam rangka efisiensi penyediaan sarana publik. Padahal, implementasi kebijakan otonomi daerah berangkat dari suatu keyakinan bahwa kebijakan tersebut dapat memberikan ruang kebebasan kepada daerah untuk menyusun sendiri program-program kerja dan anggarannya sesuai dengan potensi, kebutuhan, dan kemampuan daerah. Dengan kewenangan yang dimiliki akan mendorong daerah untuk dapat memanfaatkan potensi masing-masing daerah yang tersedia secara optimal

Pembangunan sektor agribisnis tidak terlepas dari masalah dilematis di atas. Hal ini dikarenakan sektor agribisnis merupakan salah satu potensi besar yang dimiliki setiap daerah sehingga pengembangan sektor ini dijadikan sebagai upaya dalam pengembangan perekonomian daerah yang paling efektif. Namun, dampak negatif otonomi daerah dapat menghambat pengembangan sektor agribisnis bahkan dengan tingkat komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lain.

Dengan posisi sektor agribisnis yang dijadikan sebagai sektor unggulan (leading sector) dalam pertumbuhan daerah maka setiap daerah ditantang untuk dapat berbenah diri menghadapi era persaingan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi juga bersifat global dengan memberi lingkungan paling kondusif bagi pengembangan agribisnis. Oleh karena itu, setiap daerah memiliki strategi-strategi untuk membangun keunggulan kompetitif di sektor agribisnis untuk unggul di tingkat regional maupun internasional guna menunjukkan usaha yang paling kompetitif, yang dikenal dengan istilah dayasaing daerah.

Dalam membangun keunggulan kompetitif pada sektor agribisnis tentunya tidak terlepas dari kondisi ekonomi baik di level domestik, regional maupun global. Saat ini kondisi ekonomi global dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit yaitu krisis finansial yang melanda sektor perbankan kemudian menjalar pada capital market dan pada akhirnya berdampak pada sektor riil. Adanya krisis finansial yang melanda perekonomian dunia sudah tentu menuntut suatu negara menyusun kembali pemikiran, strategi dan implementasi. Krisis finansial global ini mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara-negara berada pada zona negatif. Baca entri selengkapnya »

Posted in Agriculture and Business | Leave a Comment »